Implementasi Pendekatan Ilmiah (Saintifik) Dalam Pembelajaran Mencipta Karya Sastra (Puisi)

Kurukulum 2013 mengalami pro dan kontra berhubungan dengan kesiapan komponen untuk melaksanakannya. Di luar pro dan kontra, kurikulum 2013 sudah mulai disosialisasikan dan beberapa sekolah sudah mulai menerapkan. Sekaitan dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, Kurikulum 2013 memandang bahasa sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan sehingga pendekatan yang digunakan mengacu pada pendekatan berbasis teks, Selain itu, Kurikulum 2013 juga menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik), yaitu dengan urutan sederhana lima pengalaman belajar : mengamati, menanya, mengasosiasi, menganalisis dan mengkomunikasikan. Dalam proses pembelajaran sastra sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia, pendekatan saintifik dapat dilakukan. Hal itu tergambar dalam pelaksanaan pembelajaran penyusunan puisi yang telah penulis lakukan.

Kurukulum 2013 mengalami pro dan kontra berhubungan dengan kesiapan komponen untuk melaksanakannya. Kritik yang tajam pada Kurikulum 2013 disampaikan oleh Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwo khususnya kurikulum Bahasa Indonesia. Beliau menyatakan ada dua batu sandungan‖ yang -kemungkinan- berpeluang untuk membalik haluankan guru kembali menggunakan pendekatan struktural‖, praktek tiga puluh tahunan yang lalu. Dalam Kurikulum 2013 dijumpai sejumlah istilah tata bahasa, kosakata, dan (penamaan) jenis teks, apalagi banyak di antaranya berupa istilah baru, yang belum lazim beredar di kalangan guru. Batu sandungan pertama terdapat pada indikator untuk SMP, yang akan dikembangkan untuk pembuatan soal-soal pada tes. Batu sandungan kedua berkaintan dengan pendekatan yang ditetapkan, yaitu yang disebut pendekatn berbasis genre‖. Semoga guru tidak tersandung pada kedua batu itu, lalu asyik menjadi guru yang menjelaskan sesuatu‖ semoga guru tidak terpancing untuk berkutat pada urusan peristilahan, meyangkut tata bahasa ataupun penamaan teks-teks. Begitulah kritik disampaikan Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwo yang dimuat pada Koran Kompas tanggal 20 Maret 2013.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa kata kunci pada Kurikulum 2013 yaitu pendekatan genre, pendekatan saintifik, penilaian autentik, dan peserta didik adalah subjek. Pendekatan genre berhubungan dengan materi. Pendekatan saintifik berhubungan dengan proses pembelajaran. Dan penilaian autentik berhubungan dengan latihan dan evaluasi. Peserta didik adalah subjek. Ini artinya proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan pada siswa yang merupakan individu yang memiliki kompetensi. Dengan demikian proses pembelajaran bahasa pun menggunakan pendekatan berbasis genre.          Pendekatan genre memandang bahasa adalah sebuah teks. Salah satu genre teks adalah sastra. Dan tentu saja proses pembelajaran sastra menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik) dengan fokus peserta didik sebagai subjek. Hal ini bisa tercermin dalam Prawacana Pembelajaran Teks, Buku Guru Bahasa Indonesia kelas X, Kurikulum 2013 Kementrian pendidikan dan kebudayaan, berikut ini : Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena dalam bentuk bahasa yang digunakan itu tercermin ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia. Sehubungan dengan prinsip-12prinsip itu, perlu disadari bahwa di dalam setiap teks terdapat struktur tersendiri yang satu sama lain berbeda. Sementara itu, dalam struktur teks tercermin struktur berpikir.

Dengan demikian, makin banyak jenis teks yang dikuasai siswa, makin banyak pula struktur berpikir yang dapat digunakannya dalam kehidupan sosial dan Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan akademiknya nanti. Hanya dengan cara itu, siswa kemudian dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui kemampuan mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai. Proses pembelajaran sastra mengacu pada Kurikulum 2013 adalah peserta didik sebagai subjek..

