APRESIASI PROSA, Sebuah Rangkuman Referensi Guru Bahasa Indoneia SMK

APRESIASI PROSA

  1. Pengertian Apresiasi Prosa

Prosa sebagai salah satu bentuk cipta sastra, mendukung fungsi sastra pada umumnya. Fungsi prosa adalah untuk memperoleh keindahan, pengalaman, nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dan nilai-nilai budaya yang luhur. Selain itu dapat pula mengembangkan cipta, rasa, serta membantu pembentukan untuk pembelajaran (secara tidak langsung).  Prosa sebagai salah satu  bentuk karya sastra, sering menimbulkan masalah dalam mengajarkannya. Hal ini muncul karena cerita yang ditulis dalam bentuk prosa pada umumnya panjang. Masalah ini tentu saja dapat mempengaruhi proses pembelajaran prosa karena bimbingan apresiasi yang menyangkut teks enggan diberikan. Seperti halnya puisi, prosapun sebaiknya dinikmati oleh siswa secara utuh agar fungsi prosa benar-benar terwujud.

  1. Prosa Lama

Ciri-ciri Prosa Lama :

1)  Dipengaruhi oleh sastra Hindu atau Arab.

2)  Ceritanya anonim “tanpa nama”

3)  Milik bersama.

4)  Bersifat statis, sesuai dengan kondisi masyarakat waktu itu.

5)  Berbentuk hikayat, tambo, dongeng”pembaca dibawa ke alam imajinasi”

  1. Prosa Baru

Prosa baru merupakan pancaran dari masyarakat baru. Karya-karya prosa yang dihasilkan oleh masyarakat baru Indonesia mulai fleksibel dan bersifat universal; ditulis dan dilukiskan secara lincah serta bisa dinikmati oleh lingkup masyarakat yang lebih luas.

1)  Jenis-jenis prosa baru, antara lain sebagai berikut:

  1. Roman, berisi cerita tentang kehidupan manusia yang dilukiskan seeara terperinci atau detail. Berdasarkan isinya, roman dapat dibagi menjadi roman sejarah, roman sosial, roman jiwa, roman tendens.
  1. Cerpen, singkatan dari Cerita pendek; adalah karangan pendek yang berbentuk naratif. Cerpen mengisahkan sepenggal kehidupan manusia yang penuh   ak mudah dilupakan.
  2. Novel, karangan imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas probematika kehidupan manusia atau beberapa orang tokoh.
  3. Otobiografi, berisi kisah cerita tentang pribadi si pengarang sendiri, mengenai pengalaman hidupnya sejak kecil hingga dia dewasa.
  4. Biografi, berisi suatu kisah atau cerita tentang pengalaman hidup seseorang dari kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia yang ditulis oleh orang lain.
  5. Essay, karangan yang berupa kupasan tentang suatu hasil karya sastra, kesenian, atau bidang kebudayaan yang dilakukan oleh seorang ahli di bidangnya.
  6. Kritik, kupasan tentang satu karya  sastra, kesenian, serta bidangkebudayaan yang ditulis oleh seorang ahli dengan menekankan pada fakta yang objektif

 

2)  Unsur  intrinsik dan ekstrinsik prosa

  1. Tema

Tema adalah  inti atau ide pokok sebuah cerita. Tema merupakan pangkal tolak  pengarang.

  1. Latar

Latar (setting) adalah  tempat, waktu, dan suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa  yang dialami tokoh. Dalam cerpen, novel, atau pun bentuk prosa lainnya, kadangkadang tidak

disebutkan secara jelas latar perbuatan tokoh itu. Yang ada hanya  penyebutan latar secara umum.Misalnya, di tepi hutan, di sebuah dewasa, pada suatu waktu, pada zaman dahulu, di kala senja.

  1. Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter  tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut:

  • penggambaran langsung oleh pengarang
  • penggambaran fisik dan perilaku tokoh
  • penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
  • penggambaran tata kebahasaan tokoh
  • pengungkapan jalan pikiran tokoh
  • penggambaran oleh tokoh lain

 

  1. Alur (plot)

Alur : rangkaian peristiwa / jalinan cerita dari awal sampai kimaks

serta penyelesaian. Macam-macam Alur : – Alur mundur : jalinan peristiwa dari  masa kini ke masa lalu.  –  Alur maju : jalinan peristiwa dari masa lalu ke masa kini  –  Alur gabungan : gabungan dari alur maju dan alur mundur secara bersama-sama. Dan secara umum Alur terbagi ke dalam bagian-bagian berikut;

Pengenalan situasi : memperkenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antar tokoh. Pengungkapan peristiwa : mengungkap peristiwa yang menimbulakan berbagai masalah.

Menuju adanya konflik : terjadi peningkatan perhatian ataupun keterlibatan situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.

 

3). Unsur  ekstrinsik prosa

  1. Latar Belakang Penciptaan adalah kapan karya sastra tersebut diciptakan.
  2. Kondisi masyarakat pada saat karya sastra diciptakan adalah keadaan masyarakat baik itu ekonomi, sosial, budaya,politik pada saat karya sastra diciptakan.
  3. PSaudarangan hidup pengarang/Latar belakang pengarang.

 

  1. Apresiasi Prosa

Secara leksikal,  Appreciation  ‘apresiasi‘ mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan,penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian. (Hornby,1973). Apresiasi sastra ialah kegiatan menggauli karya sastra dengan sungguh  –  sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. ( Effendi,1973 ). Dengan kata lain apresiasi sastra adalah upaya memahami karya sastra, yaitu upaya bagaimanakah caranya untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca baik fiksi maupun puisi, mengerti maknanya, baik yang intensional maupun yang faktual, dan mengerti seluk beluk strukturnya. Pendek kata apresiasi sastra itu merupakan upaya merebut makna karya sastra sebagai tugas utama seorang pembaca. Untuk dapat memahami struktur karya sastra dan dapat merebut makna dengan setepat  -tepatnya, seorang pembaca perlu mengerti bagian-bagian atau elemen–elemen karya sastra. Karena, karya sastra merupakan sebuah struktur yang rumit. Sebagai sebuah struktur, karya sastra mengandung gagasan keseluruhan, gagasan tranformasional, dan gagasan kaidah yang mandiri. Oleh karena itu, untuk mengerti karya sastra diperlukan analisis terhadap bagian–bagian struktur tersebut.

Dengan demikian, nyatalah bahwa apresiasi sastra merupakan satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan kritik sastra. Bahkan, dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra merupakan salah satu jenis kritik sastra terapan. Kegiatan–kegiatan atau langkah–langkah yang dapat dilakukan untuk memahami karya sastra paling tidak meliputi 3 hal yaitu  : Interpretasi,  Analisis atau Penguraian, dan Evaluasi atau Penilaian.

Penafsiran

Penafsiran adalah upaya memahami karya sastra dengan memberikan tafsiran berdasarkan sifat–sifat karya sastra itu sendiri. Dalam hubungan ini, Abrams-1981 membedakan tafsiran menjadi dua hal, yakni dalam artinya yang sempit, penafsiran merupakan upaya untuk memperjelas arti bahasa dengan sarana analisis, parafrase dan komentar. Lazimnya penafsiran difokuskan pada kegelapan, ambiguitas, parafrase, dan komentar. Dalam arti luas, penafsiran atau menafsirkan ialah membuat jelas arti karya sastra yang bermediakan bahasa yaitu meliputi penjelasan aspek–aspek seperti jenis karya,unsur–unsur,struktur,tema dan efek–efeknya.

Analisis

Analisis merupakan penguraian karya sastra atas bagian–bagian atau norma–normanya. Secara lebih khusus, analisis karya sastra dibedakan menjadi analisis fiksi dan anlisis puisi. Analisis fiksi meliputi analisis terhadap semua elemen pembangun fiksi itu, yang mencakup fakta cerita, sarana cerita, dan tema. Fakta cerita meliputi plot, tokoh, dan latar. Sarana cerita meliputi hal–hal yang dimanfaatkan oleh pengarang dalam memilih dan menata detil–detil cerita sehingga tercipta pola yang bermakna, seperti unsur judul,sudut pandang, gaya dan nada,dan sebagainya. Penafsiran dan analisis memungkinkan pembaca untuk memberikan penilaian kepada karya sastra secara tepat  sesuai dengan hakikatnya.

Hakikat karya sastra adalah karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan mempunyai unsur estetik yang dominan.

 

Penilaian

Penilaian adalah usaha menentukan kadar keberhasilan atau keindahan suatu karya sastra. Dengan adanya penilaian dimungkinkan untuk membuat pemilihan antar karya sastra yang baik dan yang jelek, yang berhasil dan yang gagl, yang bermutu tinggi,  rendah, dan sedang. Jika penilaian dapat dilakukan sebaik–baiknya, penghargaan kepada sebuah karya sastrapun dapat dilakukan secara wajar dan sepantasnya. Untuk itu diperlukan suatu kriteria, yakni kriteria keindahan atau keberhasilan suatu karya sastra.

