MEMAHAMI NILAI-NILAI DAN NORMA-NORMAYANG BERLAKU DI MASYARAKAT


Masayarakat merupakan lingkungan pendidikan non formal yang tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan pendidikan formal, sebab di dalam masyarakat anak lebih leluasa dan lebih banyak waktu untuk berkembang. Sekolah sebagai pusat pendidikan, lahir, tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan perangkat masyarakat. Pada sisi lain keberadaan sekolah sebagai lembaga sosial yang terletak di tengah-tengah masyarakat memungkinkan pula sekolah menjadi lingkungan pendidikan dengan ciri khas masyarakat belajar di dalamnya. Dalam hal ini pendidikan di sekolah harus mengenal nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pedoman  hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara yang baik.A. Setiap Orang Terlahir dalam Keadaan Baik. Bayi lahir di dunia pada dasarnya dalam keadaan baik dan tanpa dosa. Walaupun dia terlahir dari seorang ibu yang berperilaku tidak baik. Manusia terlahir dibekali oleh Tuhan dengan segala potensi kebaikan. Tidak semua orang menyadari bahwa sebenarnya dirinya memiliki potensi. Namun seiring dengan pertumbuhannya, dia bergaul dengan lingkungan. Lingkungan inilah yang ikut mempengaruhi kepribadian, kecerdasan dan segala macam aspek yang dimiliki setiap individu.
B. Pengaruh Lingkungan terhadap Perilaku Manusia. Konsep behaviouristik  memandang bahwa tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya. Individu bisa menjadi baik atau tidak ditentukan lingkungannya. Seiring dengan perkembangannya dan sejalan dengan waktu, manusia berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan soaial maupun non sosial. Seorang remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosialnya. Bila lingkungan sosialnya baik, maka ada kecenderungan remaja tersebut baik, demikian pula sebaliknya. Maka tidak heran apabila ada anak seorang ahli agama, namun anaknya bertingkah laku menyimpang dari ajaran agamanya. C. Norma-Norma yang Berlaku di Masyarakat.Setiap individu dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi dengan individu atau kelompok  lainnya. Interaksi sosial mereka juga senantiasa didasari oleh adat dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya interaksi sosial di dalam lingkungan keluarga , lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Masyarakat yang menginginkan hidup aman, tenteram, dan damai tanpa gangguan, maka baginya perlu mempunyai pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing. Tata peraturan  itu lazim disebut kaidah ( berasal dari bahasa Arab ) atau norma ( berasal dari bahasa latin ) atau ukuran-ukuran.Norma-norma itu mempunyai dua macam isi dan menurut isinya berwujud : perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud  perintah dan larangan menurut isi norma tersebut ? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena kibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipanang tidak baik. Ada bermacam-macam norma yang erlaku di masyarakat. Macam-macam norma yang telah dikenal luas ada empat, yaitu : norma agama, kesusilaan, kesopanan dan hokum.1. Norma Agama Norma agama ialah peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, larangan-larangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “ siksa” kelak di akherat. Contoh norma agama ini di antaranya  ialah larangan untuk membunuh dan mencuri, perintah untuk beribadah dan berbuat baik terhadap sesama.2. Norma KesusilaanNorma kesusilaan ialah peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Contoh norma ini  di antaranya ialah larangan mencuri milik orang lain, berlaku jujur, atau berbuat baik terhadap sesame manusia.3. Norma KesopananNorma kesopanan ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormatmenghormati. Akibat dari pelangaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.Hakekat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat ( regional ) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma ini di antaranya adalah : mendahulukan wanita ketika di dalam kereta api, bus dan lain-lain, terutama wanita yang tua, hamil atau membawa bayi, tidak makan sambil berbicara, tidak meludah di lantai atau di sembarang tempa, orang muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan lain-lain.4. Norma HukumNorma hukum ialah peraturan-peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan Negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, kebiasaan, doktrin dan agama.Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa, sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hukum bersifat heteronom artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu kekuasaan negara. Contoh norma ini di antaranta ialah hukum untuk tidak menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena membunuh dengan hukuman setinggi-tinginya 15 tahun, larangan mengganggu ketertiban umum, dan lain-lain. Hukum biasanya dituangkan dalam bentuk peraturan yang tertulis, atau disebut juga perundang-undangan. Perundang-undangan baik yang sifatnya nasional maupun peraturan daerah dibuat oleh lembaga formal yang diberi kewenangan untuk membuatnya. Oleh karena itu, norma hokum sangat mengikat bagi warga negara.5. Hubungan Antar NormaKehidupan manusia dalam masyarakat, selain diatur oleh hukum juga diatur oleh norma-norma agama, kesusilaan, dan kesopanan serta kaidah-kaidah lainnya. Kaidah-kaidah sosial itu mengikat dalam arti dipatuhi oleh anggota masyarakat di mana  kaidah itu berlaku. Hubungan antara hukum dan kaidah –kaidah sosial lainnya itu saling mengisi. Artinya kaidah sosial mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dalam hal-hal hukum tidak mengaturnya. Selain saling mengisi, juga saling memperkuat. Suatu kaidah hukum, misalnya “ kamu tidak boleh mencuri” diperkuat oleh kaidah sosial lainnya seperti kaidah agama, kesusilaan, dan adat juga berisi suruhan yang sama. Dengan demikian, tanpa adanya kaidah  hukum pun dalam masyarakat sudah ada larangan   untuk tidak mencuri. Hal yang sama juga berlaku untuk “penipuan”, “penggelapan”, atau pelanggaran hukum lainnya. Hubungan antara norma agama, kesusilaan, kesopanan dan hokum yang tidak dapat dipisahkan itu dibedakan karena masing-masing memiliki sumber yang berlainan. Norma agama sumbernya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Norma kesusilaan sumbernya suara hati,.Norma kesopanan sumbernya keyakinan masyarakat yang bersangkutan dan norma hukum sumbernya peraturan perundang-undangan.

