Tersenyum hadapi Ramadham, semangat jalani Ramadhan


IMG_20160630_180601.jpg

Apabila kita hadapi Bulan Ramadhan kita dianjurkan menyambutnya  dengan tersenyum bahagia  pada saat  telah tiba kIta harus jalaninya penuh semangat. Sebagai wujud rasa syukur kita masih diberi kesempatan bertemu drngan Ramadhan. Amiiin

Posted in REFERENCES

Minum Kopi yang Baik


#info_you
Minum kopi menjadi baik asal tidak berlebihan. Bebaskanpenyumbatan pada pembuluh kapiler

#info_you Minum kopi menjadi baik asal tidak berlebihan. Bebaskanpenyumbatan pada pembuluh kapiler

A post shared by Nuril Anwar (@nuril_anwar59) on

Posted in REFERENCES

Keterampilan Berbica,ragkuman Referensi Gurhasa Indonesia


Keterampilan Berbicara

Hakikat Keterampilan Berbicara

Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dapat  pula dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah sebagai berikut: (a) pelafalan,  (b)intonasi,  (c) pilihan kata,  (d) struktur kata dan kalimat,  (e) sistematika pembicaraan,  (f) isi pembicaraan;  (g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, dan (h) penampilan.

Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain. Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif melalui lambang-lambang bunyi agar terjadi kegiatan komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Adalah benar bahwa setiap orang dikodratkan untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara lisan.  Akan  tetapi,  tidak semua memiliki keterampilan untuk berbicara secara baik dan benar.

Tarigan (1987:15) menjelaskan bahwa berbicara merupakan kemampuan untuk mengomunikasikan   gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar. Sementara itu, Djiwandono (1996;68) berpendapat bahwa berbicara adalah  kegiatan berbahasa yang aktif produktif dari seseorang pemakai bahasa yang menuntut  penguasaan beberapa prakarsa nyata dalam penggunaan bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan. Oleh karena itu, kemampuan berbicara menuntut penguasaan beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa, misalnya kaidah kebahasaaan, urutan isi pesan, dan sebagainya.  Sebagai perluasan dari batasan  tersebut dapat diuraikan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible)  dan yang kelihatan  (visible)  dengan memanfaatkan sejumlah  alat komunikasi manusia ntukmenyampaikan maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, berbicara merupakan kegiatan  menghasilkan  sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, perasaan,  pemikiran,  dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan peralatan vokal seseorang (selaput suara, lidah, bibir, hidung, dan telinga) merupakan persyaratan alamiah yang menghasilkan lafal,  artikulasi, tekanan, nada, jeda, dan intonasi bahasa. Keterampilan ini juga dipengaruhi oleh kepercayaan diri untuk menyatakannya secara wajar, benar, dan bertanggung jawab.

Prinsip-prinsip Berbicara  

  1. Berbicara sebagai Keterampilan Deskrit

Kata ‘deskrit’ (discrete) yang artinya terpisah atau tersendiri. Dalam hal ini berbicara diartikan  sebagai  keterampilan tersendiri yang tidak terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, membaca, dan menulis).  Untuk itu, merujuk pada  pendapat  Logan (1972), berbicara  merupakan (1) proses adaptif, (2) gambaran perilaku dan perasaan,  (3) dipengaruhi kekayaan pengalaman,  (4) sarana memperluas cakrawala, dan (5) sebagai perilaku yang dapat dipelajari.

Berikut uraian selengkapnya dari kelima aspek tersebut.

(a)   Berbicara merupakan proses adaptif

Berbicara  merupakan sarana  komunikasi  seseorang  dengan lingkungannya. Berbicara digunakan sebagai sarana penyesuaian diri seseorang,  termasuk dalam rangka mempelajari dan mengontrol kondisi dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang ingin diakui sebagai bagian dari komunitas masyarakatnya, salah satu cara yang harus ia tempuh adalah dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan masyarakatnya itu. Demikian halnya apabila ingin mempelajari budaya sekitarnya, sesorang harus memahami pula bahasa masyarakat itu secara mendalam.   Bagaimanapun bahasa merupakan mengejawantahan dari budaya suatu kelompok masyarakat.

(b)  Berbicara adalah gambaran perilaku dan perasaan

Melalui  kegiatan berbicara,  seseorang  tidak sekadar menyatakan ide, tetapi juga mengungkapkan sikap dan kepribadiannya. Dalam hal ini ada ungkapan, “bahasa adalah pembeda kelas.” Melalui pembicaraan seseorang akan tergambar banyak hal tentang keadaan jiwa orang itu, termasuk latar belakang sosial, tingkat pendidikan, dan kemampuan intelektualnya.

(c)   Berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman Berbicara  juga sangat dipengaruhi oleh kekayaan ataupun keluasan pengalaman seseorang. Semakin kaya  pengalaman seseorang, semakin mendalam dan berkualitas pembicaraan  orang itu. Sebaliknya, sesorang yang kurang pengalaman, akan tampak kering dan dangkal pembicaraan orang itu. Pembicaraan orang itu pun tidak menarik.

(d)   Berbicara sarana memperluas cakrawala

Di samping untuk menuangkan pengalaman, berbicara dapat menjadi sarana untuk mengetahui banyak hal. Dengan mengungkapkan pertanyaan, orang itu sesungguhnya sedang berusaha untuk memperluas sesuatu yang tidak diketahuinya.

(e)  Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari

Seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan berbicaranya, ia perlu belajar dengan orang lain yang lebih fasih. Baik itu dalam hal ekspresi, intonasi, lafal, dan unsur-unsur berbahasa lainnya, dapat ditingkatkan  melalui proses pembelajaran.  Semakin banyak berlatih berbicara,  semakin dikuasai keterampilan  itu.  Dengan banyaknya sekolah-sekolah dan pelatihan berbicara, hal itu membuktikan bahwa keterampilan tersebut dapat dipelajari. Tidak ada orang yang langsung terampil berbicara tanpa proses latihan. Berbicara adalah tingkah laku yang harus dipelajari  dan  bisa dikuasai.

  1.  Berbicara Sebagai Keterampilan Terintegrasi

Berbicara memiliki kaitan dengan keterampilan berbahasa yang lainnya, yaitu dengan menyimak, membaca, dan menulis.

(a)   Hubungan Berbicara dengan Menyimak

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda, namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya.

(b)  Hubungan Berbicara dengan Membaca

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsinya. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

(c)  Hubungan Berbicara dengan Menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara  menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

  1. Tujuan Berbicara

Kegiatan berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yakni :

(1) berbicara untuk tujuan transaksional dan

(2) berbicara untuk tujuan interaksional.