 

  1. Cara Mengapresiasi Karya Sastra

Sebelum kita melakukan apresiasi kita harus memilih karya sastra seperti drama, film dll. Kesukaan ini akan melangkah pada upaya seorang untuk mengetahui lebih dalam karya yang dipilih. Karya sastra dapat di gemari dan di sukai karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri yang menimbulkan empati bagi penggemar. Proses penciptaan karya sastra meliputi :

1)  Upaya mengexplorasi jiwa pengarang yangmewujudkan ke dalam bentuk bahasa yang akan di jumpai kepada orang lain.

2)  Upaya menjadikan sastra media komunikasi antara pengarang dan peminta sastra.

3)  Upaya menjadikan sastra sebagai alat penghibur dalam arti merupakan alat pemuas hati peminat sastra.

4)  Upaya menjadikan isi sastra merupakan sau bentuk expresi yang mendalam dari pengarang terhadap unsur-unsur kehidupan

Langkah-langkah mengapresiasi sastra secara umum yaitu:

1)  menginterprestasi atau melakukan penafsiran terhadap kerya sastra berdasarkan sifat-sifat karya tersebut.

2)  Menganalisi atau mengurangi unsur-unsur karya sastra tersebut, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik.

3)  Menikmati atau merasakan karya satra berdasarkat pemahaman untuk mendapatkan pernyataan.

4)  Mengevaluasi atau menila karya satra dalam rangka mengukur kualiatas karya tersebut.

5)  Memberikan penghargaan kepada karya satra berdasarkan tingkat kualitas.

Contoh apresiasi prosa

BUNDA  (sinopsis)

Gio tinggal bersama ayah dan tante Marcia yang tidak disukainya. Gio tidak pernah menganggap tante Marcia itu ada, dan selama setahun lebih tinggal bersama  Gio tidak pernah memanggil tante Marcia dengan sebutan “Ibu atau Bunda”. Padahal tante Marcia sangat sayang, sabar, lemah lembut, dan

selalu bersikap baik kepada Gio dan ayahnya. Tante Marcia tidak pernah membalas perilaku Gio tersebut, malah selalu memberikan senyuman manis untuk Gio. Sampai pada akhirnya Gio kecelakaan dan pingsan akibat tidak berhati-hati dalam mengendarai  sepeda motor. Tante Marcia dan Desty yang setia menunggui Gio. Setelah Gio siuman, Desty mencoba untuk menasehati dan memberi pengertian kepada Gio agar Gio segera sadar atas sikapnya selama ini terhadap tante Marcia dan bersedia meminta maaf. Setelah Desty mencoba berulang kali untuk meyakinkan Gio, akhirnya Gio sadar (menyadari sikap buruknya selama ini), dan bersedia meminta maaf, serta bersedia memanggil tante Marcia denga sebutan “Bunda”.

1)  TEMA

Merupakan sikap atau pSaudarangan terhadap masalah. Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan berupa pokok pembahasan.  Tema terdiri dari dua macam, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang dominan dalam cerita, sedangkan tema minor adalah tema tambahan untuk melukiskan tema mayor. Tema mayor melekat pada tokoh utama, sedangkan tema minor melekat pada tokoh tambahan. Menurut Mursal Esten (1984:92) dalam melukiskan tema mayor suatu cerita ada beberapa cara yaitu melihat persoalan yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan, melihat persoalan yang paling banyak menimbulkan konflik.

  1. Tema Mayor pada cerpen “Bunda”, yaitu: kesabaran seorang ibu tiri untuk menghadapi sikap buruk anak tirinya. Hal ini dapatdilihat pada cuplikan cerpen berikut:  Tante Marcia yang berada disamping ayah terlihat cemas, seakan-akan beliau tidak ingin terjadi pertengkaran antar aku dan ayah hanya karena sikapku terhadapnya Kemudian pada cuplikan lain ditegaskan kembali, yaitu: Selama ini pintu hatiku tak pernah terbuka untuk tante Marcia, orang yang selalu berusaha memperhatikanku walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sampai-sampai tak pernah kurasakan kebaikan darinya, padahal di setiap waktu beliau selalu mempersembahkan semua kebaikan tulusnya kepadaku.

Persoalannya terletak pada tante Marcia (ibu tiri) yang dinikahi oleh duda beranak satu, anaknya tersebut bernama Gio, setahun yang lalu Gio ditinggal wafat oleh ibu kandungnya, Gio merasa kehilangan dan sedih, dia tidak suka dengan tante Marcia, padahal tante Marcia adalah sosok wanita yang baik dan penyayang, tidak tahu mengapa Gio sangat membencinya. Terlihat pada penyataan Gio berikut: Sebenarnya tante Marcia sangat baik kepadaku dan ayahku. Tapi tidak tahu setan apa yang merasuki hatiku sehingga aku begitu membencinya. Maka dari itu Gio selalu bersikap buruk kepada tante Marcia, berkata kasar, tidak memperhatikan pada saat diajak berbicara, tetapi tante Marcia tetap bersabar dan memberikan senyum khasnya kepada Gio. Terlihat pada dialog yang dilakukan oleh Gio dan tante Marcia berikut: Tante Marcia tersenyum manis. “Buku kamu sudah tante letakkan di rak bukumu,” ujarnya lirih

“Kalau pulang jangan larut malam,” tutur tante Marcia “Suka-suka aku mau pulang kapan.”

  1. Tema minor pada cerpen “Bunda”, yaitu: keegoisan. Terlihat pada sikap-sikap Gio terhadap tante Marcia, salah satunya sebagai berikut: Setahun setelah ibuku meninggal, ayah menikah untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan tante Marcia. Dan selama lebih dari dua belas bulan ini aku tinggal bersama ibu tiri yang tidak aku suka. Aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ibu, padahal ayah sudah melatihku untuk memanggil tante Marcia dengan panggilan yang indah itu. Gio yang tidak suka dengan tante Marcia membuat semua kebaikan tante Marcia tidak terlihat oleh Gio, Gio selalu bersikap buruk, tetapi tante Marcia tidak pernah benci ataupun berusaha untuk membalas perilaku Gio tersebut. Tante Marcia tetap perhatian kepada Gio. Terlihat pada penuturan Desty berikut: “Gio, tante Marcia orang yang sangat baik,” jawab Desty. Tadi tante Marcia pingsan ketika melihat kamu dibawa ke rumah sakit dengan berlumuran darah. Setelah siuman nggak henti-hentinya tante Marcia menangisi kamu Gio,” sambungnya sambil tangannya masih menggenggam tanganku

2)  PENOKOHAN

Tokoh Aku (Gio)

Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini, yaitu sebagai tokoh antagonis yang diperankan oleh Gio. Dari Gio kita bisa membaca kisah seorang ibu tiri yang  selalu sabar menghadapi sikap dan perilaku anak tiri (Gio =>> tokoh aku). Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang cuek, pemarah, penuh rasa benci, tetapi sebenarnya juga baik hati dan penyayang.

“Sampai kapan pun aku nggak akan memanggil tante dengan sebutan “Ibu.”  Dengan suara yang cukup nyaring aku berkata kepada tante Marcia. Sampai-sampai beliau terkejut.

Sebenarnya tante Marcia sangat baik kepadaku dan ayahku. Tapi tidak tahu setan apa yang merasuki hatiku sehingga aku begitu membencinya.

“Suka-suka aku mau pulang kapan.”

Ketika Desty ke rumahku dulu, dia aku kenalkan dengan tante Marcia. Walaupun aku tidak menyukai tante Marcia tapi aku juga ingin tante Marcia tahu bahwa aku memiliki bidadari cantik yang mampu meleburkan hatiku dan mampu  mengusir kepenatanku jika bersamanya.

Namun sayang, ibu, orang yang paling aku sayang di dunia ini telah pergi meninggalkanku dan ayah.

“Pasti,” jawabku mantab. Kali ini aku lebih bersemangat saat mendengar kata ibu dari mulut Desty.

Gio benci dan selalu berkata kasar saat berbicara dengan tante Marcia.  Karena Gio tidak pernah menginginkan tante Marcia, Gio sangat menyayangi ibu kandungnya.

 

Tante Marcia

Tokoh ini merupakan tokoh protagonis, tokoh yang dibenci oleh tokoh aku (Gio), yaitu tante Marcia, beliau adalah ibu tiri dari Gio. Padahal sebenarnya Tante Marcia adalah sosok wanita yang baik hati, sabar, murah senyum, penyayang, dan perhatian. Seperti dalam penuturan-penuturannya saat menghadapi Gio berikut:

Tante Marcia tersenyum manis. “Buku kamu sudah  tante letakkan di rak bukumu,” ujarnya lirih “Kalau pulang jangan larut malam,” tutur tante Marcia “Hari ini ayah ada tugas ke luar kota, mungkin akan pulang besok lusa dan selama ayah pergi kamu adalah tanggung jawab tante.”

“Gio, dari tadi siang kamu belum makan kan? Tante belikan makanan dulu ya,” ujar tante Marcia “Ayo makan Gio,” ujar tante Marcia sambil membuka sebungkus nasi yang baru dibelinya. “Tante suapin ya,” tawarnya Tante Marcia tetap bersiakp baik terhadap Gio, padahal Gio suka bersikap buruk kepadanya.