Sebagai subjek, peserta didik harus mengalami sendiri proses membuat sastra. Sesuai dengan pendekatan dalam proses pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah, peserta didik membuat dan mencipta sastra melalui langkah-langkah metode ilmiah, mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan (mengkomunaksikan) hasil analisis secara memadai. Jenis sastra yang diambil adalah puisi.

Berikut langkah-langkah metode ilmiah membuat puisi.

Mengobservasi.                                                                                                                               Langkah pertama peserta didik mengobservasi objek yang menjadi tema puisi nantinya. Langkah observasi ini terdiri dari kegiatan mengumpulkan data, menjaring informasi, dan semua hal yang berhubungan dengan objek. Data-data dan informasi diusahakan sebanyak-banyaknya harus bisa didapat. Pengumpulan data ini bisa secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya peserta didik sendiri yang langsung terjun dan mencatatnya. Secara tidak langsung bisa melalui catatan atau pengalaman orang lain. Salah satu teknik pengumpulan data ini adalah wawancara. Menurut Iyus Rusliana, dkk. (2012:35) observasi merupakan langkah yang paling awal sebelum melakukan kegiatan secara praktis. Selanjutnya, beliau mengatakan kegiatan observasi menyangkut sumber yang dijadikan rujukan. Hal ini yang dimaksud adalah objek yang diteliti.

  1. Mempertanyakan                                                                                                                       Langkah berikutnya mempertanyakan data-data dan informasi yang sudah didapat. Pertanyaanpertanyaan ini bisa ‘seliar‘ mungkin sampai mendalam, sampai ke dasar filsafatnya. Apakah guna objek itu? Siapakah yang menggunakannya? Apakah objek itu baik atau buruk? Apakah makna objek itu bagi kehidupan? Bagaimana objek itu digunakan? Di manakah objek itu bisa dijumpai? Mengapa objek itu ada? Banyak sekali pertanyaan yang bisa dibuat untuk objek itu. Jumlah pertanyaan bisa tak terbatas. Tentu berikutnya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
  1. Mengasosiasikan                                                                                                                          Setelah mengunpulkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya, peserta didik menuju langkah berikutnya, yaitu mengasosiasikan. Mengasosiasikan adalah menghubungkan. Menguhubungkan dengan jawaban-jawaban itu satu dengan yang lainnya. Menghubungkan datadata yang satu dengan data-data yang lain. Menghubungkan data dengan informasi. Menghubungkan informasi dengan data. Menghubungkan pertanyaan satu dengan pertanyaan yang lain. Menghubungkan segala hal yang diperoleh dari jawaban dengan peristiwa, rumus, teori, dan kesimpulan dari pendapat-pendapat orang lain.
  1. Menganalisis

Proses berikutnya adalah menganalisis. Semua data yang terkumpul dan semua jawaban yang muncul, semua hasil hubungan-hubungan itu dianalisis. Proses analisis bisa memakai cara klarifikasi, katagori, sebab akibat, atau kausalitas. Bisa dilakukan dengan metode analisis isi, yaitu masalah-masalah dan pesan komunikasi dalam kehidupan manusia. Dalam karya sastra, pesan itu berhubungan dengan hakikat sastra (Nyoman Kutha Ratna. 2013 : 52). Tentu saja dalam menganalisis sesuai dengan ilmu sastra, khususnya puisi. Puisi adalah salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa, yakni dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin (Herman J. Waloyo, 1995:29). Dalam analisis teori, puisi ialah struktur batin dan struktur fisiknya atau unsur intrinsik puisi perlu diperhatikan dan digunakan dalam analisis. Kemudian, analisis-analisis itu dibuat kesimpulan.

