Kedudukan, Fungsi Bahasa Indonesia , Rangkuman referensi Guru Bahasa Indonesia


Kedudukan, Fungsi Bahasa Indonesia, Rngkuman referensi Guru bahasa Indonesia

  1. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa menunjukkan bangsa, begitu kata peribahasa. Melalui bahasa suatu bangsa dapat diukur tingkat peradabannya.  Penggunaan bahasa yang sopan dan santun dapat mencerminkan pribadi penuturnya yang beradab. Sedemikian pentingnya bahasa. Dinyatakan pula, bahasa merupakan tanah air  kedua bagi negara tersebut. Bila suatu negara sudah kehilangan tanah airnya karena penjajahan, bencana, atau lainnya, namun ia masih memiliki  bahasa negaranya, maka sebenarnya ia masih memiliki tanah air keduanya.  Demikian pula dengan bahasa Indonesia yang memiliki kontribusi besar berdasarkan  fakta historisnya dalam pergerakan perjuangan bangsa, pengembangan  kedudukan bahasa Indonesia sangat strategis. Terlebih lagi akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesat sehingga menjelma  menjadi bahasa modern.

Bahasa Indonesia yang dipakai sekarang berasal dari bahasa Melayu. Bahasa tersebut sejak lama digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan,  tidak hanya digunakan di Kepulauan Nusantara, tetapi digunakan hampir diseluruh Asia Tenggara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti-prasasti kuno yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu.

Secara resmi, bahasa Indonesia dikumandangkan pada  peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Peresmian nama bahasa Indonesia tersebut bermakna politis sebab bahasa Indonesia dijadikan

sebagai alat perjuangan oleh kaum nasionalis yang sekaligus bertindak sebagai perencana bahasauntuk mencapai Negara  Indonesia yang merdeka dan berdaulat.  Peresmian nama itu juga menunjukan bahwa sebelum peristiwa Sumpah Pemuda itu nama bahasa Indonesia sudah ada. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sebelum tahun 1928 telah ada gerakan kebangsaan yang menggunakan nama “Indonesia” dan dengan sendirinya pada mereka telah ada suatu konsep tentang bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa di kepulauan Nusantara sudah sejak lama digunakan sebagai bahasa perhubungan. Sejak abad ke-7 Masehi, bahasa Melayu atau lebih  tepatnya disebut bahasa Melayu kuno yang menjadi cikal bakalnya telah digunakan sebagai bahasa perhubungan pada zaman kerajaan Sriwijaya. Selain sebagai bahasa perhubungan, pada zaman itu bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, bahasa perdagangan, dan sebagai bahasa resmi kerajaan.

Bukti-bukti sejarah seperti prasasti Kedukan Bukit di Palembang bertahun 684, prasasti Kota Kapur di Bangka Barat bertahun 686 , prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi bertahun 688 yang bertuliskan Prae-Nagari dan berbahasa Melayu kuno memperkuat dugaan di atas. Selain  itu, prasasti Gandasuli di Jawa Tengah bertahun 632 dan prasasti Bogor bertahun 942 yang berbahasa Melayu Kuno menunjukan bahwa bahasa tersebut tidak saja dipakai di Sumatra, tetapi juga dipakai di Jawa.

Faktor-faktor yang mendorong bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional

Pada tahun 1928, jumlah penduduk Indonesia sekitar 60 juta orang. Dari jumlah tersebut, penutur bahasa Melayu 4,9%, penutur  bahasa Jawa 47% penutur bahasa Sunda 14,5% dan sisanya penutur bahasa-bahasa daerah lain. Beberapa alasan lain yang mendorong dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan adalah sebagai berikut.

1) Bahasa Indonesia sudah merupakan  lingua franca, yakni bahasa perhubungan antaretnis di Indonesia.

2) Walaupun jumlah penutur aslinya tidak sebanyak penutur bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa Madura, bahasa Melayu memiliki daerah penyebaran yang sangat luas dan yang melampaui batas-batas wilayah bahasa lain.