 

 

 

 

 

Dipublikasi di REFERENCES | Meninggalkan komentar

Tersenyum hadapi Ramadham, semangat jalani Ramadhan


IMG_20160630_180601.jpg

Apabila kita hadapi Bulan Ramadhan kita dianjurkan menyambutnya  dengan tersenyum bahagia  pada saat  telah tiba kIta harus jalaninya penuh semangat. Sebagai wujud rasa syukur kita masih diberi kesempatan bertemu drngan Ramadhan. Amiiin

Dipublikasi di REFERENCES | Tag

Diproteksi: Minum Kopi yang Baik


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Dipublikasi di REFERENCES | Tag

Keterampilan Berbicara,rangkuman Referensi Guru Bahasa Indonesia


Keterampilan Berbicara

Hakikat Keterampilan Berbicara

Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dapat  pula dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah sebagai berikut: (a) pelafalan,  (b)intonasi,  (c) pilihan kata,  (d) struktur kata dan kalimat,  (e) sistematika pembicaraan,  (f) isi pembicaraan;  (g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, dan (h) penampilan.

Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain. Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif melalui lambang-lambang bunyi agar terjadi kegiatan komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Adalah benar bahwa setiap orang dikodratkan untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara lisan.  Akan  tetapi,  tidak semua memiliki keterampilan untuk berbicara secara baik dan benar.

Tarigan (1987:15) menjelaskan bahwa berbicara merupakan kemampuan untuk mengomunikasikan   gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar. Sementara itu, Djiwandono (1996;68) berpendapat bahwa berbicara adalah  kegiatan berbahasa yang aktif produktif dari seseorang pemakai bahasa yang menuntut  penguasaan beberapa prakarsa nyata dalam penggunaan bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan. Oleh karena itu, kemampuan berbicara menuntut penguasaan beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa, misalnya kaidah kebahasaaan, urutan isi pesan, dan sebagainya.  Sebagai perluasan dari batasan  tersebut dapat diuraikan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible)  dan yang kelihatan  (visible)  dengan memanfaatkan sejumlah  alat komunikasi manusia ntukmenyampaikan maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, berbicara merupakan kegiatan  menghasilkan  sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, perasaan,  pemikiran,  dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan peralatan vokal seseorang (selaput suara, lidah, bibir, hidung, dan telinga) merupakan persyaratan alamiah yang menghasilkan lafal,  artikulasi, tekanan, nada, jeda, dan intonasi bahasa. Keterampilan ini juga dipengaruhi oleh kepercayaan diri untuk menyatakannya secara wajar, benar, dan bertanggung jawab.