  1. Menyajikan                                                                                                                                          Hasil analisis yang berupa kesimpulan itu, peserta didik menyajikan atau mengomunikasikannya. Hasil dari menyajikannya ini adalah berupa karya sastra atau puisi yang yang bertemakan objek yang dipilih tersebut. Implementasi Pendekatan Saintifik Pada Proses Penciptaan Puisi Proses ilmiah di atas, dipraktikkan dalam membuat jenis sastra puisi. Membuat puisi itu gampang-gampang susah. Susah kalau kita tidak mencoba melakukannya. Gampang kalau kita sering melakukannya. Peserta didik harus diyakinkan bahwa membuat puisi itu mudah. Kita menjelaskan metode ilmiah dengan bahasa sederhana kepada peserta didik, kemudian peserta didik dipersilakan memilih objek orang terdekat, yaitu ibu, bapak, adik kakak, pacar, sahabat, dan lain-lain. Dari pengalaman penulis, objek yang banyak dipilih menempati urutan pertama adalah pacar dan ibu. Sebagai contoh kita pilih objek ibu. Objek ini selanjutnya menjadi tema. Objek ibu selanjutnya menjadi bahan untuk penyelidikan melalui metode ilmiah. Pertama peserta didik mengobservasi objek ibu. Kegiatan mengobservasi ibu mencakup mengumpulkan data-data tentang ibu, menjaring informasi tentang ibu, dan semua hal yang berhubungan dengan objek ibu. Data-data dan informasi tentang ibu dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Pengumpulan data tentang ibu bisa secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya peserta didik sendiri yang langsung terjun mengamati dan mencatat objel ibu. Secara tidak langsung bisa melalui catatan atau pengalaman orang lain. Bisa juga peserta didik memakai teknik wawancara, baik wawancara langsung dengan objek ibu dan wawancara tidak langsung, yaitu mewawancarai adik atau kakak tentang bagaimana pendapat mereka terhadap ibu. Tentu saja otomatis peserta didik dalam mengobservasi atau berhubungan dengan objek ibu sudah dialaminya sejak dalam kadungan sampai sekarang. Akan tetapi, itu hanya dialami dan tidak disadari. Walaupun demikian, pengalaman hidup dengan objek ibu ini bisa menjadi data. Pengalaman itu tersimpan rapi dalam memori bawah sadar kita. Data yang tersimpan dalam memori bawah sadar ini bisa kita munculkan kembali dengan mengingat-ingatnya.                                                                                                                                      Langkah berikutnya mempertanyakan data-data dan informasi tentang ibu tersebut. Peserta didikmembuat pertanyaan-pertanyaan tentang ibu harus sampai mendalam ke akarnya, sampai ke dasarfilsafatnya. Apakah peran ibu itu? Siapakah ibu itu? Apakah ibuku itu baik atau buruk perangainya?

Apakah makna ibu itu bagi kehidupanku? Bagaimana ibu merawat dan membesarkanku? Di manakah ibu berada? Masih di alam duniakah atau di alam akhirat? Banyak sekali pertanyaan yang bisa dibuat untuk objek ibu itu. Jumlah pertanyaan bisa tak terbatas. Tentu berikutnya mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan itu. Setelah mengunpulkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya tentang ibu tersebut, peserta didik menuju langkah berikutnya, yaitu mengasosiasikan (menghubungkan) objek ibu. Menguhubungkan dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang objek ibu itu, satu dengan yang lainnya. Mengubungkan objek ibu dengan segala hal, baik peristiwa, benda-benda, rumus, kesimpulan dari pendapat-pendapat orang lain, dan sebagainya. Sebagai contoh ibu dihubungkan dngan matahari atau dihubungkan dengan tanah.                                                                                                                                                         Proses berikutnya adalah menganalisis objek ibu. Semua data yang terkumpul dan semua jawaban yang muncul, semua hasil hubungan-hubungan yang didapat tentang objek ibu itu dianalisis. Proses analisis bisa memakai cara klarifikasi, kategori, perbadingan, sebab akibat atau kausalitas, logika. Karena berbentuk sastra puisi, analisis juga memakai pisau bedah ilmu persajak, persamaan bunyi, gaya bahasa, diksi, dan lain-lain. Kemudian analisis-analisis itu dibuat kesimpulan.