Fungsi transaksional mementingkan transfer informasi, sedangkan fungsi interaksional  mementingkan hubungan sosial. Berbicara berkategori  fungsional umumnya berbentuk monolog dan kegiatan transaksional bebrbentuk dialog. Kegiatan berpidato ataupun penyampaian berita merupakan tergolong ke dalam kegiatan berbicara secara transaksional. Adapun berbicara berkategori interaksional, antara lain, berdiskusi dan bercakap-cakap.  Dalam praktiknya kedua tujuan itu kadang-kadang menjadi tidak jelas. Dalam kegiatan berwawancara, misalnya, seorang narasumber berkata-kata kepada penanya. Di samping bertujuan untuk menyampaikan informasi, dia pun diharapkan dapat menjaga hubungan baik dengan penanya. Dalam kegiatan tersebut, tujuan transaksional dan interaksional berbaur menjadi satu.

Berdasarkan isi yang disampaikannya, terdapat pembagian lain atas tujuan berbicara, yakni  untuk menyampaikan pesan, perasaan, harapan, serta ide ataupun pendapat, berkomunikasi. Namun, dari sekian itu, ada tiga tujuan umum berbicara, yakni sebagai berikut.

  1. Menghibur

Pembicara menuturkan berbagai hal yang ada pada dirinya dengan tujuan untuk memberikan rasa senang ataupun suasana gembira pada orang lain. Untuk itu, penuturannya berisi humor-humor, kisah-kisah jenaka, dongeng, cerita-cerita ringan, dan sejenisnya. Kegiatan seperti ini tidak hanya disampaikan oleh seorang pelawak ataupun juru dongeng, dalam kehidupan sehari-hari pun pembicaraan yang menghubur sering dilakukan seseorang di tengah-tengah pembicaraannya yang serius. Dengan cara  demikian, suasana berkomunikasi menjadi akrab dan menyenangkan.2

  1.   Menginformasikan

Tujuan berbicara seperti ini biasanya terjadi ketika seseorang ingin menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasi suatu hal; atau memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan. Dalam tugas-tugas kesehariannya sebagai pengajar, pada umumnya guru lebih banyak berperan sebagai penyampai informasi. Seorang penyuluh pertanian pun, pembicaraannya berisi dengan penyampaikan informasi. Begitu juga dengan penyiar berita, isi pembicaraannya didominasi oleh informasi-informasi yang dianggap penting bagi khalayak.

  1.  Menstimulasi

Pembicaraan model ini biasanya dilakukan oleh tokoh masyarakat, agama, ataupun aparat pemerintah. Isi pembicaraannya berisi materi-materi tentang pembentukan suatu sikap ataupun kesadaran untuk berbuat sesuatu. Misalnya, tentang pentingnya toleransi, kejujuran, ketaqwaan, kesadaran membayar pajak. Pembicaraan seperti ini, juga sering dilakukan guru untuk membentuk kesadaran pentingnya belajar, berprestasi, dan sikap-sikap pisitif lainnya. Sorang juru kampanye, tukang obat, juru parkir, juga sales, pembicaraanya didominasi oleh nada-nada persuatif untuk membujuk orang lain supaya melakukan sesuatu yang diinginkannya.

Di luar tujuan-tujuan  itu, seseorang berbicara dapat juga didasari oleh kepentingan-kepentingan sosial. Seseorang karyawan terlibat di antara pembicaraan teman-temannya hanya untuk menjaga hubungan baik dengan para koleganya itu. Hal serupa sering pula dilakukan di dalam perbincangan keluarga dan di tengah-tengah kehidupan masyarakat pada umumnya. Keterlibatan seseorang di dalam konteks pembicaraan seperti itu sering kali didorong oleh keinginan untuk keingian untuk menajalin silaturahim ataupun kewajiban-kewajiban sebagai anggota dari komunitas tertentu.

Aktualisasi dan ekspresi diri merupakan tujuan lainnya yang mendasari seseorang berbicara. Seorang siswa yang bericara kepada guru di tengah-tengah diskusi kelompoknya, sering kali didasari oleh tujuan agar ia memperoleh pengakuan gurunya bahwa ia tahu atau bisa menjawab suatu persoalan. Seorang petani bersenandung; itulah cara petani itu di dalam mengekspresikan diri bahwa dia sedang bergembira. Seorang pelajar bertutur kata secara puitis; merupakan cara ekspresi remaja itu di dalam menyatakan kerinduannya pada seseorang.

  1. Jenis-Jenis Keterampilan Berbicara

Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.

  1. Berbicara pada diri sendiri (monolog) dilakukan seseorang ketika merenung atau memikirkan sesuatu, baik tentang dirinya sendiri ataupun hal yang di luar dirinya. Berbicara pada diri sendiri pada mumnya tidak dilisankan. Berbicara pada diri sendiri seolah-olah tidak penting sehingga terlewatkan begitu saja di dalam kehidupan seseorang. Padahal cara ini dapat melahirkan sikap bijak dan kecerdasan, yang kemudian terekspersikan dengan budi bahasa dan perilaku.
  2. Berbicara empat mata (dialog) dilakukan dalam percakapan sehari-hari, baik langsung bertatap muka ataupun melalui media (telepon). Caranya dengan bergiliran, bersifat situasional, dan spontan. Pada umum bersifatnya nonformal. Isi pembicaraan sering kali tidak terfokus pada satu topik. Namun, ada pula percakapan yang lebih tertata, yakni dalam wawancara.  Dalam kegiatan ini, topik yang dibacarakan lebih terfokus dan jalannya komunikasi berlangsung satu arah.
  3.   Berbicara dalam kelompok dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Kegiatan semacam ini pada umumnya berlangsung dalam situasi formal, seperti dalam forum diskusi. Keterfokusan topik dan keberaturan lalu lintas pembicaraan sengaja diatur dengan perlunya kehadiran pihak moderator.  Di samping kejelasan argumen, berbicara dalam kelompok juga memerlukan kesiapan berbeda pendapat.
  4. Berbicara di depan umum bentuknya berupa ceramah, khotbah, atau pidato. Kegiatan ini memerlukan kesiapan yang berlebih dibandingkan dengan jenis berbicara lainnya, baik itu dalam pengiasaan topik ataupun kesiapan mental. Pemahaman atas khalayak juga sangat diperlukan dalam kegiatan ini di samping penguasaan atas ilmu komunikasi massa. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.
  5. Berbicara satu arah terjadi ketika seseorang mengadu pada Allah SWT. Cara berbicara seperti itu juga berlangsung ketika berkhotbah, orasi ilmiah, dan beberapa jenis pidato lainnya. Pada kesempatan ini, pendengar tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan tanggapan-tanggapan.
  6. Berbicara dua orang terjadi dalam berbagai percakapan. Pada  kesempatan ini pihak yang berbicara berukar peran menjadi penyimak; sebaliknya penyimak bergiliran menjadi pembicara. Sebagian besar, kegiatan berbicara di dalam kehidupan sehari-hari berlangsung dua arah.
  7.   Berbicara multiarah terjadi pada kegiatan yang melibatkan banyak orang. Pihak yang berbicara dan penyimak lebih dari satu orang. Kegiatan ini pada umumnya berlangsung pada forum diskusi
  1. Rangkuman
  2. Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara  merupakan kagiatan untuk    me-nyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain secara lisan.
  1. Kecakapan berbicara menuntut penguasaan kaidah kebahasaan di samping materi itu sendiri dan ekspresi/gestur. Berbicara menuntut pengembangan sikap, seperti kepercayaan diri dan kesantunan berbahasa.
  1. Dengan kecakapan berbahasa yang baik, seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungannya secara lebih baik, dapat  menyampaikan segala perasaan dan jati dirinya. Berbahasa juga merupakan gambaran perilaku dan perasaan seseorang.
  2. Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.
  3. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.