Prinsip-prinsip Berbicara  

  1. Berbicara sebagai Keterampilan Deskrit

Kata ‘deskrit’ (discrete) yang artinya terpisah atau tersendiri. Dalam hal ini berbicara diartikan  sebagai  keterampilan tersendiri yang tidak terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, membaca, dan menulis).  Untuk itu, merujuk pada  pendapat  Logan (1972), berbicara  merupakan (1) proses adaptif, (2) gambaran perilaku dan perasaan,  (3) dipengaruhi kekayaan pengalaman,  (4) sarana memperluas cakrawala, dan (5) sebagai perilaku yang dapat dipelajari.

Berikut uraian selengkapnya dari kelima aspek tersebut.

(a)   Berbicara merupakan proses adaptif

Berbicara  merupakan sarana  komunikasi  seseorang  dengan lingkungannya. Berbicara digunakan sebagai sarana penyesuaian diri seseorang,  termasuk dalam rangka mempelajari dan mengontrol kondisi dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang ingin diakui sebagai bagian dari komunitas masyarakatnya, salah satu cara yang harus ia tempuh adalah dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan masyarakatnya itu. Demikian halnya apabila ingin mempelajari budaya sekitarnya, sesorang harus memahami pula bahasa masyarakat itu secara mendalam.   Bagaimanapun bahasa merupakan mengejawantahan dari budaya suatu kelompok masyarakat.

(b)  Berbicara adalah gambaran perilaku dan perasaan

Melalui  kegiatan berbicara,  seseorang  tidak sekadar menyatakan ide, tetapi juga mengungkapkan sikap dan kepribadiannya. Dalam hal ini ada ungkapan, “bahasa adalah pembeda kelas.” Melalui pembicaraan seseorang akan tergambar banyak hal tentang keadaan jiwa orang itu, termasuk latar belakang sosial, tingkat pendidikan, dan kemampuan intelektualnya.

(c)   Berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman Berbicara  juga sangat dipengaruhi oleh kekayaan ataupun keluasan pengalaman seseorang. Semakin kaya  pengalaman seseorang, semakin mendalam dan berkualitas pembicaraan  orang itu. Sebaliknya, sesorang yang kurang pengalaman, akan tampak kering dan dangkal pembicaraan orang itu. Pembicaraan orang itu pun tidak menarik.

(d)   Berbicara sarana memperluas cakrawala

Di samping untuk menuangkan pengalaman, berbicara dapat menjadi sarana untuk mengetahui banyak hal. Dengan mengungkapkan pertanyaan, orang itu sesungguhnya sedang berusaha untuk memperluas sesuatu yang tidak diketahuinya.

(e)  Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari

Seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan berbicaranya, ia perlu belajar dengan orang lain yang lebih fasih. Baik itu dalam hal ekspresi, intonasi, lafal, dan unsur-unsur berbahasa lainnya, dapat ditingkatkan  melalui proses pembelajaran.  Semakin banyak berlatih berbicara,  semakin dikuasai keterampilan  itu.  Dengan banyaknya sekolah-sekolah dan pelatihan berbicara, hal itu membuktikan bahwa keterampilan tersebut dapat dipelajari. Tidak ada orang yang langsung terampil berbicara tanpa proses latihan. Berbicara adalah tingkah laku yang harus dipelajari  dan  bisa dikuasai.

  1.  Berbicara Sebagai Keterampilan Terintegrasi

Berbicara memiliki kaitan dengan keterampilan berbahasa yang lainnya, yaitu dengan menyimak, membaca, dan menulis.

(a)   Hubungan Berbicara dengan Menyimak

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda, namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya.