Hasil analisis yang berupa kesimpulan itu, peserta didik mengomunikasikannya atau menyajikannya. Hasil dari menyajikannya ini adalah berupa puisi yang bertemakan objek ibu. Seperti contoh karya Dede Aris berjudul ―Ibu.‖ Dede Aris membuat kesimpulan tentang objek ibu bahwa peran seorang ibu dan jasa ibu tak bisa dibalas oleh harta kekayaan. Kasih sayang, kepatuhan, dan ucapan terima kasih anak adalah gambaran untuk membahagiakan ibu. Bahasa dan gaya bahasa yang digunakan cukup sederhana.

IBU Dede Aris Kau inspirasiku, inspirasi dalam hidupku  Tutur kata dan senyummu, jadi semangat hidupku                                                                                                                                   Ibu….. Kau lindungi aku saat panas. Kau payungi aku saat hujan Kau terangi aku saat gelap, kau peluk aku saat dingin

Ibu ….                                                                                                                                                                  Intan permata takkan bisa membalas jasa ibu terlalu banyak pengorbanan itu, terlalu besar sayang itu

Ibu…….                                                                                                                                                   Semoga kasih sayang aku ini, membawa damai untuk ibu Semoga kepatuhanku ini membawa bahagia untuk ibu                                                                                                                Terima kasih ibu                                                                                                                                                                Hanya itu yang bisa aku ucapkan Untuk membalas semua pengorbanan itu 2010                 Lain lagi dengan Erna Nurhasanah hasil dari proses metode ilmiah tentang objek ibu menyatakan bahwa ibu adalah tempat curhat, tempat mengadu, dan mengeluh anaknya. Ibu adalah tempat limpahan segala ucapan dan perbuatan anak. Erna Nurhasanah memanggil objek ibu dengan nama Ummi.‖ Setiap orang banyak cara untuk memanggil ibu. Setiap keluarga berbeda dalam cara memanggil ibu. Bergantung pada tradisi keluarga tersebut. Erna Nurhasanah memanggi ibu dengan kata: Ummi. Menurut Erna Nurhasanah, ibu adalah tempat curhat atau curahan hati. Apa saja yang dialami si anak diceritakan dan diadukan kepada ibu. Soal pelajaran, soal cinta, nonton film, dst. Dari masa kecil sampai dewasa. Penyampaian yang menarik ternyata ending pernyataannya si Ummi sudah meninggal dengan kalimat yang indah; Akan selalu kulakukan setiap mengecup nisanmu. Yang selalu terlihat indah di mataku. Dia tidak mengatakan mati atau meninggal objek ibu itu, tetapi tersirat dalam kata nisanmu. Inilah pernyataan Erna Nurhasanah tentang objek ibu.

UMMI. . . !

Erna Nurhasanah                                                                                                                                    Ummi ! . . .                                                                                                                                         Kata ibu guru, besok sekolahnya                                                                                                    Harus bawa bekal                                                                                                                                                Masak telur mata sapi kesukaanku ya . . .                                                                                          Ummi ! . . .                                                                                                                                                Boleh nanya sama ummi kan?                                                                                                         Kenapa kalau siang bulannya nggak ada?                                                                                                                                                               Ummi ! . . . maaf . . .