 

Posted in REFERENCES

Kedudukan, Fungsi Bahasa Indonesia , Rangkuman referensi Guru Bahasa Indonesia


Kedudukan, Fungsi Bahasa Indonesia, Rngkuman referensi Guru bahasa Indonesia

  1. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa menunjukkan bangsa, begitu kata peribahasa. Melalui bahasa suatu bangsa dapat diukur tingkat peradabannya.  Penggunaan bahasa yang sopan dan santun dapat mencerminkan pribadi penuturnya yang beradab. Sedemikian pentingnya bahasa. Dinyatakan pula, bahasa merupakan tanah air  kedua bagi negara tersebut. Bila suatu negara sudah kehilangan tanah airnya karena penjajahan, bencana, atau lainnya, namun ia masih memiliki  bahasa negaranya, maka sebenarnya ia masih memiliki tanah air keduanya.  Demikian pula dengan bahasa Indonesia yang memiliki kontribusi besar berdasarkan  fakta historisnya dalam pergerakan perjuangan bangsa, pengembangan  kedudukan bahasa Indonesia sangat strategis. Terlebih lagi akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesat sehingga menjelma  menjadi bahasa modern.

Bahasa Indonesia yang dipakai sekarang berasal dari bahasa Melayu. Bahasa tersebut sejak lama digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan,  tidak hanya digunakan di Kepulauan Nusantara, tetapi digunakan hampir diseluruh Asia Tenggara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti-prasasti kuno yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu.

Secara resmi, bahasa Indonesia dikumandangkan pada  peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Peresmian nama bahasa Indonesia tersebut bermakna politis sebab bahasa Indonesia dijadikan

sebagai alat perjuangan oleh kaum nasionalis yang sekaligus bertindak sebagai perencana bahasauntuk mencapai Negara  Indonesia yang merdeka dan berdaulat.  Peresmian nama itu juga menunjukan bahwa sebelum peristiwa Sumpah Pemuda itu nama bahasa Indonesia sudah ada. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sebelum tahun 1928 telah ada gerakan kebangsaan yang menggunakan nama “Indonesia” dan dengan sendirinya pada mereka telah ada suatu konsep tentang bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa di kepulauan Nusantara sudah sejak lama digunakan sebagai bahasa perhubungan. Sejak abad ke-7 Masehi, bahasa Melayu atau lebih  tepatnya disebut bahasa Melayu kuno yang menjadi cikal bakalnya telah digunakan sebagai bahasa perhubungan pada zaman kerajaan Sriwijaya. Selain sebagai bahasa perhubungan, pada zaman itu bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, bahasa perdagangan, dan sebagai bahasa resmi kerajaan.

Bukti-bukti sejarah seperti prasasti Kedukan Bukit di Palembang bertahun 684, prasasti Kota Kapur di Bangka Barat bertahun 686 , prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi bertahun 688 yang bertuliskan Prae-Nagari dan berbahasa Melayu kuno memperkuat dugaan di atas. Selain  itu, prasasti Gandasuli di Jawa Tengah bertahun 632 dan prasasti Bogor bertahun 942 yang berbahasa Melayu Kuno menunjukan bahwa bahasa tersebut tidak saja dipakai di Sumatra, tetapi juga dipakai di Jawa.

Faktor-faktor yang mendorong bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional

Pada tahun 1928, jumlah penduduk Indonesia sekitar 60 juta orang. Dari jumlah tersebut, penutur bahasa Melayu 4,9%, penutur  bahasa Jawa 47% penutur bahasa Sunda 14,5% dan sisanya penutur bahasa-bahasa daerah lain. Beberapa alasan lain yang mendorong dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan adalah sebagai berikut.

1) Bahasa Indonesia sudah merupakan  lingua franca, yakni bahasa perhubungan antaretnis di Indonesia.

2) Walaupun jumlah penutur aslinya tidak sebanyak penutur bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa Madura, bahasa Melayu memiliki daerah penyebaran yang sangat luas dan yang melampaui batas-batas wilayah bahasa lain.

3) Bahasa Melayu masih berkerabat dengan bahasa-bahasa Nusantara lain sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing lagi.

4) Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana sehingga relatif mudah dipelajari.

5) Faktor psikologis, yaitu adanya kerelaan dan keinsafan dari penutur bahasa Jawa dan Sunda, serta penutur bahasa-bahasa lain, untuk menerima bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

6) Bahasa Melayu memiliki kesanggupan untuk dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas. Berikut digambarkan hubungan bahasa–bahasa lain yang memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.

hubungan-bahasa-indonesia-dengan-bahasa-lain

Kedudukan Bahasa Indoensia

Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu:

1) Sebagai Bahasa Nsional Ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berbunyi:

  1. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku rbanagsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kata ‘menjunjung’ dalam KBBI antara lain berarti memuliakan, menghargai, dan menaati (nasihat, perintah, dan sebaginya.). Ikrar ketiga dalam Supah Pemuda tersebut menegaskan,  bahwa para pemuda bertekad untuk memuliakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.  Pernyataan tidak merupakan pengakuan “berbahasa satu”, tetapi merupakan pernyatakan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (Halim dalam Arifin dan Tasai, 1995: 5).  Ini berarti pula bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional yang kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.

 

2)  Sebagai Bahasa Negara

Sebagai bahasa Negara, kedudukan tersebut  dikukuhkan sehari setelah kemerdekaan RI dikumandangkan atau seiring dengan diberlakukannya  konstituasi Undang-Undang Dasar 1945.  Bab XV

Pasal 36 dalam UUD 1945  menegaskan bahwa bahasa negara ialah  bahasa Indonesia.

 

  1. Fungsi Bahasa Indonesia

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

1)  Lambang kebanggaan kebangsaan

Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan serta rasa kebanggaan memakainya senantiasa kita bina.

2)  Lambang identitas nasional

Pada fungsi ini, bahasa Indonesia kita junjung di samping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa

sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain.

3)  Alat penghubung antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya Berkat adanya bahasa nasional, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan. Kita dapat bepergian dari pelosok yang satu ke  pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.

4) Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.

Di dalam fungsi ini, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai-bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan daerah atau golongan.

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

1)  Bahasa resmi kenegaraan

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Termasuk ke dalam kegiatan-kegiatan itu adalah penulisan dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato kenegaraan.

2) Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan

Pada fungsi kedua ini, bahasa Indonesia  dijadikan sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

3) Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

Di dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai bukan saja  sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan

antardaerah dan antarsuku, melainkan juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada fungsi ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama, bahasa Indonesia kita pergunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai social  budaya nasional kita  (Halim dalam Arifin dan Tasai, 1995: 11-12).

 

Rangkuman

Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu sebagai bahasa nasional sejak Sumpah Pemuda diikrarkan  1928, sedangkan   sebagai bahasa negara  ditetapkannya seiring dengan disahkannya konstitusi UUD 1945 yang di dalam Bab XV Pasal 36 dinyatakan, bahwa  bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.   Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta medium pembicara.

Ragam bahasa Indonesia terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis, ragam baku dan ragam tidak baku, ragam baku tulis dan ragam baku lisan, ragam sosial dan ragam fungsional.

Ragam Sosial yaitu ragam bahasa yang sebagai norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil masyarakatnya. Ragam fungsional kadang-kadang disebut ragam profesional adalah ragam  bahasa yang dikaitkan dengan profesi lembaga lingkungan kerja atau  kegiatan tertentu lainnya. Pengertian Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum  bahasa induksinya. Variasi bahasa di sebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat/kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturannya yang tidak bersifat homogen.

Variasi  bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu.

Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu  pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, dimana tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya di dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakannya.

Berdasatkan penggunaannya, Variasi bahasa terdiri atas variasi bahasa dari segi penutur, variasi bahasa dari segi pemakaian, dan variasi bahasa dari segi keformalan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baradja, M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP.

Broto, A. S. 1978. Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.

Byrne, Dom. 1988.Teaching Writing Skill. London dan New York: Longman.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hafni, 1981.  Pemilihan dan Pengembangan Bahan Pengajaran Membaca. Jakarta Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

Husen, Akhlan, dkk. 1997.  Telaah Buku Kurikulum dan Buku Teks. Jakarta: Depdiknas.

Kosasih, E.1985. Cakrawala Bahasa Indonesia I. Jakarta: Gramedia.

Lado, Robert. 1964.Language Teaching. Amerika: MC Grow Hill.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar  Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

Saryono, D. 2010. Pemerolehan Bahasa: Teori dan Serpihan Kajian. Malang: Semi, Atar. 1998.Menulis Efektif. Padang: Angkasa.

Semiawan, Cony. 2008.  Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Tarigan, Djago. 2001. Pendidikan Keterampilan Berbahasa Jakarta: Depdiknas.

 

 

 

 

GLOSARIUM

 

Afiksasi : pemberian imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) pada  kata dasar.
Alomorf : anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi  mempunyai fungsi dan makna yang sama.
Analisis : penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk

perkaranya, dsb).

Bahasa Baku : ragam bahasa yang diterima untuk dipakai dalam situasi resmi, seperti dalam perundang-undangan, surat-menyurat, dan rapat resmi.
Bekal Ajar Awal : kemampuan yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru.
Ceramah : kelompok berbicara satu arah; pembicara menyampaikan gagasannya kepada pihak lain dan tidak memerlukan reaksi sesaat dalam bentuk bicara yang berupa.
Fonologi : ilmu tentang bunyi bahasa hubungan wajib antara lambang bahasa

dengan konsep yang dimaksud.

Frasa : satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat

nonpredikatif.

Indikator Soal : pernyataan yang menjadi acuan penulisan butir soal.
Indikator : karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respon, yang harus

dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa

siswa itu telah memiliki kompetensi dasar tertentu.

Khotbah : pesan atau nasihat-nasihat agama  yang disampaikan dengan

memperlihatkan rukun dan tatacara tertentu.

Kompetensi : adalah seperangkat sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh peserta didik setelah

mempelajari suatu muatan pembelajaran, menamatkan suatu program,

atau menyelesaikan satuan pendidikan tertentu.

Kompetensi Dasar (KD) : merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik

untuk suatu tema di SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu di

SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.

Kompetensi Inti (KI) : merupakan gambaran secara kategorial mengenai

kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif

dan psikomotor).

Kondisi  Eksternal : rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu

dalam proses pembelajaran.

Kondisi  Internal : keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai

hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu

Konkret-Operasional : tahap perkembangan anak dapat berpikir secara logis

mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan

benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Konteks : bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau

menambah  kejelasan makna.

Kontekstual : konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi

yang diajarkan dengan  dunia nyata.

Konvensi : Kesepakatan.
Konvensional : semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi lainnya manusia.

 

 

 

Kredibilitas : kewibawaan seorang komunikator di hadapan komunikan.
KTSP : kurikulum tingkat satuan pendidikan.

 

Kurikulum :

 

adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu.

Kurikulum :

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) :

 

adalah kurikulum operasional yang

disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang

disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Materi Pembelajaran :

 

bahan ajar minimal yang harus dipelajari siswa untuk

menguasai kompetensi dasar.

Materi Pokok :

 

pokok bahasan dan subpokok bahasan dari kompetensi dasar.
Membaca Ekstensif :

 

merupakan proses membaca yang dilakukan secara luas,

bahan bacaan yang digunakan bermacam-macam dan waktu yang

digunakan cepat dan singkat.

Membaca Intensif :

 

membaca secara teliti bertujuan memahaminya isi secara rinci
Membaca Kreatif :

 

pembaca tidak hanya menangkap makna tersurat antarbaris

dan makna di balik baris tetapi kreatif menerapkan hasil membacanya

untuk kepentingan sehari-hari.

Membaca Kritis :

 

mengolah bahan bacaan secara kritis dan menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat, maupun makna tersirat.
Membaca Sekilas atau Skimming :

 

membaca cepat untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Membaca Survey :

 

kegiatan membaca untuk mengetahui gambaran umum isi dan

ruang lingkup bahan bacaan.

Menyimak  Ekstensif :

 

sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Menyimak Intensif: menyimak emahaman.
Menyimak Kritis :

 

aktivitas menyimak yang para penyimaknya tidak dapat

langsung menerima gagasan yang disampaikan pembicara sehingga

mereka meminta argumentasi pembicara.

Menyimak :

 

mendengarkan lambang-lambang bunyi yang dilakukan dengan

sengaja dan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi,

interpretasi, reaksi, dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi,

menangkap isi, dan merespon makna yang terkandung di dalamnya.

Metode :

 

cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar

tercapai sesuai dng yg dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk

memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Morfologi : ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata.
Morfologi : cabang linguistik yg mempelajari masalah morfem dan kombinasinya

oleh lambang tersebut.

 

 

Motivasi Ekstrinsik : motivasi yang bersumber dari luar diri peserta didik.
Motivasi Intrinsik : motivasi yang bersumber dari dalam diri peserta didik.
Operasional Formal : tahap di mana anak dapat berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik.
Pembelajaran : adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar.

Percakapan : pembicaraan; perundingan; perihal bercakap-cakap (dipertentangkan dengan apa yg ditulis); satuan interaksi bahasa antara dua pembicara atau lebih.
Perkembangan Sosial : pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.
Peserta Didik : anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri

melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis

pendidikan tertentu.