(b)  Hubungan Berbicara dengan Membaca

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsinya. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

(c)  Hubungan Berbicara dengan Menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara  menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

  1. Tujuan Berbicara

Kegiatan berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yakni :

(1) berbicara untuk tujuan transaksional dan

(2) berbicara untuk tujuan interaksional.

Fungsi transaksional mementingkan transfer informasi, sedangkan fungsi interaksional  mementingkan hubungan sosial. Berbicara berkategori  fungsional umumnya berbentuk monolog dan kegiatan transaksional bebrbentuk dialog. Kegiatan berpidato ataupun penyampaian berita merupakan tergolong ke dalam kegiatan berbicara secara transaksional. Adapun berbicara berkategori interaksional, antara lain, berdiskusi dan bercakap-cakap.  Dalam praktiknya kedua tujuan itu kadang-kadang menjadi tidak jelas. Dalam kegiatan berwawancara, misalnya, seorang narasumber berkata-kata kepada penanya. Di samping bertujuan untuk menyampaikan informasi, dia pun diharapkan dapat menjaga hubungan baik dengan penanya. Dalam kegiatan tersebut, tujuan transaksional dan interaksional berbaur menjadi satu.

Berdasarkan isi yang disampaikannya, terdapat pembagian lain atas tujuan berbicara, yakni  untuk menyampaikan pesan, perasaan, harapan, serta ide ataupun pendapat, berkomunikasi. Namun, dari sekian itu, ada tiga tujuan umum berbicara, yakni sebagai berikut.

  1. Menghibur

Pembicara menuturkan berbagai hal yang ada pada dirinya dengan tujuan untuk memberikan rasa senang ataupun suasana gembira pada orang lain. Untuk itu, penuturannya berisi humor-humor, kisah-kisah jenaka, dongeng, cerita-cerita ringan, dan sejenisnya. Kegiatan seperti ini tidak hanya disampaikan oleh seorang pelawak ataupun juru dongeng, dalam kehidupan sehari-hari pun pembicaraan yang menghubur sering dilakukan seseorang di tengah-tengah pembicaraannya yang serius. Dengan cara  demikian, suasana berkomunikasi menjadi akrab dan menyenangkan.2

  1.   Menginformasikan

Tujuan berbicara seperti ini biasanya terjadi ketika seseorang ingin menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasi suatu hal; atau memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan. Dalam tugas-tugas kesehariannya sebagai pengajar, pada umumnya guru lebih banyak berperan sebagai penyampai informasi. Seorang penyuluh pertanian pun, pembicaraannya berisi dengan penyampaikan informasi. Begitu juga dengan penyiar berita, isi pembicaraannya didominasi oleh informasi-informasi yang dianggap penting bagi khalayak.

  1.  Menstimulasi

Pembicaraan model ini biasanya dilakukan oleh tokoh masyarakat, agama, ataupun aparat pemerintah. Isi pembicaraannya berisi materi-materi tentang pembentukan suatu sikap ataupun kesadaran untuk berbuat sesuatu. Misalnya, tentang pentingnya toleransi, kejujuran, ketaqwaan, kesadaran membayar pajak. Pembicaraan seperti ini, juga sering dilakukan guru untuk membentuk kesadaran pentingnya belajar, berprestasi, dan sikap-sikap pisitif lainnya. Sorang juru kampanye, tukang obat, juru parkir, juga sales, pembicaraanya didominasi oleh nada-nada persuatif untuk membujuk orang lain supaya melakukan sesuatu yang diinginkannya.

Di luar tujuan-tujuan  itu, seseorang berbicara dapat juga didasari oleh kepentingan-kepentingan sosial. Seseorang karyawan terlibat di antara pembicaraan teman-temannya hanya untuk menjaga hubungan baik dengan para koleganya itu. Hal serupa sering pula dilakukan di dalam perbincangan keluarga dan di tengah-tengah kehidupan masyarakat pada umumnya. Keterlibatan seseorang di dalam konteks pembicaraan seperti itu sering kali didorong oleh keinginan untuk keingian untuk menajalin silaturahim ataupun kewajiban-kewajiban sebagai anggota dari komunitas tertentu.