 

Tokoh Ayah

Tokoh ini mempunyai watak baik hati, bijaksana, dan suka bekerja keras. Dalam cerpen ini, ayah berperan sebagai tokoh figuran. Dapat dilihat dari dialog ayah dengan Gio dan penuturan dari tokoh lain berikut: “Gio.” Hadang ayah. Ternyata ayah telah mendengar semua kalimat yang aku lontarkan kepada tante Marcia “Ayo, minta maaf sama ibu,” perintah ayah Hari ini ayah dinas ke luar kota dan akan pulang besok lusa, itu artinya selama tiga hari di rumah hanya ada aku dan tante Marcia. Aku  tidak bisa membayangkan bagaimana kepenatanku. Ayah Gio adalah orang yang bijaksana, setelah beliau tahu bahwa Gio telah bersikap kurang sopan terhadap tante Marcia, ayah menyuruh Gio untuk meminta maaf. Ayah juga seseorang yang rajin bekerja, buktinya, beliau sampai berhari-hari ke luar kota untuk melaksanakan tugas dinasnya.

 

Tokoh Desty

Tokoh ini merupakan tokoh yang juga berpengaruh dalam menyadarkan sikap Gio. Desty adalah pacar Gio yang mempunyai watak baik hati, dewasa, dan penuh perhatian terhadap  sikap Gio yang kurang baik kepada tante Marcia. Desty berperan sebagai tokoh tritagonis. Dapat dilihat dari penuturannya dan penuturan dari tokoh lain berikut: …bahwa aku memiliki bidadari cantik yang mampu meleburkan hatiku dan mampu mengusir kepenatanku jika bersamanya…

Desty tertawa kecil sambil mengacak-ngacak rambutku. “Kamu lucu Gio, tante Marcia adalah orang yang baik tapi kenapa kamu mengatakan beliau menyebalkan. Kamu nggak boleh begitu Gio. Selama tante Marcia nggak pernah memukulmu, kamu nggak boleh benci dengannya,” tutur Desty dengan suaranya yang mirip Shiren Sungkar “Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Desty sambil meraih tanganku. Digenggamnya tangan kiriku itu dalam telapak tangan mungilnya. Gio sangat mengagumi sosok Desty yaitu dengan mengumpamakan Desty sebagai “bidadari” dan saat Desty memberi perhatian serta pengertian kepada Gio agar Gio sadar akan sikapnya terhadap tante Marcia.

3)   Perwatakan

Pada cerpen “Bunda” ini, tokoh utama, yaitu Gio mempunyai watak bulat,

awalnya Gio adalah orang yang baik karena sebenarnya Gio memang orang yang baik tetapi setelah ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama tante Marcia, Gio berubah menjadi orang yang cuek dan tidak bisa menghargai orang tua.

Seperti yang digambarkan oleh pengarang melalui penuturan dan isi hati Gio berikut:

Sikap buruk Gio:

“Sampai kapan pun aku nggak akan memanggil tante dengan sebutan “Ibu.”  Dengan suara yang cukup nyaring aku berkata kepada tante Marcia. Sampai-sampai beliau terkejut.

“Suka-suka aku mau pulang kapan.” “Tante, lihat bukuku yang bersampul ungu nggak?,” tanyaku pada tante Marcia saat tiba di ruang keluarga tersebut. Aku mengobrak-abrik majalah yang telah dibreskan tante Marcia

 

Gio berubah menjadi baik:

Begitu berarti kalimat-kalimat Desty bagiku. Selama ini pintu hatiku tak pernah terbuka untuk tante Marcia, orang yang selalu berusaha memperhatikanku walaupun aku tak pernah menghiraukannya.

Sampai-sampai tak pernah kurasakan kebaikan darinya, padahal di setiap waktu beliau selalu mempersembahkan semua kebaikan tulusnya kepadaku. Air mata tante Marcia menetes lagi. Beliau sangat terharu. Seraya beliau mendekapku ke dalam pelukan hangatnya. Selama ini takku rasakan pelukan hangat dari seorang ibu. Rindu rasanya dengan kasih sayang dari seorang ibu. Sekaranglah aku dapat merasakannya kembali. “Mulai sekarang aku akan memanggil tante Marcia dengan sebutan Bunda,” kataku dengan senyuman bahagia  Gio bersikap buruk kepada tante Marcia kerena Gio tidak suka dengan tante Marcia (ibu tiri), Gio masih sangat sayang kepada ibu kandungnya yang sudah meninggal itu tetapi seiring berjalanya waktu Gio yang

semula jahat, tidak bisa menghargai tante Marcia, kini telah berubah menjadi orang yang baik, menyadari sikap buruknya terhadap  tante Marcia.

4)  Plot (alur) cerita

Plot cerita berbeda dengan jalan cerita. Plot merupakan jalinan atau rangkaian, atau untaian peristiwa sebab-akibat yang terdapat dalam jalan cerita. Sedangkan jalan cerita mengacu pada pengertian arah gerak cerita dari a-z. Plot secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian, yakni awal (perkenalan), tengah (konflik), dan akhir (penyelesaian). Jika kamu  membuat cerpen, sebaiknya menggunakan tiga bagian tersebut agar tulisanmu menjadi hidup. Ketiga hal ini merupakan hal utama yang selalu dihayati dalam membuat cerpen. Selain itu, sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat.

Tahapan Plot

  1. Situation (exposition)

Pengarang memperkenalkan atau melukiskan situasi awal cerita. Pada bagian awal atau eksposisi dalam cerpen ini berupa tante Marcia yang setiap harinya selalu membersihkan kamar Gio, sosok wanita yang pengertian dan lemah lembut. Aku merebahkan badanku yang kekar di tempat tidurku yang semenjak kedatangan seseorang pengganti ibuku kamarku berubah rapi dan nyaman sepanjang hari. Sebenarnya aku bukan tipe cowok yang rajin merapikan kamar, tapi tante Marcialah yang setiap pagi merapikan

kamarku, melipat selimutku, membereskan buku-buku atau komik yang aku baca setiap akan tidur.

  1. Generating circumtances

Awal munculnya konflik, peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak. Pada bagian ini konflik awal muncul pada saat tante Marcia yang sedang sibuk membersihkan majalah yang berserakan di meja yang berada  di depan rak televisi. Dan Gio berusaha untuk mencari bukunya sambil kebingungan.

“Tante, lihat bukuku yang bersampul ungu nggak?,” tanyaku pada tante Marcia saat tiba di ruang keluarga tersebut. Aku mengobrak-abrik majalah yang telah dibreskan tante Marcia

Tante Marcia merasa aneh dengan panggilan yang ditujukan Gio kepadanya, karena sudah setahun lebih beliau menjadi ibu tirinya Gio dan tinggal bersama Gio tapi masih saja dipanggil dengan sebutan “tante”. Gio memang tidak suka dengan tante Marcia, maka dari itu Gio tidak pernah memanggil tante Marcia dengan sebutan “ibu”. Bisa dilihat dari penuturan Gio sendiri terhadap tamte Marcia.

Setahun setelah ibuku meninggal, ayah menikah untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan tante Marcia. Dan selama lebih dari dua  belas bulan ini aku tinggal bersama ibu tiri yang tidak aku suka. Aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ibu, padahal ayah sudah melatihku untuk memanggil tante Marcia dengan panggilan yang indah itu. “Sampai kapan pun aku nggak akan memanggil tante dengan sebutan “Ibu.” Dengan suara yang cukup nyaring aku berkata kepada tante Marcia. Sampai-sampai beliau terkejut.

  1. Rising action

Konflik mulai bergerak menanjak atau memuncak. Selisih pendapat atau masalah muncul semua. Pada bagian ini ditunjukkan oleh  tante Marcia yang setiap saat selalu memperhatikan Gio, tante Marcia berusaha untuk memperlakukan Gio seperti anak kandung sendiri, tetapi Gio tidak suka, dan membentak-bentak tante Marcia. “Enggak. Aku bukan anak TK lagi. Tante nggak usah sok baik sama aku,” bentakku saat tante Marcia menyodorkan selembar uang warna hijau bergambar Oto IskSaudarar Di Nata. Aku berlalu tanpa menghiraukan uang itu Tanpa disadari, ayah mendengar pembicaraan Gio dan tante Marcia, ayah langsung menyikapi perilaku Gio yang kurang sopan terhadap tante Marcia. Ayah menyuruh Gio untuk meminta maaf kepada tante Marcia, Gio bersedia meminta maaf tapi dengan perasaan terpaksa.

“Gio.” Hadang ayah. Ternyata ayah telah mendengar semua kalimat yang aku lontarkan kepada tante Marcia “Ayo, minta maaf sama ibu,” perintah ayah Dengan sedikit terpaksa aku menjabat tangan tante Marcia. Senyum manisnya menunjukkan bahwa beliau telah memaafkanku.

