Keterampilan Berbicara,rangkuman Referensi Guru Bahasa Indonesia


Keterampilan Berbicara

Hakikat Keterampilan Berbicara

Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dapat  pula dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah sebagai berikut: (a) pelafalan,  (b)intonasi,  (c) pilihan kata,  (d) struktur kata dan kalimat,  (e) sistematika pembicaraan,  (f) isi pembicaraan;  (g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, dan (h) penampilan.

Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain. Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif melalui lambang-lambang bunyi agar terjadi kegiatan komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Adalah benar bahwa setiap orang dikodratkan untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara lisan.  Akan  tetapi,  tidak semua memiliki keterampilan untuk berbicara secara baik dan benar.

Tarigan (1987:15) menjelaskan bahwa berbicara merupakan kemampuan untuk mengomunikasikan   gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar. Sementara itu, Djiwandono (1996;68) berpendapat bahwa berbicara adalah  kegiatan berbahasa yang aktif produktif dari seseorang pemakai bahasa yang menuntut  penguasaan beberapa prakarsa nyata dalam penggunaan bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan. Oleh karena itu, kemampuan berbicara menuntut penguasaan beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa, misalnya kaidah kebahasaaan, urutan isi pesan, dan sebagainya.  Sebagai perluasan dari batasan  tersebut dapat diuraikan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible)  dan yang kelihatan  (visible)  dengan memanfaatkan sejumlah  alat komunikasi manusia ntukmenyampaikan maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, berbicara merupakan kegiatan  menghasilkan  sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, perasaan,  pemikiran,  dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan peralatan vokal seseorang (selaput suara, lidah, bibir, hidung, dan telinga) merupakan persyaratan alamiah yang menghasilkan lafal,  artikulasi, tekanan, nada, jeda, dan intonasi bahasa. Keterampilan ini juga dipengaruhi oleh kepercayaan diri untuk menyatakannya secara wajar, benar, dan bertanggung jawab.

Prinsip-prinsip Berbicara  

  1. Berbicara sebagai Keterampilan Deskrit

Kata ‘deskrit’ (discrete) yang artinya terpisah atau tersendiri. Dalam hal ini berbicara diartikan  sebagai  keterampilan tersendiri yang tidak terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, membaca, dan menulis).  Untuk itu, merujuk pada  pendapat  Logan (1972), berbicara  merupakan (1) proses adaptif, (2) gambaran perilaku dan perasaan,  (3) dipengaruhi kekayaan pengalaman,  (4) sarana memperluas cakrawala, dan (5) sebagai perilaku yang dapat dipelajari.

Berikut uraian selengkapnya dari kelima aspek tersebut.

(a)   Berbicara merupakan proses adaptif

Berbicara  merupakan sarana  komunikasi  seseorang  dengan lingkungannya. Berbicara digunakan sebagai sarana penyesuaian diri seseorang,  termasuk dalam rangka mempelajari dan mengontrol kondisi dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang ingin diakui sebagai bagian dari komunitas masyarakatnya, salah satu cara yang harus ia tempuh adalah dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan masyarakatnya itu. Demikian halnya apabila ingin mempelajari budaya sekitarnya, sesorang harus memahami pula bahasa masyarakat itu secara mendalam.   Bagaimanapun bahasa merupakan mengejawantahan dari budaya suatu kelompok masyarakat.

(b)  Berbicara adalah gambaran perilaku dan perasaan

Melalui  kegiatan berbicara,  seseorang  tidak sekadar menyatakan ide, tetapi juga mengungkapkan sikap dan kepribadiannya. Dalam hal ini ada ungkapan, “bahasa adalah pembeda kelas.” Melalui pembicaraan seseorang akan tergambar banyak hal tentang keadaan jiwa orang itu, termasuk latar belakang sosial, tingkat pendidikan, dan kemampuan intelektualnya.

(c)   Berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman Berbicara  juga sangat dipengaruhi oleh kekayaan ataupun keluasan pengalaman seseorang. Semakin kaya  pengalaman seseorang, semakin mendalam dan berkualitas pembicaraan  orang itu. Sebaliknya, sesorang yang kurang pengalaman, akan tampak kering dan dangkal pembicaraan orang itu. Pembicaraan orang itu pun tidak menarik.

(d)   Berbicara sarana memperluas cakrawala

Di samping untuk menuangkan pengalaman, berbicara dapat menjadi sarana untuk mengetahui banyak hal. Dengan mengungkapkan pertanyaan, orang itu sesungguhnya sedang berusaha untuk memperluas sesuatu yang tidak diketahuinya.