3) Bahasa Melayu masih berkerabat dengan bahasa-bahasa Nusantara lain sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing lagi.

4) Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana sehingga relatif mudah dipelajari.

5) Faktor psikologis, yaitu adanya kerelaan dan keinsafan dari penutur bahasa Jawa dan Sunda, serta penutur bahasa-bahasa lain, untuk menerima bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

6) Bahasa Melayu memiliki kesanggupan untuk dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas. Berikut digambarkan hubungan bahasa–bahasa lain yang memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.

hubungan-bahasa-indonesia-dengan-bahasa-lain

Kedudukan Bahasa Indoensia

Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu:

1) Sebagai Bahasa Nsional Ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berbunyi:

  1. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku rbanagsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kata ‘menjunjung’ dalam KBBI antara lain berarti memuliakan, menghargai, dan menaati (nasihat, perintah, dan sebaginya.). Ikrar ketiga dalam Supah Pemuda tersebut menegaskan,  bahwa para pemuda bertekad untuk memuliakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.  Pernyataan tidak merupakan pengakuan “berbahasa satu”, tetapi merupakan pernyatakan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (Halim dalam Arifin dan Tasai, 1995: 5).  Ini berarti pula bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional yang kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.

 

2)  Sebagai Bahasa Negara

Sebagai bahasa Negara, kedudukan tersebut  dikukuhkan sehari setelah kemerdekaan RI dikumandangkan atau seiring dengan diberlakukannya  konstituasi Undang-Undang Dasar 1945.  Bab XV

Pasal 36 dalam UUD 1945  menegaskan bahwa bahasa negara ialah  bahasa Indonesia.

 

  1. Fungsi Bahasa Indonesia

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

1)  Lambang kebanggaan kebangsaan

Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan serta rasa kebanggaan memakainya senantiasa kita bina.

2)  Lambang identitas nasional

Pada fungsi ini, bahasa Indonesia kita junjung di samping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa

sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain.

3)  Alat penghubung antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya Berkat adanya bahasa nasional, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan. Kita dapat bepergian dari pelosok yang satu ke  pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.

4) Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.

Di dalam fungsi ini, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai-bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan daerah atau golongan.

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

1)  Bahasa resmi kenegaraan

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Termasuk ke dalam kegiatan-kegiatan itu adalah penulisan dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato kenegaraan.

2) Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan

Pada fungsi kedua ini, bahasa Indonesia  dijadikan sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

3) Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

Di dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai bukan saja  sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan

antardaerah dan antarsuku, melainkan juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada fungsi ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama, bahasa Indonesia kita pergunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai social  budaya nasional kita  (Halim dalam Arifin dan Tasai, 1995: 11-12).

 

Rangkuman

Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu sebagai bahasa nasional sejak Sumpah Pemuda diikrarkan  1928, sedangkan   sebagai bahasa negara  ditetapkannya seiring dengan disahkannya konstitusi UUD 1945 yang di dalam Bab XV Pasal 36 dinyatakan, bahwa  bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.   Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta medium pembicara.

Ragam bahasa Indonesia terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis, ragam baku dan ragam tidak baku, ragam baku tulis dan ragam baku lisan, ragam sosial dan ragam fungsional.

Ragam Sosial yaitu ragam bahasa yang sebagai norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil masyarakatnya. Ragam fungsional kadang-kadang disebut ragam profesional adalah ragam  bahasa yang dikaitkan dengan profesi lembaga lingkungan kerja atau  kegiatan tertentu lainnya. Pengertian Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum  bahasa induksinya. Variasi bahasa di sebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat/kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturannya yang tidak bersifat homogen.

Variasi  bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu.

Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu  pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, dimana tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya di dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakannya.

Berdasatkan penggunaannya, Variasi bahasa terdiri atas variasi bahasa dari segi penutur, variasi bahasa dari segi pemakaian, dan variasi bahasa dari segi keformalan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baradja, M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP.