  1. Climax

Peristiwa atau konflik yang mencapai puncak, proses penyelesaian. Pada bagian ini Desty (pacar  Gio) membantu memberi pengertian kepada Gio bahwa sikapnya selama ini sudah membutakan hatinya,

sehingga kebaikan tante Marcia tidak pernah diakui dan dirasakannya, Desty berupaya menyadarkan Gio dengan kalimat-kalimat perenungan seperti berikut: “Gio, tante Marcia orang yang sangat baik,” jawab Desty. Tadi tante Marcia pingsan ketika melihat kamu dibawa ke rumah sakit dengan berlumuran darah. Setelah siuman nggak henti-hentinya tante Marcia menangisi kamu Gio,” sambungnya sambil tangannya masih menggenggam tanganku Gio tetap keras kepala, dia masih belum bisa menerima perkataannya Desty, tapi Desty terus berusaha. “Tapi tante Marcia bukan ibuku Des. Dia nggak melahirkan aku.”

“Tapi Gio, bagaimanapun juga kamu harus bisa menerimanya sebagai ibu kamu.” Tak henti-hentinya Desty menyanjung tante Marcia

“Sudah saatnya kamu bisa menerimanya,” ujar Desty

  1. Denouement

Tahapan penyelesaian persoalan cerita, yang pada akhirnya menemukaan akhir cerita yang engesankan. Pada bagian ini tokoh aku yang berperan sebagai Gio  sudah mulai menyadari kesalahannya selama ini, dia mulai mengerti dengan apa yang diucapkan Desty ketika itu. Dapat dilihat pada isi hati dan penuturan Gio, serta sikap tokoh lain berikut ini: Begitu berarti kalimat-kalimat Desty bagiku. Selama ini pintu hatiku tak pernah terbuka untuk tante Marcia, orang yang selalu berusaha memperhatikanku walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sampai-sampai tak pernah kurasakan kebaikan darinya, padahal di setiap waktu beliau selalu mempersembahkan semua kebaikan tulusnya kepadaku. Air mata tante Marcia menetes lagi. Beliau sangat terharu. Seraya beliau mendekapku ke dalam pelukan hangatnya. Selama ini takku rasakan pelukan hangat dari seorang ibu. Rindu rasanya dengan kasih sayang dari seorang ibu. Sekaranglah aku dapat merasakannya kembali.

“Mulai sekarang aku akan memanggil tante Marcia dengan sebutan Bunda,” kataku dengan senyuman bahagia. Gio sadar, dia berubah sayang dan baik kepada tante Marcia, serta bersedia memanggil tante Marcia dengan sebutan “Bunda”. Tante Marcia dan Desty pun tersenyum bahagia. Cerpen “Bunda” ini memiliki alur mundur, terlihat dari Gio yang mengungkit-ungkit masa lalunya, yaitu tentang ibu kandungnya yang sudah meninggal setahun lalu. Setahun setelah ibuku meninggal, ayah menikah untuk yang kedua kalinya, yaitu dengan tante Marcia. Dan selama lebih dari dua belas bulan ini aku tinggal bersama ibu tiri yang tidak aku suka. Aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ibu, padahal ayah sudah melatihku untuk memanggil tante Marcia dengan panggilan yang indah itu.

Aku sulit sekali memejamkan mata. Bayanganku tertuju pada saat sebelum ibuku dipanggil oleh Sang Illahi. Ibuku sangat memanjakanku, maklum aku adalah anak semata wayang. Semua keinginanku beliau berusaha menurutinya………………………Namun sayang, ibu, orang yang paling aku sayang di dunia ini telah pergi meninggalkanku dan ayah.

5)  Setting atau latar cerita

Latar atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Latar merupakan sarana yang utama dalam sebuah cerpen karena dari latarlah, muncul tokoh dan penokohannya, lalu dari tokoh muncullah konflik. Akhirnya, dari konflik ini muncullah alur cerita. Pemahaman latar melalui beberapa informasi mengenai banyak tempat, lalu menghayatinya, dan mengungkapkannya kembali  demi kepentingan cerita sangatlah penting. Oleh karena itu, seorang penulis cerpen tak akan dapat menulis cerita jika di dalam imanjinasinya tak ada gambaran latar cerita, baik itu yang bersifat geografis, budaya, maupun latar yang sangat abstrak sekalipun. Latar biasanya meliputi tiga jenis, yaitu tempat, waktu, dan suasana.

Latar tempat menunjukkan di mana, latar waktu menunjukkan kapan, dan latar suasana menunjukkan bagaimana.

6)  Latar tempat

Tempat atau daerah terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Sangat mungkin latar tempat sebuah teks prosa terdapat di dalam ruangan dan tidak menutup kemungkinan latar tempat terjadi di ruang lingkungan, jalanan atau di sebuah kota (Stanton,2007: 39). Latar tempat yang terdapat dalam cerpen “Bunda”, yaitu: Rumah Gio ( Ruang keluarga) Di ruang keluarga sayup-sayup ku dengar suara televisi, sepertinya tante Marcia belum tidur, beliau masih menikmati acara televisi. Pukul setengah dua aku tiba di rumah. Ku parkirkan Ninjaku di garasi rumah yang tempatnya bersebelahan dengan ruang keluarga. Di ruang keluarga nampaknya tante Marcia sedang sibuk membaca tabloit yang telah menjadi langganannya. Gio mengalami beberapa konflik dengan tante Marcia saat di ruang keluarga.

Rumah sakit

Aku membuka mataku pelan-pelan. Kulihat sekelilingku  bewarna putih. Dinding ruangan tempat aku berbaring berwarna putih, bantal, seprei, bahkan selimut yang aku kenakanpun berwarna putih. Bau

menyengat obat membaur disetiap sudut ruangan yang tidak begitu lebar itu.

“Kamu di rumah sakit, Gio,” ujar tante Marcia  Setelah Gio mengalami kecelakaan, Gio dibawa ke rumah sakit dan saat Gio mulai sadar atas sikapnya, serta mengalami konflik dengan Desty juga berada di rumah  sakit.

7)  Latar waktu

Waktu terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Latar waktu bisa berupa detik, menit, jam, jari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Tetapi juga sangat mungkin pengarang tidak menentukan secara persis tahun, tanggal atau hari terjadinya peristiwa, namun hanya menyebutkan saat malam.(Stanton,2007: 43). Latar waktu yang terdapat dalam cerpen “Bunda”, yaitu: Malam hari “Kalau pulang jangan larut malam,” tutur tante Marcia Sampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, namun sepertinya ayah belum pulang. Di ruang keluarga sayup-sayup kudengar suara televisi, sepertinya tante Marcia belum tidur, beliau masih menikmati acara televisi. Aku sulit sekali memejamkan mata. Malam ini aku melajukan Ninjaku di jalanan yang panjang bersama dengan kepenatan yang menyesaki hatiku. Pada cerpen “Bunda” mengandung latar waktu malam hari yang ditunjukkan pada penuturaan tante Marcia dan isi hati Gio yang mengatakan sedang berada di malam hari.

8)  Latar Alat

benda-benda yang digunakan tokoh dalam sebuah cerita dan berhubungan dengan suatu lingkungan kehidupan tertentu. (Stanton,2007:47). Ada beberapa alat yang mendukung dalam cerpen “Bunda” tersebut, yaitu selimut, buku  pelajaran, komik, tabloit, sepeda motor Ninja, jumper, dan kunci sepeda motor.  Dapat dilihat dalam cuplikan cerpen berikut:

Tapi tante Marcialah yang setiap pagi merapikan kamarku, melipat selimutku, membereskan buku-buku atau komik yang aku baca setiap akan tidur. “Mau kemana Gio?,” tanya tante Marcia ketika melihatku memakai jumper dan berdSaudaran rapi sambil membawa kunci sepeda motor ninjaku Di ruang keluarga nampaknya tante Marcia sedang sibuk membaca tabloit yang telah menjadi langganannya.

9)  Konflik

Pertentangan atau ketegangan di dalam cerita rekaan atau drama. Konflik dibagi atas tiga jenis, yaitu: Konflik psikis atau mental merupakan konflik yang terjadi di dalam diri seseorang atau isi hati seseorang. Konflik ini dialami oleh tokoh ketika dia menghadapi alternatif-alternatif dan ia harus memilihnya salah satu atau membuat keputusan. Pada cerpen “Bunda” dapat dilihat pada tokoh Gio yang berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi kepenatannya berikut:

Akhir-akhir ini ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga harus pulang larut malam. Aku bosan di rumah, apalagi di rumah hanya ada aku dan tante Marcia. Aku ingin mencari hiburan di luar rumah.

Aku terdiam. Kucerna semua kalimat dari Desty.

Begitu berarti kalimat-kalimat Desty bagiku. Selama ini pintu hatiku tak pernah terbuka untuk tante Marcia, orang yang selalu berusaha memperhatikanku walaupun aku tak pernah menghiraukannya.

Sampai-sampai tak  pernah kurasakan kebaikan darinya, padahal di setiap waktu beliau selalu mempersembahkan semua kebaikan tulusnya kepadaku.

Penggalan cerpen di atas adalah bagian dari konflik psikis yang dialami oleh Gio saat hatinya merasa penat, sehingga Gio berusaha untuk mencari jalan keluar dengan cara mencari hiburan di luar

rumah. Dan pada saat Gio mulai mencerna kata-kata Desty, bahwa tante Marcia sebenarnya adalah sosok ibu tiri yang baik.

 

Konflik Sosial

merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan tokoh-tokoh yang lain, seseorang dengan kelompok lain, seseorang dengan kelompok lain, atau konflik yang terjadi diantara tokoh-tokoh. Konflik ini dapat dilihat pada tokoh Gio yang sedang berdialog dengan tante Marcia, Ayah, dan Desty.