Pidato : sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk

menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal.

Portofolio : kumpulan hasil karya seorang siswa; sejumlah hasil karya siswa yang

sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasi siswa,

perkembangan siswa dalam kemampuan berpikir, pemahaman siswa

atas materi pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengungkapkan

gagasan, dan mengungkapkan sikap siswa terhadap  mata pelajaran

tertentu, laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.

Psikomotor : gerak.
Rangkuman : bentuk tulisan singkat yang disusun dengan alur dan sudut pandang yang bebas, tidak perlu memberikan isi dari seluruh karangan secara proporsional. Disebut juga Ikhtisar.
Reading for Details or Facts : membaca untuk memperoleh perincian atau fakta.
Reading for Inference : membaca  menyimpulkanrefleksi suatu kegiatan yang

dilakukan untuk melihat kembali apakah pembelajaran yang dilaksana-

kan telah sesuai dengan yang kita rencanakan.

Remedial : kegiatan yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP):  adalah rencana yang

menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan

dijabarkan dalam silabus

Reseptif : keterampilan berbahasa yang bersifat menerima, contohnya keterampilan menyimak dan membaca.
Ringkasan : bentuk tulisan singkat yang disusun dengan alur dan sudut pandang yang sama seperti karangan aslinya.
Sensori-Motorik : tahapan perkembangan yang lebih mengutamakan gerakan reflek.
Silabus   rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,  materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian,

alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.

Simulasi : rangsangan
Sintagmatik : relasi antarmakna kata dalam satu frasa secara horizontal.
Sintaksis : cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech).

Sintesis memadukan berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras.

Sistem : susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang

Sistematis  : teratur menurut sistem; memakai sistem; dng cara yg diatur baik baik.

 
Standar Isi : ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.  
Standar Kompetensi : kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh siswa; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.  

 

Posted in REFERENCES

FRASA DALAM BAHASA INDONESIA


FRASA DALAM BAHASA INDONESIA (Rangkuman referensi Guru Bahasa Indonesia)        Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                      angin yang berhembus                                                                                                                                    angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                            angin yang berhembus dengan kencang

(2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                                 Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                         Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                         Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa. Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                            mobil merah                                                                                                                                ayam jantan                                                                                                                                  rumah kayu                                                                                                                                  tugu monas
(4 sangat tampan                                                                                                                             agak )jorok                                                                                                                                       paling lambat                                                                                                                                 kurang banyak                                                                                                                                 tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                                    tidak tidur                                                                                                                                            ingin pulang                                                                                                                                     belum berangkat                                                                                                                              telah pergi
(6) tiga kuintal                                                                                                                                      lima hektar                                                                                                                                   sepuluh ekor                                                                                                                                       dua karung                                                                                                                                      empat kilometer

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik.

Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh                                                     (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh                                                             (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh                                                                       (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh                                                 (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas. Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.                                                                                                         (8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.                                                                            Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9)   mobil mewah                                                                                                                          rumah tua                                                                                                                                         baju baru                                                                                                                                      lima hektare                                                                                                                                      dua karung                                                                                                                                  sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM. Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                                  belum makan                                                                                                                       sedang tidur                                                                                                                                 telah belajar                                                                                                                                tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                         agak pendek                                                                                                                              kurang pandai                                                                                                                           paling kecil                                                                                                                           tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalam cakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

 

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12) a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                     b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                 c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya. Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)   ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                               pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                 siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                               suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                                    tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                        anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                               bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                                laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                                     tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau.Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                       b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                  c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                               c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17)   a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                      b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                               c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang                sedang  membaca sering menangis                sudah pergi              tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong    beras dari cianjur  gedung sekolah     orang lama               yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik           kurang penuh          lebih dewasa        sangat sabar           tidak baik  cantik sekali                                                                          penuh sekali                                                                          dewasa sekali                                                                     sabar sekali                                                                                  baik sekali

 

(21)    Frasa Numeral                                                                                                              dua orang (guru)                                                                                                         lima helai (kain)                                                                                                        sepuluh kilogram (beras)                                                                                            tiga ekor (sapi)                                                                                                           tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                             ke Surabaya                                                                                                                    dari Jakarta                                                                                                          dalam Pasal 12                                                                                                           dengan cepat                                                                                                                pada ayat (3)                                                                                                          terhadap ketentuan ini                                                                                           atas kehadirannya

 

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan nomina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau,  sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi. Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                               dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                      dua orang (dosen)                                                                                                                                            sepuluh kilogram (beras)                                                                                                                          sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                                tiga batang (bambu)                                                                                                                                          tiga buah (mangga)                                                                                                                                           tiga ekor (sa pi)                                                                                                                                               tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai.

Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                      angin yang berhembus                                                                                                                                    angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                            angin yang berhembus dengan kencang

(2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                      Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                     Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                     Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa.  Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                         mobil merah                                                                                                                                     ayam jantan                                                                                                                             rumah kayu                                                                                                                                           tugu monas
(4 sangat tampan                                                                                                                                 agak )jorok                                                                                                                                        paling lambat                                                                                                                                  kurang banyak                                                                                                                                   tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                                    tidak tidur                                                                                                                                      ingin pulang                                                                                                                                  belum berangkat                                                                                                                       telah pergi
(6)  tiga kuintal                                                                                                                                       lima hektar                                                                                                                                   sepuluh ekor                                                                                                                                     dua karung                                                                                                                                              empat kilometer

 

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik. Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas. Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.

(8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.

Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9)   mobil mewah                                                                                                                               rumah tua                                                                                                                                          baju baru                                                                                                                                        lima hektare                                                                                                                                     dua karung                                                                                                                                       sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM.

Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                                     belum makan                                                                                                                           sedang tidur                                                                                                                                telah belajar                                                                                                                               tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                    agak pendek                                                                                                                             kurang pandai                                                                                                                             paling kecil                                                                                                                            tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalamcakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12)  a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                    b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                  c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya.  Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)  ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                                   pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                             suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                              tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                       anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                             bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                             laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                             tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau. Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                   b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                      c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                           c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17) a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                     b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                                   c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang              sedang membaca  sering menangis     sudah pergi             tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong        beras dari cianjur    gedung sekolah     orang lama             yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik           kurang penuh         lebih dewasa         sangat sabar            tidak baik  cantik sekali                                                                     penuh sekali                                                                        dewasa sekali                                                                     sabar sekali                                                                           baik sekali

 

(21) Frasa Numeral                                                                                                          dua orang (guru)                                                                                                       lima helai (kain)                                                                                                        sepuluh kilogram (beras)                                                                                     tiga ekor (sapi)                                                                                                         tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                              ke Surabaya                                                                                                              dari Jakarta                                                                                                                  dalam Pasal 12                                                                                                        dengan cepat                                                                                                          pada ayat (3)                                                                                                     terhadap ketentuan ini                                                                                         atas kehadirannya

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan nomina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau, sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2) pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi.   Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                         dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                  dua orang (dosen)                                                                                                                                   sepuluh kilogram (beras)                                                                                                                         sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                            tiga batang (bambu)                                                                                                                                   tiga buah (mangga)                                                                                                                                            tiga ekor (sapi)                                                                                                                                              tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai.  Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis.  Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  yang berbeda dalam kalimat sekaligus,  misalnya, satu frasa  menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok  kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti  telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat, bukan frasa. Amati contoh pada (1–2) berikut.