Aktualisasi dan ekspresi diri merupakan tujuan lainnya yang mendasari seseorang berbicara. Seorang siswa yang bericara kepada guru di tengah-tengah diskusi kelompoknya, sering kali didasari oleh tujuan agar ia memperoleh pengakuan gurunya bahwa ia tahu atau bisa menjawab suatu persoalan. Seorang petani bersenandung; itulah cara petani itu di dalam mengekspresikan diri bahwa dia sedang bergembira. Seorang pelajar bertutur kata secara puitis; merupakan cara ekspresi remaja itu di dalam menyatakan kerinduannya pada seseorang.

  1. Jenis-Jenis Keterampilan Berbicara

Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.

  1. Berbicara pada diri sendiri (monolog) dilakukan seseorang ketika merenung atau memikirkan sesuatu, baik tentang dirinya sendiri ataupun hal yang di luar dirinya. Berbicara pada diri sendiri pada mumnya tidak dilisankan. Berbicara pada diri sendiri seolah-olah tidak penting sehingga terlewatkan begitu saja di dalam kehidupan seseorang. Padahal cara ini dapat melahirkan sikap bijak dan kecerdasan, yang kemudian terekspersikan dengan budi bahasa dan perilaku.
  2. Berbicara empat mata (dialog) dilakukan dalam percakapan sehari-hari, baik langsung bertatap muka ataupun melalui media (telepon). Caranya dengan bergiliran, bersifat situasional, dan spontan. Pada umum bersifatnya nonformal. Isi pembicaraan sering kali tidak terfokus pada satu topik. Namun, ada pula percakapan yang lebih tertata, yakni dalam wawancara.  Dalam kegiatan ini, topik yang dibacarakan lebih terfokus dan jalannya komunikasi berlangsung satu arah.
  3.   Berbicara dalam kelompok dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Kegiatan semacam ini pada umumnya berlangsung dalam situasi formal, seperti dalam forum diskusi. Keterfokusan topik dan keberaturan lalu lintas pembicaraan sengaja diatur dengan perlunya kehadiran pihak moderator.  Di samping kejelasan argumen, berbicara dalam kelompok juga memerlukan kesiapan berbeda pendapat.
  4. Berbicara di depan umum bentuknya berupa ceramah, khotbah, atau pidato. Kegiatan ini memerlukan kesiapan yang berlebih dibandingkan dengan jenis berbicara lainnya, baik itu dalam pengiasaan topik ataupun kesiapan mental. Pemahaman atas khalayak juga sangat diperlukan dalam kegiatan ini di samping penguasaan atas ilmu komunikasi massa. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.
  5. Berbicara satu arah terjadi ketika seseorang mengadu pada Allah SWT. Cara berbicara seperti itu juga berlangsung ketika berkhotbah, orasi ilmiah, dan beberapa jenis pidato lainnya. Pada kesempatan ini, pendengar tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan tanggapan-tanggapan.
  6. Berbicara dua orang terjadi dalam berbagai percakapan. Pada  kesempatan ini pihak yang berbicara berukar peran menjadi penyimak; sebaliknya penyimak bergiliran menjadi pembicara. Sebagian besar, kegiatan berbicara di dalam kehidupan sehari-hari berlangsung dua arah.
  7.   Berbicara multiarah terjadi pada kegiatan yang melibatkan banyak orang. Pihak yang berbicara dan penyimak lebih dari satu orang. Kegiatan ini pada umumnya berlangsung pada forum diskusi
  1. Rangkuman
  2. Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara  merupakan kagiatan untuk    me-nyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain secara lisan.
  1. Kecakapan berbicara menuntut penguasaan kaidah kebahasaan di samping materi itu sendiri dan ekspresi/gestur. Berbicara menuntut pengembangan sikap, seperti kepercayaan diri dan kesantunan berbahasa.
  1. Dengan kecakapan berbahasa yang baik, seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungannya secara lebih baik, dapat  menyampaikan segala perasaan dan jati dirinya. Berbahasa juga merupakan gambaran perilaku dan perasaan seseorang.
  2. Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.
  3. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.