“Sampai kapan pun aku nggak akan memanggil tante dengan sebutan “Ibu.” Dengan suara yang cukup nyaring aku berkata kepada tante Marcia. Sampai-sampai beliau terkejut “Gio.” Hadang ayah. Ternyata ayah telah mendengar semua kalimat yang aku lontarkan kepada tante Marcia “Ayo, minta maaf sama ibu,” perintah ayah Dengan sedikit terpaksa aku menjabat tangan tante Marcia. Senyum manisnya menunjukkan bahwa beliau telah memaafkanku.

“Gio, tante Marcia orang yang sangat baik,” jawab Desty. Tadi tante Marcia pingsan ketika melihat kamu dibawa ke rumah sakit dengan berlumuran darah. Setelah siuman nggak henti-hentinya tante Marcia menangisi kamu Gio,” sambungnya sambil tangannya masih menggenggam tanganku “Apa urusannya denganku?,” tanyaku sewot Gio menbentak tante Marcia sambil mengancam tidak akan pernah memanggil tante Marcia “Ibu”. Gio secara terpaksa menjabat tangan tante Marcia karena disuruh oleh ayah. Gio keras kepala, tetap mempertahankan rasa bencinya terhadap tante Marcia saat diberi pengertian oleh Desty.

Konflik Fisikal

Merupakan  konflik yang terjadi ketika tokoh berusaha mengatasi rintangan-rintangan yang ditemui dalam melaksanakan kemauannya. Misalnya pada saat tokoh berhadapan dengan alam. Dapat dilihat saat Gio mengendarai sepeda motor di jalan raya dan mengalami kecelakaan. “Ciiiiitt…” Suara rem motorku terdengar cukup keras menggesek aspal. Jalanan licin itu membuat motorku terpelanting jatuh. Aku tak dapat mengendalikannya Ketika tiba di rumah Desty aku memakirkan motorku di halaman

rumahnya yang luas. Banyak bunga anggrek  di halaman rumahnya, mungkin ibunya suka menanam anggrek. Setelah itu aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Saat Gio berada di jalan raya yang licin dan saat berada di halaman rumah Desty yang banyak ditanami bunga anggrek.

10)  Amanat

Amanat merupakan  pesan yang hendak disampaikan pengarang dalam cerpennya. Umumnya seorang pengarang pasti menyampaikan amanat dalam karyanya. Oleh karena itu, amanat harus dicari oleh pembaca. Pembaca harus telliti  agar dapat menangkap apa yang tersirat di balik sebuah cerpen. Selain itu, biasanya setiap pembaca dapat berbeda-beda dalam menangkapatau menafsirkan  amanat pada sebuah cerpen.

 

Jadi cerpen “Bunda” mengandung amanat:

  1. Janganlah durhaka pada orang tua, walaupun orang tua tersebut bukan orang tua kandungmu!. Terlihat pada penuturan Gio terhadap tante Marcia berikut:

“Sampai kapan pun aku nggak akan memanggil tante dengan sebutan “Ibu.” Dengan suara yang cukup nyaring aku berkata kepada tante Marcia. Sampai-sampai beliau terkejut

Gio berkata kasar kepada tante Marcia yang selalu berbuat baik kepada Gio, karena Gio tidak menyukai tante Marcia

  1. Hormatilah orang yang lebih tua, dan sayangilah sesama!
  2. Janganlah lama-lama terpuruk oleh kesedihan masa lalu, karena

memikirkan masa depan itu lebih penting!, terlihat dalam isi hati Gio berikut:

Aku sulit sekali memejamkan mata. Bayanganku tertuju pada saat sebelum ibuku dipanggil oleh Sang Illahi. Ibuku sangat memanjakanku, maklum aku adalah anak semata wayang.

Semua keinginanku beliau berusaha menurutinya………………………Namun sayang, ibu, orang yang paling aku sayang di dunia ini telah pergi meninggalkanku dan ayah.

Terlihat sekali bahwa Gio sangat merasa terpukul dan sedih pada isi hatinya tersebut dan melampiaskannya kepada orang lain atau tidak bisa menerima tante Marcia. Pintu hati Gio tertutup oleh kesedihan masa lalu yang akhirnya menyebabkan kebencian.

Diunduh pada  http://ochascorpiogirl.blogspot.co.id/2012/09/apresiasi-cerpen-bunda-by-ocha.html

 

  1. Perbedaan Antara Cerpen dan Novel

Sebelum dibicarakan elemen – elemen yang membangun fiksi secara struktural, ada beberapa hal yang berkaitan dengan pembedaan jenis prosa fiksi, yaitu cerita pendek dan novel. Ditinjau dari segi

‘panjangnya’ cerpen relatif lebih pendek dari novel. Walaupun didapatkan pula cerpen yang panjang dan novel yang pendek. Secara lebih spesifik, istilah cerpen biasanya diterapkan pada fiksi yang

panjangnya antara seribu sampai lima ribu kata. Sedangakn novel umumnya berisi empatpuluh lima ribu kata atau lebih. Karya fiksi yang berkisar antara limabelas ribu sampai empatpuluh lima ribu kata

bisanya disebut sebagai ‘ novela’ . Pertimbangan dari segi panjang cerita tersebut pada dasarnya

terlampau bersifat tekhnis dan mekanis, tetapi beberapa kualitas penting kedua jenis fiksi tersebut memang berkaitan erat dengan panjang pendeknya.  Sebuah cerpen bukanlah sebuah novel yang dipendekkan dan juga bukan bagian darti novel yang belum ditul;iskan. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa yang tunggal. Di samping itu, tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan karena pengembangan membutuhkan waktu, karena tokoh dalam cerpen biasanya langsung ditunjukkan karakternya. Artinya, hanya ditentukan tahapan tertentu perkembangan karakter tokohnya. Karakter dalam cerpen lebih merupakan revelation ‘ penunjukkan’ daripada development ‘ perkembangan ‘. Selanjutnya dimensiwaktu dalam cerpen cenderung terbatas,walaupun dijumpai pula cerpen  –  cerpen yang menunjukkan dimensi waktu yang relatif luas. Ringkasnya, cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression ‘ pendataan  ‘concentration ‘ pemusatan ‘ dan intensity ‘ pendalaman, yang kesemuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang  diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Novel cenderung bersifat expands ‘ meluas ‘, complexity ‘

kompleksitas ‘. Novel memungkinkan adanya penyajian tentang panjang lebar suatu tempat/ruang. Oleh karena itu, tidaklah mengeherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang selalu menjadi pusat perhatoian para novelis. Masyarakat memilki dimensi ruang dan waktu.

Sebuah novel jelas tidak berarti dapat dibaca selesai dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah  novel secara khusus cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu

dan hal ini tidak mungkin dalam cerpen. Akhirnya, novel mencapai keutuhannya secara inklusi (inclusion),  yakni bahwa novelis mengukuhkan keseluruhannya dengan kendali tema karyanya.

Analisilah unsur-unsur dari sebuah cerpen! ( cerpen di bawah ini)

DOA DISETIAP AIR MATAKU

Karya Rachma Mamlu’atul Maulla

Aku masih termenung di antara rintikan air hujan sore ini,berharap mendapatkan inspirasi agar dapat membuat cerpen dan menambah koleksi cerpenku,tapi bukan inspirasi cerita yang ku dapatkan, melainkan pernyataan abah jika aku akan di kirim ke pesantren untuk meneruskan studyku,itu bukan pilihanku,aku tak pernah berpikiran jika aku akan di pondokkan, bagiku itu sama saja dengan di penjara,aku tak lagi dapat membuat cerpen ataupun main dengan teman-temanku,huffttt….ku usap kaca jendelaku yang berembun dengan telapak tanganku . . .

‘’Selna . . . abah udah daftarin kamu di pesantren tempat abah dan tetehmu dulu menimba ilmu,besok kamu ikut abah kesana buat ngasih formulir ini, isi formulir ini’’.ujar abah menyodorkan selembar kertas padaku, aku hanya menganggukkan kepala  menerima kertas dari abah dan masuk kedalam kamar,ku tenggelamkan mukaku di antara bantal dan boneka-boneka kesayanganku,ku peluk erat-erat benda milikku yang ada di kamar, mungkin sebentar lagi aku akan meninggalkan ini semua,mungkin aku akan

kehilangan ini semua,ku lirik tumpukan novel di rak bukuku,dan mungkin juga tumpukan novel itu akan berubah menjadi tumpukan kitab kuning ataupun al qur’an yang akan menemani setiap hariku,

‘’Selna…makan malam dulu nak,abah sudah menunggu di ruang makan’’,kata umi membuka pintu kamarku ‘’selna masih kenyang umi,selna mau tidur aja ya’’.kataku ‘’baiklah….’’.kata umi pengertian menutup pintu kamarku. Doa Disetiap Air Mataku Hari ini aku akan berangkat ke pesantren dengan baju dan barang-barang yang boleh ku bawa,tentunya aku harus meninggalkan laptop dan boneka-boneka yang selalu menemani tidur malamku,segera aku berpamitan pada abah dan umi setelah mobil jemputan sampai di depan rumahku . .