Broto, A. S. 1978. Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.

Byrne, Dom. 1988.Teaching Writing Skill. London dan New York: Longman.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hafni, 1981.  Pemilihan dan Pengembangan Bahan Pengajaran Membaca. Jakarta Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

Husen, Akhlan, dkk. 1997.  Telaah Buku Kurikulum dan Buku Teks. Jakarta: Depdiknas.

Kosasih, E.1985. Cakrawala Bahasa Indonesia I. Jakarta: Gramedia.

Lado, Robert. 1964.Language Teaching. Amerika: MC Grow Hill.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar  Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

Saryono, D. 2010. Pemerolehan Bahasa: Teori dan Serpihan Kajian. Malang: Semi, Atar. 1998.Menulis Efektif. Padang: Angkasa.

Semiawan, Cony. 2008.  Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Tarigan, Djago. 2001. Pendidikan Keterampilan Berbahasa Jakarta: Depdiknas.

 

 

 

 

GLOSARIUM

 

Afiksasi : pemberian imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) pada  kata dasar.
Alomorf : anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi  mempunyai fungsi dan makna yang sama.
Analisis : penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk

perkaranya, dsb).

Bahasa Baku : ragam bahasa yang diterima untuk dipakai dalam situasi resmi, seperti dalam perundang-undangan, surat-menyurat, dan rapat resmi.
Bekal Ajar Awal : kemampuan yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru.
Ceramah : kelompok berbicara satu arah; pembicara menyampaikan gagasannya kepada pihak lain dan tidak memerlukan reaksi sesaat dalam bentuk bicara yang berupa.
Fonologi : ilmu tentang bunyi bahasa hubungan wajib antara lambang bahasa

dengan konsep yang dimaksud.

Frasa : satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat

nonpredikatif.

Indikator Soal : pernyataan yang menjadi acuan penulisan butir soal.
Indikator : karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respon, yang harus

dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa

siswa itu telah memiliki kompetensi dasar tertentu.

Khotbah : pesan atau nasihat-nasihat agama  yang disampaikan dengan

memperlihatkan rukun dan tatacara tertentu.

Kompetensi : adalah seperangkat sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh peserta didik setelah

mempelajari suatu muatan pembelajaran, menamatkan suatu program,

atau menyelesaikan satuan pendidikan tertentu.

Kompetensi Dasar (KD) : merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik

untuk suatu tema di SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu di

SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.

Kompetensi Inti (KI) : merupakan gambaran secara kategorial mengenai

kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif

dan psikomotor).

Kondisi  Eksternal : rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu

dalam proses pembelajaran.

Kondisi  Internal : keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai

hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu

Konkret-Operasional : tahap perkembangan anak dapat berpikir secara logis

mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan

benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Konteks : bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau

menambah  kejelasan makna.

Kontekstual : konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi

yang diajarkan dengan  dunia nyata.

Konvensi : Kesepakatan.
Konvensional : semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi lainnya manusia.

 

 

 

Kredibilitas : kewibawaan seorang komunikator di hadapan komunikan.
KTSP : kurikulum tingkat satuan pendidikan.

 

Kurikulum :

 

adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu.

Kurikulum :

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) :

 

adalah kurikulum operasional yang

disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang

disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Materi Pembelajaran :

 

bahan ajar minimal yang harus dipelajari siswa untuk

menguasai kompetensi dasar.

Materi Pokok :

 

pokok bahasan dan subpokok bahasan dari kompetensi dasar.
Membaca Ekstensif :

 

merupakan proses membaca yang dilakukan secara luas,

bahan bacaan yang digunakan bermacam-macam dan waktu yang

digunakan cepat dan singkat.

Membaca Intensif :

 

membaca secara teliti bertujuan memahaminya isi secara rinci
Membaca Kreatif :

 

pembaca tidak hanya menangkap makna tersurat antarbaris

dan makna di balik baris tetapi kreatif menerapkan hasil membacanya

untuk kepentingan sehari-hari.