Jangan marah, aku tidak sengaja

Kalau aku besar nanti pasti aku ganti

Aku juga sudah berusaha memperbaiki, tapi susah ummi!                                                          Ummi ! . . .                                                                                                                                             Mana hadiahnya? Nilaiku nggak ada yang merahnya                                                                                                                                                     Kan Ummi sudah janji                                                                                                                           Ummi ! . . .                                                                                                                                                 Aku kan cuma jalan sebentar                                                                                                                Filmnya juga cocok untuk seumuranku.                                                                                       Ummi ! . . .                                                                                                                                              Ummi . . . aku malu                                                                                                                                  Tapi iya Ummi . . .                                                                                                                               Aku . . . jatuh cinta ummi . . .

Ummi ! . . .                                                                                                                                  Alhamdulillah ya . . . akhirnya aku punya dosen                                                                               Tapi Ummi . . . kenapa dia jahat?                                                                                           Menumpahkan tinta hitam di kertas berwarnaku                                                                          Ummi ! . . . Besok aku menikah Senyuman tulus                                                                           Tidak terbandingkan dengan manis madu sekalipun Kecupan hangat menyingkirkan gundah Bersamaan dengan butiran bening.                                                                                                                                                     Di ujung kelopak mata Terkatup . . . menemani desahan rasa

Seperti Ummi . . .                                                                                                                                 Akan selalu kulakukan setiap mengecup nisanmu

Yang selalu terlihat indah di mataku, Berbeda juga kesimpulan hasil analisis tentang objek ibu yang dilakukan Mutiara Milihandayani.

Ibu adalah idola dan pujaan.                                                                                                               Dengan gaya bahasa perbandingan, objek ibu dihubungkan dengan mutiara, sutera, dan embun. Ibu itu berguna sekali bagi kehidupan anak. Ini yang dirasakan sekali bagi Mutiara Milihandayani. Guna ibu sebagai penerang, penolong, penyemangat, dan penyejuk. Hampir mirip kesimpulan dengan Dede Aris bahwa membalas jasa ibu adalah membahagiakannya.

IBU…                                                                                                                                                              Mutiara Mili handayani                                                                                                                         Ibu, bagiku kau adalah malaikatku                                                                                                     Tiada mutiara sebening cintamu                                                                                                          Tiada sutera sehalus kasihmu                                                                                                               Dan tiada embun sesejuk ketulusanmu                                                                                         Kau penerangku di kala kegelapan                                                                                                     Kau penolongku di kala aku sulit                                                                                                          Kau penyemangatku di kala kelelahan                                                                                          Kau penyejukku di kala aku sakit1                                                                                        Terimakasih ibu atas semua jasamu                                                                                               Semoga aku dapat membahagiakanmu                                                                                               Aku akan mengejar cita-cita                                                                                                           Agar kau bahagia dan bangga.

Siti Nuraidah berbeda dalam bentuk penyampaian hasil penelitiannya. Serpertinya Siti Nuraidah adalah mahasiswa anak kost. Ia tinggal jauh dari ibunya. Rasa rindu pada ibunya dia deskripsikan dalam pernyataan yang indah dan mengharukan. Rasa romantisme, menghayati alam lingkungan menyatu dalam kerinduan pada objek ibu.

KERINDUANKU                                                                                                                                    Siti Nuraidah                                                                                                                              Lembayung menggantung di ujung senja                                                                                  Semburan merah jingganya merona di ufuk barat.                                                             Hembusan sejuk bertiup dari seketika,                                                                                     Menyusup gurat-gurat perih kerinduan                                                                                  Lembayung hilang.                                                                                                                        Tertawan gelap perlahan menyusup                                                                                             Dan, kerinduan, wahai kerinduan….                                                                                    Merasuki hati begitu dalam                                                                                                         Rindu akan bertangan selendang kasihnya                                                                                       Senyumnya merekah, sapa penuh kehangatan.                                                                      Begitu membahana hingga menembus lereng jiwaku.                                                                  Ia mengajariku, menjadi teladan dalam hidupku                                                               Menjadi inspirasi tercanggih, menuntun penuh cinta.                                                                Hidup semangat sepanjang masa                                                                                                    Sang penempuh gurun tandus, gerbang menuju Firdaus                                                               Wahai kau Bunda                                                                                                                               Terima, salam kerinduanku.                                                                                                         Begitulah membuat puisi dengan objek orang terdekat. Berikutnya bisa ditingkatkan pada objekyang jauh secara hubungan dengan peserta didik. Misalnya  pengemis, tukang parkir, pedagang sayur, dan lain-lain. Melalui metode yang sama seperti objek orang, peserta didik bisa menggunakan objek benda-benda. Dimulai dengan benda-benda yang terdekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Peserta didik dipersilakan memilih benda apa yang akan dijadikan objek. Peserta didik yang bernam Enci Herdiani memilih hp (handphone) sebagai objek. Setelah melalui metode ilmiah, Enci Herdiani membuat kesimpulan tentang apa itu hp sebagai berikut.

SEPARUH HIDUPKU                                                                                                                      Enci Herdiani                                                                                                                                         Oh ,,, Hp                                                                                                                                               Bila sehari tak menggenggammu.                                                                                             Jariku serasa lemas tak berdaya.                                                                                                         Oh ,,, Hp                                                                                                                                                Hanya kaulah yang setia mendampingiku1 .                                                                                Kau selalu ada di saat suka maupun duka.                                                                                          Oh ,,, Hp.                                                                                                                                        Hampa hari-hariku tanpamu                                                                                                      Serasa ada yang hilang bila ku tak bertemu                                                                                    Oh ,,, Hp                                                                                                                                         Kaulah separuh hidupku                                                                                                                    Ku tak bisa hidup tanpamu                                                                                                            Karena ku sudah terlalu bergantung padamu                                                                                                                                                       2010                                                                                                                                                          Puisi ‘Separuh Hidupku’‖ ini mendeskripsikan bagaimana manusia sudah bergantung pada sebuah benda, yaitu hp (handphone). Sebuah kritik pada manusia yang telah terjangkiti materialime, pemujaan benda-benda. Memang hp zaman sekarang sudah menjadi syarat wajib bagi manusia modern. Hampir setiap orang memilikinya. Hp tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, bahkan bisa menjadi gengsi dan prestise pemiliknya. Hp tidak hanya dapat digunakan untuk menelepon, mengirim sms, tetapi juga dapat digunakan untuk berinternet, foto, facebook, dan lain-lain.                                  Begitulah pengalaman penulis dalam proses pembelajaran sastra, khususnya puisi menggunakan pendekatan saintifik. Membuat puisi itu mudah, apalagi dengan memakai pendekatan ilmiah semakin mempermudah peserta didik. Pendekatan saintifik disederhanakan dalam penguntaian langkahlangkahnya tanpa mengurangi esensinya sehingga peserta didik bisa dengan mudah memahaminya. Membuat puisi itu mudah pertama-tama dimulai dengan objek (tema) orang terdekat dan benda-benda di sekitar kita. Semoga tulisan pendek ini bisa berguna bagi kita semua.

SUMBER PUSTAKA

Buku Guru Bahasa Indonesia kelas X, Kurikulum 2013 Kementrian pendidikan dan kebudayaan Rusliana, Iyus. 2012.

Metodologi Penciptaan Seni I. Bandung: Program Pascasarjana Penciptaan danPengkajian Seni STSI Bandung.

Mulyana, Yoyo & Agus Priyanto (Pengantar & Pengulas). 2012. Gerimis dan Matahari. Antologi Puisi

Angkatang 2010 PBS STKIP Siliwangi Bandung. Yogyakarta : Komunitas Kembang Merak.

Purwo, Bambang Kaswanti. 2013. Bagaimana Menyikapi Kurikulum 2013 Bahasa Indonesia. Kompas 20 Maret 2013.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Cet.12

Stanislavski. 2007. Persiapan Seorang Aktor. Terj. Asrul Sani. Jakarta: Sanggar Pelakon & Bastela Indah Prinindo. Cet. 2.

Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s