(1)  angin                                                                                                                                                                angin yang berhembus                                                                                                                               angin yang berhembus sepoi-sepoi                                                                                                       angin yang berhembus dengan kencang                                                                                                    (2) Orang itu sangat ramah.                                                                                                                Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.                                                                                       Orang yang berjalan dengan  ibuku  itu adalah adik sepupuku.                                                Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1)  di atas  tidak  mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi   bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu,  contoh (2) di atas  telah  mengungkapkan pikiran secara utuh  dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa. Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur  utama,  sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur  utama  merupakan unsur  inti,  sedangkan unsur keterangan merupakan unsur  tambahan.  Unsur tambahan lazim pula disebut atribut  atau  pewatas.  Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

(3) buku baru                                                                                                                                    mobil merah                                                                                                                               ayam jantan                                                                                                                                    rumah kayu                                                                                                                                 tugu monas
(4) sangat tampan                                                                                                                              agak jorok                                                                                                                                  paling lambat                                                                                                                              kurang banyak                                                                                                                                 tidak baik
(5)  sedang belajar                                                                                                                            tidak tidur                                                                                                                                        ingin pulang                                                                                                                                      belum berangkat                                                                                                                              telah pergi
(6)  tiga kuintal                                                                                                                                    lima hektar                                                                                                                                sepuluh ekor                                                                                                                                 dua karung                                                                                                                                empat kilometer

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina, yaitu  buku,  mobil,  ayam,  rumah,  dan  tugu. Contoh (4) merupakan frasa adjektival  sebab unsur intinya berupa adjektiva, yaitu  tampan,  jorok,  lambat,  banyak, dan  baik. Contoh (5) merupakan frasa verbal sebab unsur intinya berupa verba, yaitu  belajar,  tidur,  pulang,  berangkat,  dan  pergi. Contoh (6) merupakan frasa numeral  sebab unsur intinya berupa numeralia, yaitu  tiga,  lima,  sepuluh,  dua,  dan  empat. Unsur-unsur yang lain,  seperti  baru,  merah,  jantan,  kayu,  dan  monas pada contoh (3);  sangat,  agak,  paling,  kurang,  dan  tidak  pada contoh (4); sedang, tidak, ingin, belum, dan telah pada contoh (5); kuintal,  hektare,  ekor,  kurang, dan  kilometer  pada contoh (6) merupakan keterangan, atribut, atau pewatas.  Frasa hanya menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat seperti pada contoh berikut.

(7)  Orang itu berjalan pelan-pelan.

(8)  Pak Jono sangat sabar.

Unsur  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak Jono  pada (8) merupakan frasa nominal. Unsur  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa  orang itu  dan berjalan pelan-pelan  pada kalimat (7) serta  Pak  Jono  dan  sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa  orang itu  pada contoh (7) dan  Pak  Jono  pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan  berjalan pelan-pelan  pada contoh (7) dan  sangat sabar  pada contoh (8) berfungsi sebagai predikat.  Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi  di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi  sintaksis  sekaligus  karena jika menduduki dua fungsi sintaksis,  deret kata  tersebut  berarti  telah melampaui batas fungsi  dan,  karena itu,  ia  telah berupa klausa atau kalimat.

Frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan  antara kata yang satu dan yang lainnya adalah hubungan diterangkan (D) dan menerangkan (M) atau sebaliknya: menerangkan dan diterangkan. Berdasarkan letak yang diterangkan  dan yang menerangkan, urutan frasa dapat dibedakan menjadi frasa DM dan frasa MD.  Urutan  DM  mensyaratkan  bagian yang diterangkan berada di depan (di sebelah kiri) dan bagian yang menerangkan berada di belakang (sebelah kanan). Bagian yang diterangkan merupakan inti, sedangkan bagian yang menerangkan merupakan  atribut.  Perhatikan  beberapa  contoh frasa bertipe DM berikut.

(9) mobil mewah                                                                                                                                rumah tua

baju baru                                                                                                                                         lima hektare                                                                                                                                 dua karung                                                                                                                            sepuluh kuintal

Urutan frasa  mobil mewah,  rumah tua,  baju baru,  lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal seperti contoh (9) di atas adalah DM karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di  sebelah kiri  bagian yang menerangkan. Inti frasa tersebut adalah  mobil,  rumah,  baju,  lima,  dua,  dan  sepuluh, sedangkan unsur keterangan atau bagian yang menerangkan adalah  mewah,  tua,  baru,  hektare,  karung, dan  kuintal. Urutan frasa  nominal  (frasa  kata benda) dan frasa numeral  (frasa bilangan) lazimnya adalah  DM, sedangkan urutan frasa lain, selain frasa nominal dan numeral adalah DM.

Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan  frasa bertipe MD.  Dalam urutan frasa MD, unsur inti terletak di sebelah kanan dan unsur keterangan terletak di sebelah kiri atau atribut mendahului unsur inti.

(10) akan pergi                                                                                                                            belum makan                                                                                                                  sedang tidur                                                                                                                         telah belajar                                                                                                                             tidak datang
(11)   sangat tampan                                                                                                                              agak pendek                                                                                                                    kurang pandai                                                                                                                  paling kecil                                                                                                                           tidak jemu

Urutan frasa  akan pergi,  belum makan,  sedang tidur,  telah belajar, dan  tidak datang seperti contoh (10) di atas adalah MD.  Inti frasa atau unsur yang diterangkan dalam frasa tersebut  adalah pergi, makan, tidur, belajar, dan datang, sedangkan unsur  keterangan atau  unsur  tambahan adalah  akan,  belum,  sedang,  telah, dan tidak. Kelima contoh frasa pada (10)  tersebut berupa  frasa verbal.

Demikian pula halnya dengan frasa  sangat  tampan,  agak  pendek,  kurang  pandai,  paling  kecil, dan  tidak  jemu  pada contoh  (11) di atas, urutan frasanya  adalah MD. Inti frasanya  adalah  tampan,  pendek,  pandai,  kecil,  dan  jemu, sedangkan atributnya  adalah  sangat, agak, kurang, paling, dan  tidak.  Inti frasa terletak  di sebelah kanan, sedangkan atribut terletak di sebelah kiri,  atau atribut mendahului inti frasa. Kelima contoh  farasa pada (11) tersebut berupa frasa adjektival.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa frasa yang berpola MD pada umumnya berupa frasa  verbal (frasa kelompok kata kerja) dan frasa adjektival (frasa kelompok kata  sifat), sedangkan frasa nominal cenderung berupa  DM.  Hal  yang penting pula untuk diungkapkan adalah bahwa kata  sangat dan paling  (termasuk bentuk cakapannya, yaitu banget),  dan  sekali  yang berupa adverbia (kata keterangan) biasanya  menjadi pewatas atau menjadi penjelas adjektiva, bukan  menjadi pewatas nomina. Dengan demikian, frasa kopi banget,  Hasan banget, dan *sambal banget, misalnya, merupakan  bentuk-bentuk frasa yang tidak berterima  dalam ragam lisan  baku meskipun dalam ragam lisan takformal,  bentuk  baik  banget,  sabar banget, dan  pedas banget  lazim digunakan dalam cakapan lisan takbaku.  Berdasarkan urutan komponen pembentuknya, frasa dibedakan menjadi frasa endosentris dan frasa eksosenris. Kedua  hal tersebut diuraikan berikut ini.