‘’mantabkan hatimu,kamu harus ingat untuk apa kamu kesana,jangan salah pengertian’’.kata abah mengelus jibab yang menutup kepalaku ‘’jaga kondisi kamu ya na,seminggu sekali atau 2 minggu sekali abah dan umi pasti akan menyambangimu,jangan kwatir ya,allah pasti akan selalu melindungimu selagi niat kamu itu baik’’.pesan umi padaku,aku hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa,aku tak tau apa aku siap menjalani hariku yang baru,aku melihati setiap sudut rumahku . . .selamat tinggal, batinku memasuki mobil,dari kaca jendela mobil yang tak transparan itu terlihat jika umi tengah menangis dan bernego dengan abah,tapi abah hanya menggandeng umi masuk kedalam rumah, dari kecil memang umi yang paling dekat dan selalu mendukung aku,tapi kali ini umi hanya menuruti kemauan abah untuk megirim aku ke pesantren,hmmmmm…. ku Saudararkan kepalaku dan menutup mataku berharap jika aku segera terbangun dari mimpi buruk ini . . .

Aku tlah sampai di pesantren yang akan mengubah hidupku,orang-orang di sekelilingku begitu asing di mataku, ada sekerumunan perempuan berjilbab tengah mendiskusikan tugas mereka,ada juga yang tengah asyik menyantab makanan mereka bersama-sama,dan ada pula yang menghabiskan waktunya untuk membaca al qur’an di kamarnya,aku masuk kedalam kamarku,menata semua barangku,kurasa semua menjadi berjalan dengan lancar hingga aku mendapatkan teman,minggu pertama,kedua dan ketiga abah dan umi masih menjengukku seperti teman-temanku yang lain,hingga pada akhirnya aku aku tak mendapati abah dan umi menjengukku,aku hanya terdiam di antara teman-temanku yang tengah asyik menumpahkan isi hatinya pada orang tuanya . .

‘’Selna….selamat ya’’.rani teman sekamarku menghampiriku ‘’selamat???selamat buat apa?’’,aku tak mengerti ‘’atas kelahiran anak pertama tetehmu,tadi sewaktu ibuku menyambangiku beliau bilang jika tetehmu melahirkan bayi laki-laki,menurutnya abah dan umimu sangat gembira dengan elahirannya,aku pikir kamu juga begitu’’.kenang rani,aku terdiam sejenak ‘’pasti…’’.ku anggukkan kepalaku

‘’oiya aku ada jam ngaji nih,aku pergi dulu ya na’’.kata rani berlalu dari hadapanku,aku terdiam,jadi ini alasannya mengapa abah dan umi tak lagi mengunjungiku,apa mereka nggak tau jika aku sangat merindukan mereka,apa kehadiran anak teteh tlah menggantikan posisiku di rumah,apa mereka membuangku,apa mereka tak pernah memikirkan keadaanku sekarang,uangku juga semakin menipis,aku nggka bisa terus-terusan seperti ini,aku harus bisa menghidupi diriku,ya…aku harus bisa lakukan itu…

‘’kamu itu suka banget menyendiri ya’’.kata efril duduk di sampingku,cowok yang di kagumi banyak cewek di sekolahku karna kegantengan dan ketajiran orang tuanya itu ‘’emangnya kenapa???’’.tanyaku balik ‘’kamu selalu duduk menyendiri disini,aku pikir kamu suka menulis,kamu nggak mau ketawa-tawa bareng teman temanmu seperti itu’’.katanya mengarahkan jari telunjuknya di antara kerumunan para santri yang tengah asyik bercSaudara ‘’kata siapa aku nulis??’’. ‘’ini…aku nemuin ini disini kemarin sewaktu kamu meninggalkan tempat ini,cerpen kamu bagus kok’’.dia menunjukkan lembaran kertas yang berisi cerpenku yang terjatuh kemarin,pujinya yang membuatku tersipu malu ‘’hmmmm aku lebih suka di tempat yang tenang seperti ini,menghabiskan waktu dengan merasakan semilir angin yang menerpaku,dengan begitu aku bisa mendapatkan inspirasi dan aku bisa membuat cerita’’.kataku antusias ‘’buat apa kamu membuat cerita sebanyak itu jika kau tak mendapatkan hasilnya’’.katanya

‘’aku itu bukan anak yang hanya mengSaudaralkan uang dari orang tuanya’’.aku menyelanya

‘’bu..bukan itu maksud aku,kamu kan bisa mempublikasikan cerita-cerita kamu dan kamu bisa mendapat uang’’.efril merasa tak enak hati karna telah berkata seperti itu ‘’hmmmmmm…’’,aku menimbang-nimbang kata-kata efril ‘’katanya pingin punya uang????’’.efril meledekku ‘’iya sih,tapi gimana caranya aku melakukan itu semua,kamu kan tau sendiri jika aku tinggal di pesantren dan tidak di perbolehkan membawa laptop’’.aku berdiri memunggungi efril ‘’kamu kan punya hari minggu’’. ‘’terus????’’.

‘’kan kamu bisa ke warnet untuk mempublikasikan cerpenmu itu,mengirim cerpen-cerpenmu ke majalah agar mendapatkan uang,beres kan’’.efril nyengir ‘’pinter juga kamu’’.aku terseyum mendengar ide darinya ‘’efril….’’.dia semakin menunjukkan gigi-gigi putihnya itu,aku tak percaya jika dia memiliki pemikiran yang dewasa seperti itu,aku pikir dia Cuma mau berteman dengan orang sederajatnya saja,ternyata dia juga mau nyamperin aku dan membantuku yang tak sepadan dengannya,kini aku di sibukkan dengan membuat cerpen,hingga aku sering tidak mengikuti pelajaran karena aku selalu izin pergi ke lap komputer ataupun warnet dengan alasan untuk mengerjakan tugasku,dan kini aku mendapatkan keinginanku,cerpenku tlah di muat dan aku mendapatkan honorku,cukuplah untuk sekedar membiayai makanku setiap hari,tapi…aku sering mendapat nilai di bawah 70 karena sering tidak mengikuti pelajaran,hingga suatu ketika abah dan umi menyambangiku di pesantren di waktu jam besuk santri… ‘’abah ….’’.ku cium tangan abah dan umi ‘’kamu ini apa-apaan,kenapa raport kamu merah,abah mendapat laporan dari guru kamu jika kamu sering nggak ikut pelajaran,kamu sering tidur di kelas,apa kamu lupa tujuan kamu disini untuk apa???’’, ‘’tapi abah . . .’’.aku mencoba membela diriku,tapi percuma,amarah telah menggelegak di dalam sanubari orang tua itu ‘’tapi apa,kamu mau bilang jika pesantren bukan tempat kamu,jika kamu nglakuin ini semua karna terpaksa,iya…kamu itu harus bisa hidup mandiri,kamu harus bisa mengatur dan menghidupi dirimu sendiri,kamu nggak bisa terus-terusan menggantungkan hidupmu pada orang lain,kamu harus mempersiapkan dirimu jika suatu ketika abah atau umimu sudah tidak ada,kamu harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri ‘’.abah melotot matanya ‘’abah sudah abah,kecilkan suara abah,malu di lihat orang tua santri yang lain,istigfar abah istigfar’’,umi mengelus dada abah,abah mencoba mengatur nafasnya dan aku hanya menunduk, jam besuk sudah habis dan aku harus segera masuk kedalam pesantren, ‘’maafin selna abah,umi,selna janji akan nglakuin yang terbaik buat diri selna,’’kataku ‘’iya nak,lakukan yang terbaik buat dirimu,turuti kata hatimu,karna perubahan itu hanya akan datang dari diri kamu sendiri’’.kata umi memelukku,kupeluk umi dan mencium tangan abah, ‘’suatu saat kau akan mengerti apa yang abah maksud nak’’.kata abah memegang dadanya,aku menunduk,berlalu dari hadapan abah,ingin aku menangis,tapi aku harus ingat jika aku tak boleh nangis,aku nggak boleh cengeng….

‘’hey ….’’.efril mendekatiku ‘’hmmmmm efril’’.ku lontarkan senyumanku padanya ‘’kenapa sih,kok kelihatannya sedih gitu’’.tanyanya ‘’nggak..nggak papa kok,aku nggak lagi sedih,justru  aku tengah bahagia karna tlah mendapatkan semuanya’’.kataku tersenyum kecut ‘’oiya????bohong,kamu belum mendapatkan segalanya’’.katanya memalingkan muka ‘’kata siapa,aku menang,aku tlah mendapatkan semuanya,cerpen-cerpenku tlah di muat di majalah-majalah,dan aku tinggal nunggu panggilan untuk membuat novel,kurang apa’’.aku beranjak, memunggunginya ‘’kamu memang tlah mendapatkan semuanya selna,kamu memang menang,tapi kamu kalah selna kamuu kalah,kamu nggak bisa memenangkan hatimu,kamu nggak bisa menuruti kata hatimu,kamu selalu membohongi hatimu’’.akunya ‘’kata siapa,aku suka dengan hidupku yang sekarang,aku bahagia’’.