 

Dipublikasi di REFERENCES | Tag

Diproteksi: Kedudukan, Fungsi Bahasa Indonesia , Rangkuman referensi Guru Bahasa Indonesia


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Dipublikasi di REFERENCES | Tag

FRASA DALAM BAHASA INDONESIA


FRASA DALAM BAHASA INDONESIA (Rangkuman referensi Guru Bahasa Indonesia)        Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                      angin yang berhembus                                                                                                                                    angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                            angin yang berhembus dengan kencang

(2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                                 Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                         Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                         Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa. Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                            mobil merah                                                                                                                                ayam jantan                                                                                                                                  rumah kayu                                                                                                                                  tugu monas
(4 sangat tampan                                                                                                                             agak )jorok                                                                                                                                       paling lambat                                                                                                                                 kurang banyak                                                                                                                                 tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                                    tidak tidur                                                                                                                                            ingin pulang                                                                                                                                     belum berangkat                                                                                                                              telah pergi
(6) tiga kuintal                                                                                                                                      lima hektar                                                                                                                                   sepuluh ekor                                                                                                                                       dua karung                                                                                                                                      empat kilometer

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik.

Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh                                                     (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh                                                             (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh                                                                       (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh                                                 (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas. Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.                                                                                                         (8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.                                                                            Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9)   mobil mewah                                                                                                                          rumah tua                                                                                                                                         baju baru                                                                                                                                      lima hektare                                                                                                                                      dua karung                                                                                                                                  sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM. Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                                  belum makan                                                                                                                       sedang tidur                                                                                                                                 telah belajar                                                                                                                                tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                         agak pendek                                                                                                                              kurang pandai                                                                                                                           paling kecil                                                                                                                           tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalam cakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

 

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12) a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                     b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                 c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya. Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)   ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                               pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                 siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                               suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                                    tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                        anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                               bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                                laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                                     tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau.Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                       b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                  c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                               c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17)   a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                      b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                               c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang                sedang  membaca sering menangis                sudah pergi              tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong    beras dari cianjur  gedung sekolah     orang lama               yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik           kurang penuh          lebih dewasa        sangat sabar           tidak baik  cantik sekali                                                                          penuh sekali                                                                          dewasa sekali                                                                     sabar sekali                                                                                  baik sekali

 

(21)    Frasa Numeral                                                                                                              dua orang (guru)                                                                                                         lima helai (kain)                                                                                                        sepuluh kilogram (beras)                                                                                            tiga ekor (sapi)                                                                                                           tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                             ke Surabaya                                                                                                                    dari Jakarta                                                                                                          dalam Pasal 12                                                                                                           dengan cepat                                                                                                                pada ayat (3)                                                                                                          terhadap ketentuan ini                                                                                           atas kehadirannya

 

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan nomina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau,  sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi. Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                               dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                      dua orang (dosen)                                                                                                                                            sepuluh kilogram (beras)                                                                                                                          sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                                tiga batang (bambu)                                                                                                                                          tiga buah (mangga)                                                                                                                                           tiga ekor (sa pi)                                                                                                                                               tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai.

Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                      angin yang berhembus                                                                                                                                    angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                            angin yang berhembus dengan kencang

(2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                      Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                     Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                     Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa.  Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                         mobil merah                                                                                                                                     ayam jantan                                                                                                                             rumah kayu                                                                                                                                           tugu monas
(4 sangat tampan                                                                                                                                 agak )jorok                                                                                                                                        paling lambat                                                                                                                                  kurang banyak                                                                                                                                   tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                                    tidak tidur                                                                                                                                      ingin pulang                                                                                                                                  belum berangkat                                                                                                                       telah pergi
(6)  tiga kuintal                                                                                                                                       lima hektar                                                                                                                                   sepuluh ekor                                                                                                                                     dua karung                                                                                                                                              empat kilometer

 

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik. Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas. Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.

(8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.

Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9)   mobil mewah                                                                                                                               rumah tua                                                                                                                                          baju baru                                                                                                                                        lima hektare                                                                                                                                     dua karung                                                                                                                                       sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM.

Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                                     belum makan                                                                                                                           sedang tidur                                                                                                                                telah belajar                                                                                                                               tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                    agak pendek                                                                                                                             kurang pandai                                                                                                                             paling kecil                                                                                                                            tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalamcakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12)  a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                    b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                  c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya.  Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)  ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                                   pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                             suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                              tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                       anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                             bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                             laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                             tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau. Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                   b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                      c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                           c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17) a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                     b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                                   c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang              sedang membaca  sering menangis     sudah pergi             tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong        beras dari cianjur    gedung sekolah     orang lama             yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik           kurang penuh         lebih dewasa         sangat sabar            tidak baik  cantik sekali                                                                     penuh sekali                                                                        dewasa sekali                                                                     sabar sekali                                                                           baik sekali

 

(21) Frasa Numeral                                                                                                          dua orang (guru)                                                                                                       lima helai (kain)                                                                                                        sepuluh kilogram (beras)                                                                                     tiga ekor (sapi)                                                                                                         tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                              ke Surabaya                                                                                                              dari Jakarta                                                                                                                  dalam Pasal 12                                                                                                        dengan cepat                                                                                                          pada ayat (3)                                                                                                     terhadap ketentuan ini                                                                                         atas kehadirannya

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan nomina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau, sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi.   Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                         dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                  dua orang (dosen)                                                                                                                                   sepuluh kilogram (beras)                                                                                                                         sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                            tiga batang (bambu)                                                                                                                                   tiga buah (mangga)                                                                                                                                            tiga ekor (sapi)                                                                                                                                              tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai.  Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                angin yang berhembus                                                                                                                               angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                       angin yang berhembus dengan kencang                                                                                                    (2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                       Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa. Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                    mobil merah                                                                                                                               ayam jantan                                                                                                                                    rumah kayu                                                                                                                                 tugu monas
(4) sangat tampan                                                                                                                              agak jorok                                                                                                                                  paling lambat                                                                                                                              kurang banyak                                                                                                                                 tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                            tidak tidur                                                                                                                                        ingin pulang                                                                                                                                      belum berangkat                                                                                                                              telah pergi
(6)  tiga kuintal                                                                                                                                    lima hektar                                                                                                                                sepuluh ekor                                                                                                                                 dua karung                                                                                                                                empat kilometer

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik. Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas.  Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.

(8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.

Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9) mobil mewah                                                                                                                                rumah tua

baju baru                                                                                                                                         lima hektare                                                                                                                                 dua karung                                                                                                                            sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM.

Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                            belum makan                                                                                                                  sedang tidur                                                                                                                         telah belajar                                                                                                                             tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                              agak pendek                                                                                                                    kurang pandai                                                                                                                  paling kecil                                                                                                                           tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalam cakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12) a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                   b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                  c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya.  Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)   ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                                   pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                   siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                                   suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                              tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                       anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                         bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                             laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                             tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau. Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                  b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                    c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                              c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17)  a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                   b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                                     c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang               sedang membaca    sering menangis     sudah pergi                tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong   beras dari cianjur   gedung sekolah          orang lama                     yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik               kurang penuh          lebih dewasa           sangat sabar              tidak baik  cantik sekali                                                                     penuh sekali                                                                      dewasa sekali                                                                           sabar sekali                                                                           baik sekali

 

(21)    Frasa Numeral                                                                                                           dua orang (guru)                                                                                                     lima helai (kain)                                                                                              sepuluh kilogram (beras)                                                                                     tiga ekor (sapi)                                                                                                       tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                        ke Surabaya                                                                                                              dari Jakarta                                                                                                          dalam Pasal 12                                                                                                        dengan cepat                                                                                                             pada ayat (3)                                                                                                      terhadap ketentuan ini                                                                                               atas kehadirannya

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan omina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau, sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

 

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi. Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                               dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                     dua orang (dosen)                                                                                                                                      sepuluh kilogram (beras)

sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                                tiga batang (bambu)                                                                                                                                         tiga buah (mangga)                                                                                                                                        tiga ekor (sapi)                                                                                                                                                 tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai

Dipublikasi di REFERENCES

Nuril Anwar, genap 57 Tahun


Photo post by @Kende_Selo.

Sumber: Nuril Anwar, genap 57 Tahun

Dipublikasi di REFERENCES