1.1 Frasa Endosentris

Frasa endosentris  adalah frasa yang  unsur-unsurnya  mempunyai distribusi  (posisi/letak) yang sama dengan unsur  lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi  distribusi dapat dilihat pada contoh berikut.

(12) a.  Dua orang penjahat ditangkap polisi semalam.                                                   b. Dua orang Ø ditangkap polisi semalam.                                                                  c.  Ø Penjahat ditangkap polisi semalam.

Frasa  dua  orang  penjahat  pada  kalimat  (12a)  Dua  orang penjahat  ditangkap polisi semalam  mempunyai distribusi yang  sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang maupun dengan unsur  penjahat  sehingga meskipun hanya disebutkan salah satu unsurnya, seperti pada kalimat (12b) atau (12c), kalimat tetap berterima (gramatikal). Hal itu disebabkan fungsi  frasa dalam kalimat  tersebut dapat digantikan oleh salah satu  atau semua unsurnya.  Frasa endosentris  ini dapat pula terdiri atas unsur-unsur  yang setara sehingga unsur-unsur itu dapat dihubungkan  dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(13)   ibu bapak (bapak dan ibu atau bapak atau ibu)                                                   pulang pergi (pulang dan pergi atau pulang atau pergi)                                   siang malam (siang dan malam atau siang atau malam)                                   suami istri  (suami dan istri atau suami atau istri)                                              tua muda (tua dan muda atau tua atau muda)

Selain terdiri atas unsur-unsur yang setara, frasa endosentris  dapat pula terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara sehingga  unsur-unsur itu  tidak mungkin  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau seperti contoh berikut.

(14)   agak kaku (*agak dan kaku atau *agak atau kaku)                                                       anak cerdas (*anak dan cerdas atau *anak atau cerdas)                                         bukit indah (*bukit dan indah atau *bukit atau indah)                                             laut luas (*laut dan luas atau *laut atau luas)                                                             tidak sakit (*tidak dan sakit atau *tidak atau sakit)

Frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  frasa  endosentris  koordinatif  dan frasa  endosentris  subordinatif.  Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya  mempunyai kedudukan setara sehingga di antara unsur itu  dapat saling menggantikan dan dapat disisipkan kata dan atau atau. Sementara itu,  frasa endosentris  subordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak mempunyai kedudukan yang  setara  sehingga  di antara unsur-unsur  itu tidak dapat saling menggantikan dan tidak dapat disisipkan kata  dan  atau  atau. Contoh (13) di atas merupakan contoh frasa endosentris  koordinatif, sedangkan contoh (14) di atas merupakan contoh frasa endosentris subordinatif.

1.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris  adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya  sehingga  salah satu unsurnya  itu  tidak ada yang dapat menggantikan  fungsi frasa  tersebut seperti tampak pada beberapa contoh  berikut.

(15)  a.  Lelaki itu sedang melukis di atas bukit.                                                                  b.  *Lelaki itu sedang melukis di Ø.                                                                                    c.  *Lelaki itu sedang melukis Ø atas bukit.
(16)  a. Wiwid akan belajar ke luar negeri.                                                                                  b.  * Wiwid akan belajar ke Ø.                                                                                              c.  * Wiwid akan belajar Ø luar negeri.
(17)  a.  Jumino berasal dari Yogyakarta.                                                                                   b.  *Jumino berasal dari Ø.                                                                                                     c.  *Jumino berasal Ø Yogyakarta.

Contoh di atas  memperlihatkan bahwa  unsur-unsur  di  dalam frasa  di atas bukit  pada kalimat (15a)  Lelaki  itu sedang  melukis di atas bukit  tidak dapat saling menggantikan fungsi  frasa tersebut sehingga kalimat (15b) dan kalimat (15c) menjadi  tidak berterima.  Demikian pula frasa  ke luar negeri  dalam kalimat  Wiwid akan belajar ke luar negeri  pada  (16) dan  dari  Yogyakarta  dalam  kalimat  Jumino berasal dari Yogyakarta  pada  (17) juga tidak dapat saling menggantikan unsur di dalam frasa tersebut sehingga kalimat (16b) dan (16c) serta (17b) dan (17c)  menjadi tidak berterima.

1.3 Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1)  frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral,  dan  (5)  frasa preposisional.  Frasa verbal ialah frasa yang  berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang  berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa  yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa preposisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (kata depan).

(18)   Frasa Verbal
  akan pulang               sedang membaca    sering menangis     sudah pergi                tidak belajar
(19) Frasa Nominal
baju lima potong   beras dari cianjur   gedung sekolah          orang lama                     yang dari Bali
(20) Frasa Adjektival
agak cantik               kurang penuh          lebih dewasa           sangat sabar              tidak baik  cantik sekali                                                                     penuh sekali                                                                      dewasa sekali                                                                           sabar sekali                                                                           baik sekali

 

(21)    Frasa Numeral                                                                                                           dua orang (guru)                                                                                                     lima helai (kain)                                                                                              sepuluh kilogram (beras)                                                                                     tiga ekor (sapi)                                                                                                       tujuh buah (mangga)
(22) Frasa Preposisional
di kamar                                                                                                                        ke Surabaya                                                                                                              dari Jakarta                                                                                                          dalam Pasal 12                                                                                                        dengan cepat                                                                                                             pada ayat (3)                                                                                                      terhadap ketentuan ini                                                                                               atas kehadirannya

Yang dicetak miring pada contoh (18–22) di atas merupakan inti frasa, sedangkan yang lainnya merupakan atribut.  Penamaan frasa tersebut didasarkan pada jenis kata yang  menjadi inti dalam frasa tersebut. Penyebutan unsur di dalam  frasa preposisional ada yang menamakan  poros  (inti) dan sumbu  (atribut). Unsur atribut di dalam frasa preposisional disebut sumbu karena berfungsi mengikat unsur poros dalam frasa tersebut.