(e)  Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari

Seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan berbicaranya, ia perlu belajar dengan orang lain yang lebih fasih. Baik itu dalam hal ekspresi, intonasi, lafal, dan unsur-unsur berbahasa lainnya, dapat ditingkatkan  melalui proses pembelajaran.  Semakin banyak berlatih berbicara,  semakin dikuasai keterampilan  itu.  Dengan banyaknya sekolah-sekolah dan pelatihan berbicara, hal itu membuktikan bahwa keterampilan tersebut dapat dipelajari. Tidak ada orang yang langsung terampil berbicara tanpa proses latihan. Berbicara adalah tingkah laku yang harus dipelajari  dan  bisa dikuasai.

  1.  Berbicara Sebagai Keterampilan Terintegrasi

Berbicara memiliki kaitan dengan keterampilan berbahasa yang lainnya, yaitu dengan menyimak, membaca, dan menulis.

(a)   Hubungan Berbicara dengan Menyimak

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda, namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya.

(b)  Hubungan Berbicara dengan Membaca

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsinya. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

(c)  Hubungan Berbicara dengan Menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara  menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

  1. Tujuan Berbicara

Kegiatan berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yakni :

(1) berbicara untuk tujuan transaksional dan

(2) berbicara untuk tujuan interaksional.

Fungsi transaksional mementingkan transfer informasi, sedangkan fungsi interaksional  mementingkan hubungan sosial. Berbicara berkategori  fungsional umumnya berbentuk monolog dan kegiatan transaksional bebrbentuk dialog. Kegiatan berpidato ataupun penyampaian berita merupakan tergolong ke dalam kegiatan berbicara secara transaksional. Adapun berbicara berkategori interaksional, antara lain, berdiskusi dan bercakap-cakap.  Dalam praktiknya kedua tujuan itu kadang-kadang menjadi tidak jelas. Dalam kegiatan berwawancara, misalnya, seorang narasumber berkata-kata kepada penanya. Di samping bertujuan untuk menyampaikan informasi, dia pun diharapkan dapat menjaga hubungan baik dengan penanya. Dalam kegiatan tersebut, tujuan transaksional dan interaksional berbaur menjadi satu.

Berdasarkan isi yang disampaikannya, terdapat pembagian lain atas tujuan berbicara, yakni  untuk menyampaikan pesan, perasaan, harapan, serta ide ataupun pendapat, berkomunikasi. Namun, dari sekian itu, ada tiga tujuan umum berbicara, yakni sebagai berikut.

  1. Menghibur

Pembicara menuturkan berbagai hal yang ada pada dirinya dengan tujuan untuk memberikan rasa senang ataupun suasana gembira pada orang lain. Untuk itu, penuturannya berisi humor-humor, kisah-kisah jenaka, dongeng, cerita-cerita ringan, dan sejenisnya. Kegiatan seperti ini tidak hanya disampaikan oleh seorang pelawak ataupun juru dongeng, dalam kehidupan sehari-hari pun pembicaraan yang menghubur sering dilakukan seseorang di tengah-tengah pembicaraannya yang serius. Dengan cara  demikian, suasana berkomunikasi menjadi akrab dan menyenangkan.2

  1.   Menginformasikan

Tujuan berbicara seperti ini biasanya terjadi ketika seseorang ingin menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasi suatu hal; atau memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan. Dalam tugas-tugas kesehariannya sebagai pengajar, pada umumnya guru lebih banyak berperan sebagai penyampai informasi. Seorang penyuluh pertanian pun, pembicaraannya berisi dengan penyampaikan informasi. Begitu juga dengan penyiar berita, isi pembicaraannya didominasi oleh informasi-informasi yang dianggap penting bagi khalayak.

  1.  Menstimulasi

Pembicaraan model ini biasanya dilakukan oleh tokoh masyarakat, agama, ataupun aparat pemerintah. Isi pembicaraannya berisi materi-materi tentang pembentukan suatu sikap ataupun kesadaran untuk berbuat sesuatu. Misalnya, tentang pentingnya toleransi, kejujuran, ketaqwaan, kesadaran membayar pajak. Pembicaraan seperti ini, juga sering dilakukan guru untuk membentuk kesadaran pentingnya belajar, berprestasi, dan sikap-sikap pisitif lainnya. Sorang juru kampanye, tukang obat, juru parkir, juga sales, pembicaraanya didominasi oleh nada-nada persuatif untuk membujuk orang lain supaya melakukan sesuatu yang diinginkannya.

Di luar tujuan-tujuan  itu, seseorang berbicara dapat juga didasari oleh kepentingan-kepentingan sosial. Seseorang karyawan terlibat di antara pembicaraan teman-temannya hanya untuk menjaga hubungan baik dengan para koleganya itu. Hal serupa sering pula dilakukan di dalam perbincangan keluarga dan di tengah-tengah kehidupan masyarakat pada umumnya. Keterlibatan seseorang di dalam konteks pembicaraan seperti itu sering kali didorong oleh keinginan untuk keingian untuk menajalin silaturahim ataupun kewajiban-kewajiban sebagai anggota dari komunitas tertentu.

Aktualisasi dan ekspresi diri merupakan tujuan lainnya yang mendasari seseorang berbicara. Seorang siswa yang bericara kepada guru di tengah-tengah diskusi kelompoknya, sering kali didasari oleh tujuan agar ia memperoleh pengakuan gurunya bahwa ia tahu atau bisa menjawab suatu persoalan. Seorang petani bersenandung; itulah cara petani itu di dalam mengekspresikan diri bahwa dia sedang bergembira. Seorang pelajar bertutur kata secara puitis; merupakan cara ekspresi remaja itu di dalam menyatakan kerinduannya pada seseorang.

  1. Jenis-Jenis Keterampilan Berbicara

Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.

  1. Berbicara pada diri sendiri (monolog) dilakukan seseorang ketika merenung atau memikirkan sesuatu, baik tentang dirinya sendiri ataupun hal yang di luar dirinya. Berbicara pada diri sendiri pada mumnya tidak dilisankan. Berbicara pada diri sendiri seolah-olah tidak penting sehingga terlewatkan begitu saja di dalam kehidupan seseorang. Padahal cara ini dapat melahirkan sikap bijak dan kecerdasan, yang kemudian terekspersikan dengan budi bahasa dan perilaku.
  2. Berbicara empat mata (dialog) dilakukan dalam percakapan sehari-hari, baik langsung bertatap muka ataupun melalui media (telepon). Caranya dengan bergiliran, bersifat situasional, dan spontan. Pada umum bersifatnya nonformal. Isi pembicaraan sering kali tidak terfokus pada satu topik. Namun, ada pula percakapan yang lebih tertata, yakni dalam wawancara.  Dalam kegiatan ini, topik yang dibacarakan lebih terfokus dan jalannya komunikasi berlangsung satu arah.
  3.   Berbicara dalam kelompok dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Kegiatan semacam ini pada umumnya berlangsung dalam situasi formal, seperti dalam forum diskusi. Keterfokusan topik dan keberaturan lalu lintas pembicaraan sengaja diatur dengan perlunya kehadiran pihak moderator.  Di samping kejelasan argumen, berbicara dalam kelompok juga memerlukan kesiapan berbeda pendapat.
  4. Berbicara di depan umum bentuknya berupa ceramah, khotbah, atau pidato. Kegiatan ini memerlukan kesiapan yang berlebih dibandingkan dengan jenis berbicara lainnya, baik itu dalam pengiasaan topik ataupun kesiapan mental. Pemahaman atas khalayak juga sangat diperlukan dalam kegiatan ini di samping penguasaan atas ilmu komunikasi massa. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.
  5. Berbicara satu arah terjadi ketika seseorang mengadu pada Allah SWT. Cara berbicara seperti itu juga berlangsung ketika berkhotbah, orasi ilmiah, dan beberapa jenis pidato lainnya. Pada kesempatan ini, pendengar tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan tanggapan-tanggapan.
  6. Berbicara dua orang terjadi dalam berbagai percakapan. Pada  kesempatan ini pihak yang berbicara berukar peran menjadi penyimak; sebaliknya penyimak bergiliran menjadi pembicara. Sebagian besar, kegiatan berbicara di dalam kehidupan sehari-hari berlangsung dua arah.
  7.   Berbicara multiarah terjadi pada kegiatan yang melibatkan banyak orang. Pihak yang berbicara dan penyimak lebih dari satu orang. Kegiatan ini pada umumnya berlangsung pada forum diskusi
  1. Rangkuman
  2. Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara  merupakan kagiatan untuk    me-nyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain secara lisan.
  1. Kecakapan berbicara menuntut penguasaan kaidah kebahasaan di samping materi itu sendiri dan ekspresi/gestur. Berbicara menuntut pengembangan sikap, seperti kepercayaan diri dan kesantunan berbahasa.
  1. Dengan kecakapan berbahasa yang baik, seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungannya secara lebih baik, dapat  menyampaikan segala perasaan dan jati dirinya. Berbahasa juga merupakan gambaran perilaku dan perasaan seseorang.
  2. Berdasarkan pihak yang tertujunya, berbicara terbagi ke dalam empat jenis, yakni bicara pada diri sendiri, bicara empat mata, bicara dalam kelompok, dan berbicara di depan umum.
  3. Berdasarkan jumlah yang tertujunya, berbicara dapat digolong ke dalam tiga jenis, yakni berbicara satu arah, dua arah, dan multiarah.

 

Iklan

Tentang NURIL ANWAR SITE

BLOG INI DISEDIAKAN UNTUK SEMUA ANGGOTA "SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN 10 MALANG,": GURU, MAHASISWA, KARYAWAN ATAU INGIN MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIANYA YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB DARI BLOG INI SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Pos ini dipublikasikan di REFERENCES dan tag . Tandai permalink.