‘’menangislah na,jika kamu memang ingin menangis,aku tau yang kamu rasain,kamu kecewa dengan keputusan orang tuamu kan,kamu kecewa karna mereka membawamu kesini,kamu kecewa karna apa yang kamu inginkan selalu bertengtangan dengan abahmu’’. ‘’kamu sok tau,aku tak pernah berpikiran sejauh itu’’.kataku menatapnya ‘’sorotan matamu yang mengatakan itu semua padaku na’’.dia menatapku dengan tajam,aku terdiam ‘’aku lemah fril,aku lemah,aku nggak tau apa yang aku rasakan ini hanya lah perasaanku saja atau memang begitu kenyataannya,yang pasti aku kecewa dengan mereka,terutama abah,beliau begitu marah denganku hanya karna raportku merah, ‘’menangislah na’’.afril memberikan pundaknya ‘’nggak fril,aku udah janji jika aku tak akan menangis hanya karna masalah seperti ini, aku ingin membendung air mataku,karna suatu saat aku akan menangis karna orang yang aku sayang akan pergi dariku’’,kataku ‘’setiap orang tua slalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya,nggak ada orang tua yang nggak sayang dengan anaknya,suatu saat kau akan tau apa maksud abahmu kenapa abahmu begitu keras sama kamu na’’.efril menepuk pundakku,aku tersenyum ‘’makasih ya fril,kau sudah mau menjadi temanku’’.aku menoleh padanya ‘’aku akan slalu jadi temanku na,tenanglah..’’,katanya menepuk pundakku’’masuk yuk’’.ajaknya dan aku hanya mengekor di belakangnya…. semenjak itu abah dan umi tak lagi menjengukku,tak sekalipun,aku mencoba menguatkan  hati,mulai aku menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh,aku harus bisa memegang kata-kataku,saat aku rindu dengan abah dan umi aku selalu mengirim surat,aku juga tak lupa menanyakan si kecil keponakanku,dia sudah mulai belajar berjalan,pasti lucu,aku tak sabar segera menyelesaikan studyku disini dan segera berkumpul dengan keluarga,dan aku juga tak lagi mempermasalahkan jika aku tak lagi di beri uang bulanan,karna pendapatanku menjual cerpen udah lebih dari cukup untuk membiayai hidupku,aku hanya ingin membuktikan jika aku bisa,dan abah….abahlah yang selalu membalas surat-suratku,tapi aku justru merasakan jika itu umi yang membalas,dari kata-kata yang di ucapkan aku bisa merasakan jika itu umi,tapi aku mencoba membuang jauh-jauh rasa itu,mungkin saja abah sudah mulai luluh hatinya,tapi sudahlah,yang penting abah yang telah membalasnya,itu yang membuatku lebih semangat menjalani semua ini . . .semangat dari abah.

‘’cie..yang mau jadi penulis terkenal’’.santi meledekku ‘’iih apaan sih,aku kan jadi malu’’.kataku tersipu malu ‘’beneran tau,udah ayoo kita ke depan,pasti udah di tungguin’’.ajak santi,dan aku hanya mengiyakan saja ‘’selna..’’.efril memangilku ‘’efril..’’ku hentikan langkahku,menoleh kebelakang ‘’nggak nyangka ya,udah 3 tahun kita disini,dan kamu udah berhasil buktiin ke abahmu jika kamu bisa melewati masa-masa ini’’.katanya membarengi langkahku ‘’iya frl,aku juga nggak nyangka bisa nglakuin ini semua,’’kita pun duduk di barisan paling depan,acara demi acara telah di laksanakan ,saatnya pengumuman siswa yang berprestasi,dan ternyata namaku yang di sebutkan menjadi santri yang berprestasi,aku senang pastinya,nama orang tuaku pun di panggil tapi tak kunjung abah ataupun umi maju ke depan,aku pun lari kebelakang panggung dan efril mengejarku… ‘’selna..selna’’.efril menahanku ‘’kemana abah dengan umi fril kemana,abah udah janji akan datang hari ini,tapi nyatanya????abah mengingkari janjinya,mereka benar-benar udah nggak sayaag lagi denganku,buat apa aku nglakuin ini semua,buat apa aku mendapatkan semuanya jika abah dan umi tak turut merasakannya’’.aku mencoba tak menangis ‘’selna…trimakasih ya atas pialanya,umi bangga sama kamu’’,suara umi mengagetkanku, ‘’umi…..’’. ‘’iya sayang…selamat ya nak atas kemenanganmu,kamu udah buktiin sama kami,abahmu pasti bangga denganmu nak’’.umi mengelus kepalaku ‘’nggak umi,abah tak pernah bangga padaku,nyatanya abah tak datang untuk mengambilkan piala dan menjemputku’’,kataku tidur di antara paha umi ‘’abahmu tak pernah mengingkari janjinya nak,abahmu selalu menepati janjinya,seperti kamu,kamu tlah menepati janjimu menjadi anak ke  banggaan kami nak,abahmu pasti bangga sama kamu,abahmu disana pasti melihatnya’’.kata umi

‘’maksud umi apa???’’,aku tak mengeri,mengangkat kepalaku ‘’ayahmu tlah pulang ke pangkuanNYA, sepulang  dari menyambangimu,kami mengalami kecelakaan,abahmu luka parah,uang abahmu habis untuk biaya pengobatan abahmu,abahmu bilang kau tak perlu mengetahui itu semua,yang perlu kamu tau hanyalah jika abahmu sayang sama kamu,abahmu berhasil membuat kamu menjadi  anak sukses nak,dengan menyekolahkan kamu ke pesantren kamu akan dapat mendoakan abahmu jika abahmu sudah tak lagi di dunia ini,abahmu memang tak pernah mengabulkan apa yang kamu inginkan,tapi abahmu mencoba memberikan apa yang kamu butuhkan,Cuma itu yang  abah inginkan’’.jelas umi,tak terasa aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku,air mata yang sekian lama tak pernah mengalir di pipiku dan kini aku meneteskannya tanpa aku menginginkannya,apakah ini saatnya aku menangis???? ‘’teru surat-suratku umi????’’. ‘’umi yang membalasnya,itupun pesan dari abahmu,slama ini abahmu telah melakukan banyak hal yang kamu nggak tau nak,abahmu selalu melakukan yang terbaik untukmu,sekarang lakukan yang terbaik untuk abahmu nak,lakukan’’.kata ibu memelukku ‘’umi….’’.aku memeluk umi erat-erat, slama ini aku tlah salah menilai abah,abah menginginkan yang terbaik untukku,tapi mengapa aku mengecewakan abah,aku slalu membuatnya marah,bahkan aku sempat ingin membencinya ketika abah terlalu keras padaku,anak macam apa aku ini,abah melakukan ini semua untuk masa depanku tapi mengapa aku tak pernah menyadari ini semua,maafin selna abah maafin selna,selna janji akan jadi anak kesayangan abah…selna janji akan selalu ngebahagiain umi,bukan harta karna kesuksesanku nanti yang abah inginkan dariku,tapi doa dan bagaiman aku bisa menghargai setiap detik hembusan nafasku apa aku bisa bersyukur atas nikmat yang di berikan allah padaku,karna harta bukanlah segalanya,abah hanya menginginkan jika aku mengirimkan doa

untuk abah ketika abah tlah tertidur di bawah tanah yang abadi ini untuk selama-lamanya,abah tak mau jika aku tersesat di dunia,abah hanya ingin aku bisa menikmati hasil kerja kerasku di saat tua nanti dan aku bisa mendapat bekal buat aku di akhirat nanti …

Rangkuman

Prosa sebagai salah satu bentuk karya sastra, sering menbimbulkan masalah dalam mengajarkannya. Hal ini muncul karena cerita yang ditulis dalam bentuk prosa pada umumnya panjang. Masalah ini tentu saja dapat mempengaruhi proses pembelajaran prosa karena bimbingan apresiasi yang menyangkut teks enggan diberikan. Seperti halnya puisi, prosapun sebaiknya dinikmati oleh siswa secara utuh agar fungsi prosa benar-benar terwujud.

Ciri-ciri Prosa Lama :

  1. Dipengaruhi oleh sastra Hindu atau Arab.
  2. Ceritanya anonim “tanpa nama”
  3. Milik bersama.
  4. Bersifat statis, sesuai dengan kondisi masyarakat waktu itu.
  5. Berbentuk hikayat, tambo, dongeng”pembaca di bawa ke alam imajinasi”

Ciri-ciri Prosa Baru :

  1. Tertulis.
  2. Masyarakat sentris”cerita diambil dari kehidupan masyarakat sekitar”.
  3. Dipengaruhi pengarangnya.
  4. Dipengaruhi sastra Barat.
  5. Bentuk ronam,cerpen,drama.

Cerita rakyat adalah cerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seseorang kepada orang lain melalui penuturan lisan, yakni penciptaan, penyebaran, dan pewarisannya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat pendukungnya secara turun–temurun dari satu generasi ke generasi Cerita rakyat atau cerita prosa rakyat (folk literature) ke dalam tiga kelompok, yaitu (1)  mitos, (myth) (2) legenda (legend), (3) dongeng (folktale). Sejalan pembagian yang dilakukan  oleh Bascom, Haviland (1993 : 230) juga membagi cerita rakyat ke dalam tiga kelompok besar, yaitu (1) mitos, (2) legenda, (3) dongeng.