Membaca Kritis :

 

mengolah bahan bacaan secara kritis dan menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat, maupun makna tersirat.
Membaca Sekilas atau Skimming :

 

membaca cepat untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Membaca Survey :

 

kegiatan membaca untuk mengetahui gambaran umum isi dan

ruang lingkup bahan bacaan.

Menyimak  Ekstensif :

 

sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Menyimak Intensif: menyimak emahaman.
Menyimak Kritis :

 

aktivitas menyimak yang para penyimaknya tidak dapat

langsung menerima gagasan yang disampaikan pembicara sehingga

mereka meminta argumentasi pembicara.

Menyimak :

 

mendengarkan lambang-lambang bunyi yang dilakukan dengan

sengaja dan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi,

interpretasi, reaksi, dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi,

menangkap isi, dan merespon makna yang terkandung di dalamnya.

Metode :

 

cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar

tercapai sesuai dng yg dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk

memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Morfologi : ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata.
Morfologi : cabang linguistik yg mempelajari masalah morfem dan kombinasinya

oleh lambang tersebut.

 

 

Motivasi Ekstrinsik : motivasi yang bersumber dari luar diri peserta didik.
Motivasi Intrinsik : motivasi yang bersumber dari dalam diri peserta didik.
Operasional Formal : tahap di mana anak dapat berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik.
Pembelajaran : adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar.

Percakapan : pembicaraan; perundingan; perihal bercakap-cakap (dipertentangkan dengan apa yg ditulis); satuan interaksi bahasa antara dua pembicara atau lebih.
Perkembangan Sosial : pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.
Peserta Didik : anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri

melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis

pendidikan tertentu.

Pidato : sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk

menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal.

Portofolio : kumpulan hasil karya seorang siswa; sejumlah hasil karya siswa yang

sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasi siswa,

perkembangan siswa dalam kemampuan berpikir, pemahaman siswa

atas materi pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengungkapkan

gagasan, dan mengungkapkan sikap siswa terhadap  mata pelajaran

tertentu, laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.

Psikomotor : gerak.
Rangkuman : bentuk tulisan singkat yang disusun dengan alur dan sudut pandang yang bebas, tidak perlu memberikan isi dari seluruh karangan secara proporsional. Disebut juga Ikhtisar.
Reading for Details or Facts : membaca untuk memperoleh perincian atau fakta.
Reading for Inference : membaca  menyimpulkanrefleksi suatu kegiatan yang

dilakukan untuk melihat kembali apakah pembelajaran yang dilaksana-

kan telah sesuai dengan yang kita rencanakan.

Remedial : kegiatan yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP):  adalah rencana yang

menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan

dijabarkan dalam silabus

Reseptif : keterampilan berbahasa yang bersifat menerima, contohnya keterampilan menyimak dan membaca.
Ringkasan : bentuk tulisan singkat yang disusun dengan alur dan sudut pandang yang sama seperti karangan aslinya.
Sensori-Motorik : tahapan perkembangan yang lebih mengutamakan gerakan reflek.
Silabus   rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,  materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian,

alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.

Simulasi : rangsangan
Sintagmatik : relasi antarmakna kata dalam satu frasa secara horizontal.
Sintaksis : cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech).

Sintesis memadukan berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras.

Sistem : susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang

Sistematis  : teratur menurut sistem; memakai sistem; dng cara yg diatur baik baik.

 
Standar Isi : ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.  
Standar Kompetensi : kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh siswa; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.  

 

Advertisements

About NURIL ANWAR SITE

THIS BLOG IS PROVIDED FOR ALL MEMBERS OF "VOCATIONAL HIGH SCHOOL TEN MALANG," : TEACHERS, STUDENTS, EMPLOYEES OR WANT TO IMPROVE HIS HUMAN RESOURCES THAT WILL BENEFITE FROM THIS BLOG AS A SOURCE OF LEARNING"
This entry was posted in REFERENCES. Bookmark the permalink.