Frasa nominal dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk (1) nomina dan omina/pronomina, (2) nomina dan adjektiva, (3) nomina dan numeralia/frasa numeral, (4) nomina dan frasa preposisional,  (5) adverbial dan nomina,  atau  (6) nomina dan (i) yang dan pronomina tentu (definit), (ii) yang dan verba, (iii) yang dan numeralia, (iv) yang dan adjektiva, atau (v) yang dan frasa preposisional.

administrasi negara (N + N)
sanksi administratif (N + Adj)
pisang dua buah   (N + FNum)
uraian di atas   (N + FPrep)
bukan masalah   (Adv + N)
buku yang itu   (N + yang + pron definit)
lelaki yang pergi   (N + yang + V/FV)
jambu yang delapan biji   (N + yang + FNum)
pemuda yang tampan   (N + yang + Adj)
lelaki yang dari Yogya   (N + yang + FPrep)

1.4 Hubungan Antarunsur dalam Frasa

1.4.1 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Verbal

Hubungan antarunsur dalam frasa verbal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif),  (2) pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi), (4) aspek, (5) keseringan, (6) keinginan,  (7) keharusan,  (8) kesanggupan,  (9)  kepastian, (10) kemungkinan, atau (11) tingkat.

membaca dan menulis (hubangan kumulatif)
makan atau minum (hubangan alternatif)
tidak naik (hubungan pengingkaran)
sudah berangkat (hubungan aspek)
jarang pergi (hubungan keseringan)
ingin belajar (hubungan keinginan)
harus datang (hubungan keharusan)
dapat membantu (hubungan kesanggupan)
mungkin sedang sakit (hubungan kemungkinan)
pasti datang (hubungan kepastian)
kurang tidur (hubungan tingkat)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa verbal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negatif) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna aspek ditandai dengan penggunaan kata  akan,  mau, sedang,  tengah,  masih,  sudah, atau  telah; makna keseringan ditandai dengan penggunaan kata  sering,  jarang, atau  selalu; makna keinginan ditandai dengan penggunaan kata  ingin, hendak, atau  akan; makna keharusan ditandai dengan penggunaan kata  harus,  wajib, atau  perlu; makna kesanggupan ditandai dengan penggunaan kata dapat, bisa, mampu, sanggup, atau  bersedia; makna kepastian ditandai dengan penggunaan kata  pasti  atau  tentu;  makna kemungkinan ditandai dengan penggunaan kata mungkin; dan makna tingkat ditandai dengan penggunaan kata kurang.

1.4.2 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Nominal

Hubungan antarunsur dalam frasa nominal dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3)  pengingkaran (negasi), (4)  penjelas, (5) pembatas, atau (6) ketakrifan.

suami dan istri hubungan kumulatif)
aku atau kamu (hubungan alternatif)
bukan dosen saya (hubungan pengingkaran)
buku baru (hubungan penjelas)
anggota MPR (hubungan pembatas)
rumah kecil itu (hubungan ketakrifan)

 

Makna penjumlahan (kumulatif)  dalam frasa nominal ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna penjelas dapat diperluas dengan menyisipkan  kata  yang pada kedua unsur yang terdapat pada frasa itu; makna  pembatas dapat ditandai  dengan ketidakbisaannya  menyisipkan  kata yang,  dan,  atau, atau  adalah  pada kedua unsur yang terdapat  dalam frasa itu;  makna  ketakrifan (definit)  ditandai dengan  penggunaan kata  ini,  itu, atau  tersebut; dan makna penegasian  ditandai dengan penggunaan kata  bukan  yang mendahului unsur frasa nominal tersebut.

1.4.3 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Adjektival

Hubungan antarunsur dalam frasa adjektival dapat mengungkapkan makna (1) penjumlahan (kumulatif), (2)pemilihan (alternatif), (3) pengingkaran (negasi),  (4) tingkatan (gradasi), atau (5) paling (superlatif).

gagah dan perkasa (hubungan komulatif)
kaya atau miskin (hubungan alternatif)
tidak sabar (hubungan pengingkaran)
agak pandai (hubungan gradatif)
paling canggih (hubungan superlatif)

Makna penjumlahan (kumulatif) dalam frasa adjektival ditandai dengan penggunaan kata  dan; makna pemilihan (alternatif) ditandai dengan penggunaan kata  atau; makna pengingkaran (negasi) ditandai dengan penggunaan kata tidak; makna tingkatan (gradatif) ditandai dengan penggunaan kata sangat, agak, atau kurang; dan makna superlatif ditandai dengan penggunaan kata paling atau sangat.

1.4.4 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Numeral

Frasa numeral  atau frasa  kata  bilangan ialah frasa yang dibentuk dengan menambahkan kata penggolong seperti  ekor, buah,  orang,  helai,  carik,  kilogram,  batang,  lusin, dan  kodi. Hubungan makna antarunsur da frasa numeral  hanya mengungkapkan makna penjumlahan yang dinyatakan dengan atribut yang menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Berikut disajikan beberapa contoh.

dua carik (kertas)                                                                                                                                               dua kodi (kain sarung)                                                                                                                                     dua orang (dosen)                                                                                                                                      sepuluh kilogram (beras)

sepuluh lusin (baju koko)                                                                                                                                tiga batang (bambu)                                                                                                                                         tiga buah (mangga)                                                                                                                                        tiga ekor (sapi)                                                                                                                                                 tujuh helai (kain)

Makna penjumlahan dinyatakan oleh atribut yang  menyatakan jumlah bagi kata yang menjadi intinya. Tanpa atribut makna jumlah tidak akan kelihatan karena yang tampak hanya makna bilangan.

1.4.5 Makna Hubungan Antarunsur dalam Frasa Preposisional

Frasa preposisional ialah frasa yang dibentuk oleh preposi (kata depan)  yang diikuti unsur lain yang  dapat berupa kata benda, kata sifat, atau kata kerja. Preposisi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya, misalnya  di,  ke, dari,  pada,  dalam,  tentang,  oleh,  atas,  terhadap,  untuk,  bagi,  atau sejak. Hubungan makna antarunsur dalam frasa preposisional  dapat mengungkapkan makna (1) keberadaan/tempat, (2) cara, atau (3) permulaan.

di Medan (hubungan tempat)
pada ayat (hubungan tempat)
dalam pasal (hubungan tempat)
dengan cepat (hubungan cara)
secara pasti (hubungan cara)
menurut kebiasaan (hubungan cara)
dari Bandung (hubungan permulaan)
sejak kemarin (hubungan permulaan)
mulai pagi hari (hubungan permulaan)

Makna keberadaan atau tempat dalam frasa preposisional ditandai dengan penggunaan kata di, pada, atau dalam; makna cara ditandai dengan penggunaan kata  dengan,  secara, atau menurut; dan makna permulaan ditandai dengan penggunaan kata dari, sejak, atau mulai

Posted in REFERENCES

Nuril Anwar, genap 57 Tahun


Photo post by @Kende_Selo.

Sumber: Nuril Anwar, genap 57 Tahun

Posted in REFERENCES

Nuril Anwar, genap 57 Tahun


Nuril Anwar, Genap 57 Tahun

Nuril Anwar, Genap 57 Tahun

Posted in BERITA | 1 Comment