Berikut  ini penjelasan tentang jenis cerita rakyat yang hanya dibatasi  pada mite/mitos Cerita pendek adalah bentuk prosa fiktif naratif yang habis dibaca sekali duduk, serta mengandung konflik dramatik.

Unsur-unsur intrinsik cerita rekaan (cerita pendek) yakni: (1) tema, (2) alur, (3) penokohan dan perwatakan, (4) latar, (5) sudut pSaudarang atau point of view, (6) amanat dan dialog. Unsur-unsur pembangun cerita pendek yang meliputi: (1) tema, (2) penokohan, (3) plot atau alur, (4) latar atau setting, (5) sudut pSaudarang atau point of view, (6) gaya, (7) amanat,  Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya. a.  Penokohan merupakan salah satu unsur dalam cerita yang menggambarkan keadaan lahir maupun batin seseorang atau pelaku. Istilah tokoh merujuk pada orang atau pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh. Watak berarti tabiat, sifat kepribadian. Sedangkan penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Plot adalah alur cerita yang dibuat oleh pengarang yang berupa deretan peristiwa  secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kualitas sesuai dengan apa yang dialami oleh pelaku cerita.  Setting atau latar pada dasarnya adalah tempat yang melingkungi pelaku atau tempat terjadinya peristiwa. Sudut pSaudarang atau point of view adalah cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.Pada hakikatnya pembagian jenis  point of view mempunyai kesamaan yakni: (1) pengarang sebagai aku (gaya akuan), dalam hal ini ia dapat bertindak sebagai  omnicient  (serba tahu) dan dapat juga sebagai  limited  (terbatas), (2) pengarang sebagai orang ketiga (gaya diaan), dalam hal ini ia dapat bertindak sebagai omniscient (serba tahu) dan dapat juga dapat bertindak  limited  (terbatas), (3)  point of view  gabungan, artinya pengarang menggunakan gabungan dari gaya bercerita pertama dan kedua.

Gaya bahasa adalah ekspresi personal keseluruhan respon pengarang terhadap persitiwa-peristiwa melalui media bahasa seperti: jenis bahasa yang digunakan, kata-katanya, sifat atau ciri khas imajinasi, struktur, dan irama kalimat-kalimatnya, termasuk di dalamnya pilihan kata, majas, sarana retorik, bentuk kalimat, bentuk paragraf, panjang  pendeknya, serta setiap pemakaian aspek bahasa oleh pengarang.

Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca  disampaikan kepada pembaca. yang mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran dan berbagai hal yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Novel atau cerita rekaan adalah satu genre sastra yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun sebagai sebuah struktur yang secara fungsional memiliki keterjalinan ceritanya; untuk membangun totalitas makna dengan media bahasa sebagai penyampai gagasan pengarang tentang hidup dan seluk-beluk kehidupan manusia.

Unsur-unsur novel yaitu: (1) plot (alur cerita); (2) karakter (perwatakan); (3) tema (pokok pembicaraan); (4) setting (tempat terjadinya cerita); (5) suasana cerita; (6) gaya cerita; (7) sudut pandangan pencerita, (8) penokohan, (9) amanat, (10) suspense, dan (11) penanjakan cerita..

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Jansen, Eric. 2008. Brain-Based Learning, Pembelajaran Berbasis Kemampuan

Otak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah

Kosasih, E. 2004.  Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan,  Cermat

Berbahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.

————. 2015. Mandiri Bahasa Indonesia 1-3 untuk SMP. Jakarta: Erlangga.

Kridalaksana, H. 1981.  Bahasa Indonesia Baku:  dalam Majalah    Pembinaan

Bahasa Indonesia, Jilid II, Tahun 1981, 17-24. Jakarta: Bhratera.  90  Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi Profesional  F

 

Mahmud, Saifuddin dan Sa’adiah. 1997.  Teori Pembelajaran Bahasa: Materi

Kuliah Program Setara D-3. BSaudara Aceh: FKIP Unsyiah.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada

University Press.

Parera, J.D.1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar  Bahasa Indonesia SLTP

dan SMA. Jakarta: Grasindo.

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994).  Kamus Ilmiah

Populer.Surabaya : Arkola

Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya.    Jakarta: CV

Rajawali.

Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya

Pradopo, Rachmat Djoko. 1999. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan

Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius

Richard,J.C.1990.The Language Teaching Matrix. Cambridge, England:Cambridge University Press

Rusyana, Y. 1984.  Bahasa dan Sastra  dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Dipenogoro.

Santrock, J.W. (2002).  Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup

(Terjemahan).

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1995. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia

Suhadianto.(2009).  Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar.http://h2dy.wordpress.com/2009/02/17/pentingnya-mengenal-

kepribadian-siswa-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004.  LSaudarasan Psikologi Proses

Pendidikan.Bandung : PT Remaja Rosdakarya Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi Profesional  F   91

Sumarmo, Alim.  Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.  Diunduh dari

http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-

kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012

Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir

bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.

Tasai, S. Amran dan E. Zaenal Arifin. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia  untuk

Perguruan Tinggi. Jakarta:  Akademika Pressindo.

Thabrany, H. 1995. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (terjemahan).

Jakarta: Gramedia

Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley

Longman Australia Pry Limited.

Sardiman, A. M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali.

GLOSARIUM

Afektif  berkenaan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat, penerimaan atau penolakan terhadap  sustu objek amanat  suatu ajaran moral yang ingin disampaikan pengarang audible  tanda yang dapat didengar pada keterampilan berbicara diagram  lambang-lambang tertentu yang dapat digunakan untuk menjelaskan   sarana, prosedur, serta kegiatan yang biasa dilaksanakan dalam suatu sistem. disebut juga bagan Drama  berasal dari bahasa yunani yang berarti perbuatan atau gerakan drama heroik  jenis tragedi berlebihan dalam model inggris drama masalah/problem play jenis permainan yang menyenangkan dari masalah sosial atau moral tertentu sehingga membuat orang berpikir cerdas.

drama tragedi  sebuah permainan dengan akhir yang menyedihkan drill & practice  praktik dan latihan Fakta  sesuatu yang nyata berdasarkan data-data yang terlihat dan     merupakan peristiwa yang ada dan benar-benar  telah terjadi berdasarkan bukti-bukti yang kuat grafik    lukisan pasang surut suatu keadaan dengan garis atau gambar  ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari   seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik kepala bernomor

struktur aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan konvensi  Kesepakatan media audiovisual  jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, misalnya, rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan  sebagainya. kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua media auditif  media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya  memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.

media realia  semua media nyata yang ada di lingkungan alam, baik digunakan dalam keadaan hidup maupun sudah diawetkan. media-media yang terdapat di  lingkungan sekitar, ada yang berupa benda-benda atau peristiwa yang langsung dapat kita pergunakan sebagai sumber belajar media visual  media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. jenis media yang tergolong ke dalam media visual adalah: film slide, foto, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan  sebagainya. melodrama  hubungan yang rendah dari sebuah tragedi motivasi ekstrinsik      motivasi yang bersumber dari luar diri peserta didik motivasi intrinsik   motivasi yang bersumber dari dalam diri peserta didik operasional formal    tahap di mana anak dapat berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik Opini  pendapat seseorang tentang sesuatu masalah yang berisi ide Outline  Kerangka pantun  puisi melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat paradimatik  relasi antarmakna secara vertikal antarkata yang menduduki gatra sintaktis yang sama dan saling menggantikan dalam konteks tertentu pembelajaran  proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar point of view  cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang  membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca pra-operasional tahap perkembangan anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dari berbagai gambar produktif  bersifat menghasilkan produk dalam hal keterampilan   berbahasa, contohnya keteampilan berbicara dan menulis.

proyek  merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada siswa yang seluas-luasnya untuk mengamati, membaca, meneliti, menghubungkan dan mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh dari berbagai mata pelajaran puisi alegori  puisi yang sering-sering mengungkapkan cerita puisi demonstrasi  menyarankan pada puisi-puisi taufiq ismail dan mereka yang oleh jassin disebut angkatan 66 puisi deskriptif  penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa,  benda, atau suasana yang dipSaudarang menarik perhatian penyair puisi diafan  puisi polos

puisi fisikal  bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan apa adanya puisi inspiratif  diciptakan berdasarkan mood atau passion puisi konkret  puisi yang bersifat visual

puisi lama  puisi yang terikat oleh aturan-aturanpuisi lirik  puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya puisi metafisikal  puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan tuhan puisi naratif  puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting puisi obyektif  puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu se  puisi pamfet  juga menggunakan protes sosial puisi parnasian  diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair puisi platonik  puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan puisi prismatis  penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian  puisi subyektif    disebut puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri rangkuman  bentuk tulisan singkat yang disusun dengan alur dan sudut pandang yang bebas, tidak perlu memberikan isi dari seluruh karangan secara proporsional. disebut juga ikhtisar refleksi  sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar struktur batin  istilah hakikat puisi struktur lahir puisi  metode puisi dan struktur fisik puisi universal  ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia